Dalam mengatur ketinggian Sloof pada sebuah Rumah atau Gedung, kita harus merencanakannya sebaik mungkin dengan mempertimbangkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi.

Oleh sebab itu, sebaiknya dibuat dulu Gambar Rencana-nya berupa Gambar Potongan Melintang, yang menyajikan semua informasi Elevasi (ketinggian) yang berkenaan dengan Sloof tersebut, seperti :
1.  Elevasi Permukaan Jalan didepan Rumah tersebut (elevasi As Jalan).
2.  Elevasi Lantai Rumah, sebaiknya elevasi-nya direncanakan berdasarkan elevasi As Jalan. 
3.  Elevasi Permukaan Tanah tempat Sloof tersebut akan dibuat (elevasi Muka Tanah).
4.  Space (jarak) yang dibutuhkan untuk Installasi Pipa (Plumbing) dibawah Lantai Rumah.

Pada contoh dibawah ini, tampak gambar Rencana elevasi Sloof yang dibuat diatas Pondasi Tapak pada sebuah Rumah. Ada 3 Alternatif elevasi Sloof pada Gambar dibawah ini, yaitu Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3. (klik pada gambar, untuk tampilan lebih besar).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQdaNVLwsHot_lUynM8uTKRjtEC_9BLaJb8x-CE2GWCogY6cZZWJSSdFgjfkuGxoIUHmv3lpuq11jjSuEcwJ_UUceFttwRvDaRan11VCbzdZ-DbOiRRi9F9N4otsT9CBj31PUToJC-vrc/s1600/123E+Cara+Hitung+Menghitung+Kebutuhan+Panjang+Besi+Stik+Ompak+Sumbu+Kolom+dibawah+Sloof+diatas+Pondasi.png
(Gambar 1., Gambar 2., dan Gambar 3.)
Keterangan :
Diketahui elevasi Muka Tanah = 5 cm di bawah permukaan As Jalan.
Direncanakan elevasi Lantai Rumah (keramik) = 50 cm di atas permukaan As Jalan.
Ukuran Penampang Sloof = 20 x 35, (lebar = 20 cm, tinggi = 35 cm).
Jika Top-Cor Sloof dibuat Rata dengan Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 1.
Jika Top-Cor Sloof dibuat 20cm diatas Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 2.
Jika Sloof dibuat duduk diatas Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 3.
(untuk lebih jelas, silahkan lihat uraian-nya dibawah ini)

Gambar 1 :  Top-Cor Sloof dibuat Rata dengan Muka Tanah :

Tampak pada Gambar dibawah ini, diperlukan pasangan Batubata, tinggi = 42cm + 13cm = 55cm untuk mencapai elevasi Lantai Rumah (Pasangan Batu NOL). Jika panjang pasangan Batubata = 100 meter, maka Volume Pasangan Batu NOL-nya = 55cm x 100m = 0,55m x 100m = 55 m2.


Gambar 2 :  Top-Cor Sloof dibuat 20 cm diatas Muka Tanah

Tampak pada Gambar dibawah ini, diperlukan pasangan Batubata, tinggi = 22cm + 13cm = 35cm untuk mencapai elevasi Lantai Rumah (Pasangan Batu NOL). Jika panjang pasangan Batubata = 100 meter, maka Volume Pasangan Batu NOL-nya = 35cm x 100m = 0,35m x 100m = 35 m2.


Gambar 3 :  Sloof Duduk diatas Muka Tanah

Tampak pada Gambar dibawah ini, diperlukan pasangan Batubata, tinggi = 7cm + 13cm = 20cm untuk mencapai elevasi Lantai Rumah (Pasangan Batu NOL). Jika panjang pasangan Batubata = 100 meter, maka Volume Pasangan Batu NOL-nya = 20cm x 100m = 0,2m x 100m = 20 m2.


Kesimpulan :
Semakin rendah elevasi Sloof pada sebuah Rumah, maka semakin besar Volume Pasangan Batu NOL-nya, (Batu NOL ini terletak dibawah Lantai Rumah). Untuk menghemat biaya, sebaiknya volume Pasangan Batu NOL ini diminimalisir dengan cara meninggikan elevasi Sloof tersebut semaksimal mungkin.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga bermanfaat.. Cara Menghitung Jumlah Batubata Permeter Persegi bisa dilihat DISINI..


Advertisement




Komentar :
Mungkin diantara kita sering melihat kejadian seperti ini, yaitu terjadinya Retakan (Celah) pada pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran disebelahnya. Seperti Gambar dibawah ini.

(Retak terjadi pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran)

Retak ini sebenarnya lumrah terjadi, penyebabnya karena 2 hal dibawah ini :

1.  Bahan Plesteran (Mortar yang terdiri dari Semen dan Pasir) bagaimanapun tidak akan bisa mengikat pada Kusen Kayu disebelahnya. Karena Semen yang biasa dipakai untuk Pasangan Bata dan Plesteran tidak memiliki karakteristik dapat merekatkan Pasir pada Kayu, tapi hanya bisa merekatkan sesama Material Pasir, Kerikil, Batubata, Batako, dan Produk lain yang terbuat dari Agregat.

2.  Retak terjadi karena adanya Penyusutan Volume pada Plesteran dan Kusen Kayu, sehingga Plesteran dan Kusen Kayu menjadi terpisah dan timbul celah diantaranya. Celah ini yang biasa kita sebut dengan Retakan.

Catatan:
Semakin besar Penyusutan Volume pada Kusen Kayu dan Plesteran, maka semakin besar pula Retakan (Celah) yang timbul, demikian pula sebaliknya.

Penyusutan Volume pada Kusen Kayu dan Plesteran ini juga lumrah terjadi, karena :

1.  Plesteran terdiri dari campuran Semen, Pasir, dan Air, yang dalam keadaan basah disebut Mortar. Setelah Mortar diaplikasikan menjadi sebuah Plesteran dan mengering, Kadar Air didalam Mortar akan hilang. Hal ini-lah yang membuat terjadinya Penyusutan Volume pada Plesteran tersebut. Semakin kering Plesteran tersebut, maka semakin besar Penyusutan yang terjadi. 

2.  Dalam pembuatan Kusen Kayu, bisa saja Produsen menggunakan bahan baku Kayu yang masih memiliki Kadar Air. Semakin tinggi Kadar Air awal bahan baku-nya, maka akan semakin tinggi pula Penyusutan Volume yang dialami Kusen Kayu tersebut nanti (setelah dipergunakan).

3.  Walaupun Kusen dibuat menggunakan bahan baku Kayu yang telah di-oven untuk menghilangkan Kadar Air-nya, belum tentu Kadar Air tersebut hilang seluruhya (hilang 100 %). Mungkin masih tersisa Kadar Air beberapa persen, yang akan benar-benar hilang setelah sekian lama terpasang pada Rumah.

Catatan:
Penyusutan terjadi karena berkurangnya Kadar Air, dan akan lebih besar terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang sering mendapat Sinar Matahari langsung, dan lebih kecil terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang tidak terkena Sinar Matahari langsung.

Apa dampak terjadinya Retak ini pada Rumah..? dan Bagaimana Cara Memperbaikinya..? Bisa dilihat DISINI.

Semoga tulisan ini bermanfaat..


Advertisement




Komentar :
Pada Rumah yang menggunakan Kusen Pintu dan Jendela yang terbuat dari Kayu, mungkin kita pernah melihat Plesteran di bagian tepi Kusen merenggang dari Kusen-nya, seperti membentuk sebuah retakan.

Jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian dalam Rumah, hal ini tidak begitu berdampak buruk. Namun jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian Dinding Luar rumah (yang akan terkena Air Hujan), maka hal bisa memiliki dampak lain, seperti terlihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 1. Celah Retak - pada Dinding Luar Rumah )

Kondisi Celah (Retak) seperti Gambar 1, akan menyebabkan Air Hujan bisa masuk melalui Celah tersebut ke bagian dalam Dinding Rumah, seperti Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2. Air Hujan Masuk ke Dinding dalam Rumah

Pada Gambar 2 jelas terlihat, terjadi kerusakan pada Cat Dinding dalam rumah. Hal ini disebabkan karena Air Hujan masuk dari Dinding Luar Rumah, yaitu melalui Celah Retak tersebut, lalu merusak Cat Dinding bagian dalam rumah. Bahkan bisa saja Air ini mengalir masuk kedalam Rumah, jika jumlahnya banyak.

Tentu saja Kondisi Dinding dalam Rumah seperti Gambar 2 diatas sangat tidak kita inginkan terjadi pada dinding Rumah kita. 

Cara Memperbaiki-nya adalah sebagai berikut :

1.  Perbesar terlebih dahulu Celah (Retak) Plesteran disekeliling Kusen Kayu pada Gambar 1 diatas, dengan menggunakan Pahat Batu. Dengan ukuran Lebar dan Dalam kira-kira = 0,5cm sampai 1cm. Lalu bersihkan Sisa Debu pada lubang dengan menggunakan Kuas. Seperti Gambar 3 dibawah ini.

2.  Pasang Kertas Lem pada bagian tepi Kusen Kayu, untuk melindungi Cat Kusen tersebut pada saat Pemberian Sealant. Menjadi seperti Gambar 3 dibawah ini.

(Gambar 3. Celah Retak pada Dinding Luar rumah yang telah dilebarkan)

3.  Persiapkan Sealant yang akan digunakan untuk mengisi Celah Retak yang telah dipahat tersebut. Sealant ini harus memiliki karakteristik "dapat merekat erat pada Kayu sekaligus pada Plesteran, dan material Sealant tersebut harus bisa di-cat".
Bisa menggunakan Sikaflex-11C atau Sikaflex-Construction, seperti Gambar 4 dibawah ini. 

(Gambar 4. Contoh Sealant yang dapat Merekat pada Permukaan Kayu dan Plesteran)

4.  Aplikasi-kan Sealant tersebut dengan menggunakan bantuan Sealant-Gun pada semua Celah Retak yang telah dilebarkan tersebut, seperti Gambar 5 dibawah ini. 

(Gambar 5. Pemberian Sealant pada Celah Retak yang telah dilebarkan)

5.  Rapikan semua Sealant agar rata dengan permukaan Dinding, dengan menggunakan Kape (Sekrap). Seperti Gambar 6 dibawah ini.

(Gambar 6. Sealant telah dirapikan dengan Kape atau Sekrap)

6.  Setelah semua permukaan Sealant rapi, segera lepaskan semua Kertas Lem yang menempel pada Kusen Kayu tersebut, sebelum Sealant tersebut kering. Kertas Lem akan lebih mudah dilepas, jika Sealant masih dalam keadaan Basah atau Setengah Kering.

7.  Tunggu beberapa Jam hingga Sealant benar-benar kering. Lalu lakukan Pengecatan agar dinding tersebut kembali rapi seperti semula. Seperti Gambar 7 dan Gambar 8 dibawah ini.

(Gambar 7 dan Gambar 8)

8.  Selesai..

Demikian tulisan kali ini.. Semoga bermanfaat.. Apa yang menyebabkan terjadinya Retak pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran..? Bisa dilihat DISINI..


Advertisement




Komentar :
Pada tulisan saya sebelumnya Cara Hitung Kebutuhan Jumlah Batubata pada sebuah Rumah, telah diketahui volume Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = 150,26 m2, dan jumlah Batubata yang diperlukan = 10.067 buah, pada Rumah seperti Gambar 1 dibawah ini. Cara lengkap perhitungannya bisa dilihat DISINI.

(Gambar 1)

Pada kesempatan kali ini saya akan menghitung Jumlah Semen dan Pasir Pasang yang diperlukan untuk Pemasangan Dinding Bata tersebut, dan Jumlah Semen dan Pasir Pasang yang diperlukan untuk Pleseteran Dinding Bata tersebut.

Perhitungan Jumlah Semen dan Pasir Pasang untuk Pemasangan Dinding Bata :

Perhitungan dilakukan berdasarkan tabel Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang berlaku, misalnya seperti Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2. AHSP A.4.4.1.9 - Pemasangan 1 m2 Dinding Bata tebal 1/2 batu Campuran 1:4)

Dengan adanya tabel AHSP diatas, perhitungan kebutuhan jumlah Semen dan Pasir Pasang bisa dilakukan dengan mudah. Yaitu dengan mengalikan jumlah Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = 150,26 m2 dengan Koefisien Semen dan Pasir Pasang yang tertera pada tabel Gambar 2 diatas.

Semen yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 11,5 kg/m2
Semen yang dibutuhkan = 1727,99 kg
Semen yang dibutuhkan = 34,56 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 50 kg/sak)
Semen yang dibutuhkan = 43,20 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 40 kg/sak)

Pasir yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 0,043 m3/m2
Pasir yang dibutuhkan = 6,46 m3.

Perhitungan Jumlah Semen dan Pasir Pasang untuk Plesteran :

Perhitungan dilakukan berdasarkan tabel Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang berlaku, misalnya seperti Gambar 3 dibawah ini.

(Gambar 3. AHSP A.4.4.2.4 - Pemasangan 1 m2 Plesteran Campuran 1:4)

Dengan adanya tabel AHSP diatas, perhitungan kebutuhan jumlah Semen dan Pasir Pasang bisa dilakukan dengan mudah. Yaitu dengan mengalikan jumlah Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = 150,26 m2 dengan Koefisien Semen dan Pasir Pasang yang tertera pada tabel Gambar 3 tersebut.

Semen yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 6,24 kg/m2
Semen yang dibutuhkan = 937,62 kg
Semen yang dibutuhkan = 18,75 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 50 kg/sak)
Semen yang dibutuhkan = 23,44 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 40 kg/sak)

Pasir yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 0,024 m3/m2
Pasir yang dibutuhkan = 3,61 m3.

Perhitungan kebutuhan Semen dan Pasir pada 2 Jenis Pekerjaan ini selesai.. semoga bermanfaat..


Advertisement




Komentar :
Saat membuat Time Schedule dan Kurva S, kita harus merencanakan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan (Durasi Pekerjaan) dari semua Item Pekerjaan yang ada. Informasi Durasi Pekerjaan ini disajikan dalam bentuk Bar-Chart (grafik batang), seperti Gambar 1 dibawah ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3UZ1S8jOe3hz162jvJR-HEU5-KNltJdIKxyPmAt4UxXhw-UuF31Wmwy2Yx-VUo7-9A6I83R0gMPu2NGI0hY-Sr5NikD58x6ifefSlNuJU0OTdP0NUD4Kwgg7PxaTFa21f2KcyxU9iOPU/s1600/9+Analisa+Pemasangan+1+m2+Dinding+Bata+Merah+tebal+setengah+Batu+Campuran+1+banding+4.jpg
(Gambar 1: Time Schedule dan Kurva S)

Bar-Chart pada Gambar 1 diatas menunjukkan bahwa Durasi Pekerjaan Dinding Bata adalah = 4 minggu. Dari mana datangnya Durasi = 4 minggu ini..? Silahkan lanjutkan membaca tulisan dibawah ini..

Sebelum melakukan perhitungan Durasi, lihat dulu RAB-nya, pekerjaan apa saja yang termasuk dalam Pekerjaan Dinding Bata tersebut dan berapa Volume-nya. Seperti terlihat pada Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2: Pekerjaan Dinding Bata pada RAB)

Terlihat pada Gambar 2 diatas, ada 2 Item Pekerjaan yang termasuk dalam Pekerjaan Dinding Bata tersebut, yaitu: Pekerjaan Pasangan Dinding 1/2 Bata Campuran 1:4 (volume = 150,26 m2), dan Pekerjaan Plesteran dan Aci Campuran 1:4 (volume = 284,34 m2).

1.  Menghitung Durasi Pekerjaan Pemasangan Dinding 1/2 Bata :

a.  Berdasarkan data Analisis Harga Satuan (AHSP) untuk pekerjaan "Pemasangan 1 m2 Dinding 1/2 Batu campuran 1SP : 4PP" pada Gambar 3 dibawah ini, bisa dihitung berapa hari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Pekerjaan tersebut. (Keterangan: OH = Orang Hari).

(Gambar 3: AHSP No. A.4.4.1.9 - Tenaga dan Bahan)

Dari Gambar 3 AHSP diatas, bisa dilihat bahwa untuk menyelesaikan pekerjaan Pemasangan 1 m2 Dinding 1/2 Batu, koefisien Tukang Batu-nya = 0,1 OH. Ini artinya: 1 orang Tukang Batu harus bisa menyelesaikan minimal = (1 : 0,1) = 10 m2 Pasangan Dinding 1/2 Batu dalam 1 hari.

b.  Jika pekerjaan ini dilaksanakan oleh 2 orang Tukang Batu, maka :
Durasi-nya = 150,26 m2 : (10 m2 x 2 orang) = 7,5 hari. Direncanakan selesai = 7 hari.

2.  Menghitung Durasi Pekerjaan Plesteran :

a.  Berdasarkan data Analisis Harga Satuan (AHSP) untuk pekerjaan "Pemasangan 1 m2 Plesteran campuran 1SP : 4PP tebal 15 mm" pada Gambar 4 dibawah ini, bisa dihitung berapa hari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Pekerjaan tersebut. (Keterangan: OH = Orang Hari)..

(Gambar 4: AHSP No. A.4.4.2.4 - Tenaga dan Bahan)

Dari Gambar 4 AHSP diatas, bisa dilihat bahwa untuk menyelesaikan pekerjaan Pemasangan 1 m2 Plesteran, koefisien Tukang Batu-nya = 0,15 OH. Ini artinya: 1 orang Tukang Batu harus bisa menyelesaikan minimal = (1 : 0,15) = 6,67 m2 Plesteran dalam 1 hari.

b.   Jika pekerjaan ini direncanakan akan dilaksanakan oleh 2 orang Tukang Batu, maka :
Durasi-nya = 284,34 m2 : (6,67 m2 x 2 orang) = 21,3 hari. Direncanakan selesai = 21 hari.

3.  Penjumlahan dan Kesimpulan :

a.  Dari ke-2 Perhitungan diatas, diperoleh Durasi = 7 hari + 21 hari = 28 hari = 4 minggu.
b.  Selanjutnya buat Bar-Chart pada Time Schedule selama = 4 minggu, seperti Gambar 1 diatas.
c.  Jika jumlah Tukang Batu ditambah menjadi 3 atau 4 orang, pelaksanaan menjadi semakin cepat selesai.

Semoga tulisan ini berguna..


Advertisement




Komentar :
Ada 4 Data yang perlu diketahui untuk dapat melakukan Perhitungan jumlah Batu bata pada sebuah Rumah, yaitu:

1.  Harus diketahui Gambar Denah Lantai dan Denah Kusen Rumah tersebut, yang menyajikan data Ukuran semua ruangan dan Jumlah Kusen Pintu dan Jendela. Seperti terlihat pada Gambar 1 dibawah ini.

(Gambar 1)

2.  Harus diketahui Ukuran Kusen Pintu dan Jendela yang akan dipasang semua Dinding Rumah tersebut, seperti terlihat pada Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2)

3.  Harus diketahui Tinggi Batu NOL BANGUNAN, seperti terlihat pada Contoh Gambar 3 dibawah ini.
Pada Gambar 3 dibawah ini terlihat bahwa Tinggi Rencana Lantai Rumah dari Muka Jalan adalah = 65 cm, sedangkan Tinggi bagian Atas Permukaan Sloof dari Muka Jalan adalah = 20 cm, sehingga perlu dilakukan pemasangan Batu Nol Bangunan = 45 cm.

Pemasangan Batu Nol Bangunan tidak harus selalu ada pada Pembangunan sebuah Rumah. Hal ini tergantung pada Ketinggian Muka Tanah Rumah tersebut dari Muka Jalan, dan Jenis dan Ukuran Pondasi Menerus yang diterapkan pada pembangunan Rumah tersebut.

(Gambar 3: Tampak Samping,Tinggi Batu Nol = 45 cm)

4.  Harus diketahui Tinggi Bata (Tinggi Pasangan Bata Dinding Rumah), seperti terlihat pada Gambar 4 dibawah ini. Tinggi Bata = 380 cm.

(Gambar 4: Tampak Samping, Tinggi Dinding Bata = 380 cm)

Setelah ke-4 Data diatas kita ketahui, selanjutnya kita dapat Menghitung Kebutuhan Jumlah Batubata untuk dipasang sebagai Dinding pada Rumah tersebut.


Perhitungan Jumlah Batubata:

A.  Lakukan Perhitungan Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = A (meter-persegi) 

1.  Panjang semua Dinding yang akan dipasang Batubata = L (meter)
L  =  Lvertikal + LhorizontalL  =  (7,5 + 1,5 + 7,5 + 7) + (6 + 1,9 + 1,9 + 6)
L  =  23,5 + 15,8
L  =  39,3 meter.


2.  Luas Pasangan Batubata untuk Nol Bangunan = A1 (meter-persegi)
A1  =  L x Tinggi (Pasangan Batu Nol)
A1  =  39,3 x 0,45
A1  =  17,685 m2 


3.  Luas Dinding Bata, termasuk Kolom Praktis dan Area Kusen Pintu dan Jendela = A2 (meter-persegi)
A2  =  L x Tinggi (Pasangan Batu Dinding Rumah)
A2  =  39,3 x 3,8
A2  =  149,34 m2 


4.  Luas Area Pintu dan Jendela yang tidak dipasang Batubata = A3 (meter-persegi)
Luas Area Pintu tipe P1 = 1 x 2,6 x 1 unit = 2,6 m2
Luas Area Pintu tipe P2 = 0,9 x 2,6 x 3 unit = 7,02 m2
Luas Area Pintu tipe P3 = 0,7 x 2 x 1 unit = 1,4 m2
Luas Area Jendela tipe J1 = 1,15 x 1,3 x 3 unit = 4,485 m2
Luas Area Jendela tipe J2 = 1,15 x 1,1 x 1 unit = 1,265 m2  
A3  =  2,6 + 7,02 + 1,4 + 4,485 + 1,265
A3  =  16,77 m2

5.  Luas Area Kolom Praktis pada Perhitungan ini diasumsikan = 0, karena nilainya kecil.

6.  Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = A (meter-persegi)
A  =  A1 + A2 - A3
A  =  17,685 + 149,34 - 16,77
A  =  150,255 m2

B.  Lakukan Perhitungan Jumlah Batubata = n (buah)

n  =  A x K 

Keterangan:
K adalah Koefisien, yaitu Jumlah Batubata yang dibutuhkan untuk memasang dinding seluas 1 meter-persegi.
Nilainya bisa bervariasi, tergantung dari ukuran Dimensi Batubata tersebut. Untuk mengetahui Nilai K ini, bisa dilihat pada tulisan saya sebelumnya DISINI, "Cara Menghitung Kebutuhan Jumlah Batubata Per-Meter Persegi".

Lanjutkan Perhitungan.., misalnya diketahui nilai K = 67 buah/m2
Maka, n  =  150,255 x 67 = 10.067 buah

Contoh Perhitungan selesai.. Untuk menghitung jumlah Semen dan Pasir yang dibutuhkan bisa dilihat DISINI.. Semoga tulisan ini berguna..


Advertisement




Komentar :
Seiring dengan waktu, Cat Dinding rumah suatu saat akan rusak, kotor, luntur warnanya, berjamur, bahkan bisa juga terkupas (lepas), baik secara keseluruhan atau sebagian. Tentu saja hal ini memberi kesan yang kurang rapi dan tidak enak dipandang mata.

Solusi untuk memperbaiki ini adalah dengan cara melakukan Pengecatan Ulang, supaya dinding rumah kita kembali rapi dan indah. Retak rambut yang telah seattle, yang terjadi pada plesteran dinding juga dapat teratasi dengan cara Pengecatan Ulang ini.

Biasanya kondisi kerusakan Cat Dinding lama berbeda-beda, secara pribadi saya dapat membaginya atas 4 kategori, yaitu :
a.  Cat Dinding yang mengalami kerusakan Ringan,
b.  Cat Dinding yang mengalami kerusakan Sedang,
c.  Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Berat.
d.  Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Sangat Berat.

A.  Cat Dinding dengan tingkat kerusakan Ringan

Contohnya : Hanya terjadi Perubahan Warna dan Kusam, timbul Retak Rambut pada plesteran, dan munculnya Debu Cat akibat kelembaban dinding. Namun secara keseluruhan Cat Lama tersebut tetap mengikat erat dan tidak ada yang terkelupas.


Cara Memperbaikinya :

1.  Bersihkan semua Cat Lama pada dinding tersebut dengan Kain Lap (bila perlu dengan Kertas Pasir halus), sehingga bersih dari debu dan kotoran yang menempel.
2.  Setelah bersih dari debu dan kotoran, cat Dinding tersebut dengan Sealer, disarankan gunakan Sealer dengan merk vendor yang sama dengan Cat Dinding Lama tersebut, karena hasilnya akan lebih cocok dan lebih kuat 'mengikat'. Atau gunakan Sealer yang bermutu baik lainnya.
3.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tadi.

B.  Cat Dinding dengan tingkat kerusakan Sedang

Contohnya : Terjadi Pengelupasan dan Gembung Udara pada Cat Dinding Lama tersebut, dengan persentase Luasan yang tidak terlalu banyak, kira-kira 5% - 20% saja dari seluruh luasan dinding, sedangkan 80% - 95% berada dalam kondisi yang baik.


Cara Memperbaikinya :

1.  Lakukan Pengupasan pada bagian Cat Lama yang terkupas dan ada gembung udara tersebut, dengan menggunakan Sekrap (kape). Pastikan pekerjaan ini berlangsung dengan baik.
2.  Gosok bagian Cat Lama yang terkupas tersebut dengan Kertas Pasir halus, dan bersihkan dengan Kain Lap sehingga bersih dari debu dan kotoran yang menempel.
3.  Dempul bagian yang terkupas dengan Tepung Dempul Dinding (wall putty) yang berkualitas, sehingga Permukaan dinding menjadi rata. Biarkan kering, minimal 24 jam.
4.  Keesokannya, gosok semua dempulan dengan Kertas Pasir halus, lalu bersihkan debunya dengan Kain Lap.
5.  Setelah bersih dari debu, cat Dinding tersebut dengan Sealer, disarankan gunakan Sealer dengan merk vendor yang sama dengan Cat Dinding Lama tersebut, karena hasilnya akan lebih cocok dan lebih kuat 'mengikat'. Atau gunakan Sealer yang bermutu baik lainnya.
6.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tadi.

Lihat juga Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Berat dan Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Sangat Berat.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Metode kerja Plesteran Dinding yang biasa dilakukan di Proyek Sipil ada 3 macam, yaitu:

a.  Dinding Bata langsung diplester tanpa ada Kepala Plesteran, hanya mengandalkan Kayu/Alumanium sebagai alat untuk meratakan plesteran tersebut. Kemudian langsung diaci pada saat kondisi plesteran masih Basah / Setengah Kering.

b.  Dinding Bata terlebih dahulu dibuat Kepala Plesteran, kemudian dinding diplester dengan acuan Kepala Plesteran tadi, selanjutnya langsung diaci pada saat kondisi plesteran masih Basah / Setengah Kering.

c.  Dinding Bata terlebih dahulu dibuat Kepala Plesteran, kemudian dinding diplester dengan acuan Kepala Plesteran tadi, selanjutnya plesteran tidak langsung diaci. Setelah beberapa hari baru diaci. Sistem ini yang di lapangan dikenal dengan Cara Plester Aci-Kering.

Teknis kerja Plesteran Dinding dengan Cara Aci Kering adalah sebagai berikut:

1.  Misalkan contoh dinding pasangan bata yang hendak diplester seperti gambar dibawah ini
 

2. Buat Benang Acuan untuk mendapatkan kerataan pada seluruh bidang Permukaan Dinding Batubata. Gunakan Lot/Bandul/Unting-unting, Paku, dan Benang untuk mendapatkan Rata Vertikal, lalu hubungkan Kedua Benang Vertikal tersebut untuk mendapatkan Rata Horizontal. Sehingga tercipta Benang Acuan yang benar-benar rata terhadap semua Dinding Bata tersebut. Beri Tanda dengan Paku untuk menentukan Ketebalan Plesteran pada titik-titik yang diperlukan.


3.  Buat Kepala Plesteran menggunakan Adukan Mortar (Semen dan Pasir) secara Vertikal, dengan perpedoman pada Benang dan Paku Rata Vertikal tadi. Seperti Gambar dibawah. Kepala Plesteran harus dibuat serata mungkin, karena berfungsi sebagai Pedoman (Rel) dalam melakukan Plesteran nantinya.


4.  Lakukan pekerjaan Plesteran, seperti terlihat pada Gambar dibawah, dengan bantuan Kayu Keras yang benar-benar Lurus atau menggunakan Profil Holo Alumanium. Disini Rel Kepala Plesteran menjadi Pedoman untuk membuat Plesteran menjadi benar-benar Rata. Setelah selesai proses plesteran. biarkan beberapa hari hingga Plesteran benar-benar kering.


5.  Setelah Plesteran benar-benar Kering, barulah kita lakukan Pekerjaan Acian. Yaitu melapisi dinding Plesteran yang masih Kasar dengan Adukan Acian (Semen dan Air), sehingga plesteran menjadi Halus.


Demikian tulisan saya kali ini tentang Teknis Pelaksanaan Plesteran Dinding dengan Metoda Aci Kering. Semoga Artikel ini berguna.

Lihat juga Artikel lainnya Apa saja Penyebab Plesteran Dinding Rumah Retak.

Advertisement




Komentar :

Faktor penyebab terjadinya retak pada Plesteran Dinding antara lain adalah:

A.  Terjadi Penurunan Pondasi yang cukup Signifikan

Jika hal ini terjadi, jangankan Plesteran, Pasangan Dinding Bata-pun bisa rusak (retak). Retak yang terjadi pada Dinding Bata ini biasanya dibarengi dengan retaknya Plesteran. Bahkan Retak tersebut biasanya lebih lebar dan ekstrim, karena terjadinya Penurunan Pondasi (sebagai dudukan Dinding Bata) yang signifikan.

Oleh sebab itu, Kekuatan Pondasi (baik Pondasi Setempat atau Pondasi Menerus) sebagai tempat dipasangnya Dinding Bata dan Plesteran, harus benar-benar mampu mendukung semua Beban diatasnya.

B.  Kualitas Bahan  dan Campuran Mortar

1.  Jenis Pasir yang Kurang Baik, misalnya Pasir terlalu banyak mengandung Tanah atau Lumpur.
Berdasarkan SK SNI S-04-1998-F, Kadar Lumpur maksimum yang diijinkan pada Pasir adalah 5%. Cara Menguji dan Mengetahui jumlah Kadar Lumpur pada Pasir bisa dilihat DISINI..

2.  Kualitas Air Pencampur yang tidak baik, mengandung banyak kotoran Lumpur atau Bahan Organik, bisa juga karena Air yang digunakan untuk Campuran Mortar mengandung Bahan Kimia atau Senyawa yang bisa memperburuk proses pengikatan antara Semen dan Pasir (Mortar) yang akan digunakan untuk Pleseteran Dinding tersebut.

3.  Campuran adukan Semen dan Pasir (Mortar) yang tidak Homogen atau tidak Merata, sehingga ada/banyak butir pasir yang tidak diselimuti oleh Pasta Semen, sehingga terjadi Retakan pada Pleseteran.

4.  Mortar yang terlalu banyak Pasir dan Kurang Semen, sehingga sama kejadiannya seperti No. 3 diatas, yaitu Semua Butiran Pasir pada Mortar tidak dapat diselimuti oleh Pasta Semen dangan baik dan cukup.

5.  Mortar yang terlalu banyak Semen dan Kurang Pasir. Semen yang terlalu banyak (pada Mortar) juga bisa menimbulkan Retak pada Plesteran. Karena Nilai Susut Material Semen itu sendiri nilainya Cukup Besar.

C.  Teknis Kerja dan Faktor Lain

1.  Teknik pengerjaan yang kurang baik, yaitu Pleseran yang kurang Padat dan masih berongga (pada sisi dalamnya). Ini bisa terjadi karena Kurangnya Tekanan (pada Mortar) pada saat pelaksanaan Pekerjaan Plesteran.

2.  Pengeringan Mortar Plesteran yang terlalu cepat. Hal ini bisa karena Cuaca yang terlalu Panas pada saat Pekerjaan Plesteran tersebut. Bisa juga karena Penyerapan Air Mortar oleh Batubata atau Batako (bahan Dinding) yang terlalu cepat, sehingga Mortar kering terlalu cepat. Jadi sebaiknya Dinding Batubata atau Batako disiram terlebih dahulu sebelum diplester.

3.  Adanya Perbedaan Ketebalan plesteran yang Cukup Besar, sehingga besarnya Penyusutan Mortar pada satu bidang dinding plesteran menjadi tidak sama.

4.  Acian yang terlalu Tebal. Pada plesteran sistem Aci - Kering (di Aci setelah Plesteran kering), sebaiknya tebal Acian tidak terlalu besar, karena hal ini bisa mengakibatkan Retak pada Acian tersebut.

5.  Plesteran Baru disamping Plesteran Lama. Jika kita melakukan "penyambungan plesteran" disamping dinding yang telah diplester sebelumnya (dengan Beda Waktu lebih dari 28 hari), maka Hal ini bisa menyebabkan Retakan pada "sambungan" Plesteran tersebut. Karena Pleseteran Lama itu cenderung telah Statis (tidak mengalami Penyusutan lagi), sementara Plesteran Baru yang kita kerjakan tentu saja akan mengalami Penyusutan.


Advertisement




Komentar :
Tentu saja kita menginginkan Mutu yang Baik pada Konstruksi Beton dan Plesteran bagi dinding Rumah kita. Untuk mendapatkan Mutu yang Baik tersebut, tentu saja kita harus menggunakan Material yang baik pula. Baik dari segi mutunya dan tepat penggunaannya.

Pasir yang digunakan dalam pembangunan Rumah dan Gedung, berdasarkan Guna-nya bisa dibagi atas 3 macam, yaitu:
1.  Pasir Pasang, yaitu Jenis Pasir yang biasa digunakan untuk Pemasangan Dinding Batubata/Batako, dan untuk pekerjaan Plesteran pada dinding tersebut.
2.  Pasir Cor, yaitu Jenis Pasir yang biasa dan baik digunakan untuk Pekerjaan Cor Beton, misalnya: Cor Sloof, Kolom, Balok, Plat Lantai Beton, dan lain-lain.
3.  Pasir Urug, yaitu Jenis Pasir yang hanya cocok dipakai untuk Pekerjaan Pengurukan (Urug), karena memiliki Gradasi yang bervariasi dan bercampur dengan Tanah/Lumpur dalam jumlah yang relatif banyak. Urukan ini bisa untuk menambah ketinggian Lantai Rumah dan Bangunan, dan sebagainya.
Persyaratan Pasir (Agregat Halus) yang baik sebagai Bahan Bangunan menurut Standar Nasional Indonesia (SKSNI-S-04-1989-F:28), adalah sebagai berikut:
1.  Agregat Halus harus terdiri dari butiran yang tajam dan keras dengan indeks kekerasan < 2,2.

2.  Sifat kekal apabila diuji dengan larutan jenuh Natrium Sufat bagian hancurnya maksimal 12%, dan jika diuji dengan larutan Magnesium Sulfat bagian hancurnya maksimal 10%.

3.  Tidak boleh mengandung Lumpur lebih dari 5%, apabila Pasir mengandung Lumpur lebih dari 5% maka pasir harus dicuci. [Catatan: Ini juga tercantum pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971].

4.  Pasir tidak boleh mengadung Bahan-bahan Organik terlalu banyak, yang harus dibuktikan dengan Percobaan Warna dari Abrans–Harder dengan larutan jenuh NaOH 3%.

5.  Susunan Besar Butir Pasir mempunyai modulus kehalusan antara 1,5 sampai 3,8 dan terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam.

6.  Untuk beton dengan tingkat keawetan yang tinggi, reaksi pasir terhadap Alkali harus Negatif.

7.  Pasir Laut tidak boleh digunakan sebagai Agregat Halus untuk semua Mutu Beton, kecuali dengan petunjuk dari Lembaga Pemerintahan Bahan Bangunan yang diakui.

8.  Agreagat halus yang digunakan untuk Plesteran dan Spesi Terapan harus memenuhi persyaratan pasir pasangan.

9.  Masih berada dalam Syarat Batas Gradasi Pasir yang Baik menurut SNI, seperti terlihat pada Gambar dibawah.

Advertisement




Komentar :
Mungkin kita pernah melihat ada Rumah atau Gedung yang Plesterannya retak, Dindingnya retak, bahkan Struktur Betonnya (Kolom dan Balok) yang retak/rusak. Hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor, namun pada postingan kali ini saya tidak membahas Penyebab terjadinya kerusakan tersebut. Pada Postingan kali ini memaparkan Jenis dan Kategori Kerusakan yang terjadi pada Bangunan Rumah dan Gedung.

Pada dasarnya Bangunan Rumah dan Gedung terdiri atas 2 komponen, yaitu:
1.  Struktur, contohnya: Struktur Pondasi, Struktur Kolom, Struktur Balok, Struktur Plat Lantai.
2.  Non-Struktur, contohnya: Pasangan Dinding Bata, Plesteran Dinding.

Jenis Kategori Kerusakan yang terjadi pada Rumah dan Gedung antara lain:

a.  Kerusakan Ringan Non-Struktur
Suatu bangunan dikategorikan mengalami Kerusakan Non-Struktur apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:
  • Retak halus (lebar celah lebih kecil dari 0,075 cm) pada plesteran.
  • Serpihan plesteran berjatuhan.
  • Mencakup Luas yang terbatas.
Tindakan yang perlu dilakukan adalah perbaikan (repair) secara arsitektur tanpa mengosongkan bangunan.

b.  Kerusakan Ringan Struktur
Suatu bangunan dikategorikan mengalami Kerusakan Struktur Ringan apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:

  • Retak kecil (lebar celah antara 0,075 hingga 0,6 cm) pada dinding.
  • Plester berjatuhan.
  • Mencakup luas yang besar.
  • Kerusakan bagian-bagian nonstruktur seperti cerobong, lisplang, dsb.
  • Kemampuan struktur untuk memikul beban tidak banyak berkurang.
  • Laik fungsi/huni.
Tindakan yang perlu dilakukan adalah perbaikan (repair) yang bersifat arsitektur agar daya tahan bangunan tetap terpelihara. Perbaikan dengan kerusakan ringan pada struktur dapat dilakukan tanpa mengosongkan bangunan.

c.  Kerusakan Struktur Sedang
Suatu bangunan dikategorikan mengalami Kerusakan Struktur Sedang apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:
  • Retak besar (lebar celah lebih besar dari 0,6 cm) pada dinding.
  • Retak menyebar luas di banyak tempat, seperti pada dinding pemikul beban, kolom; cerobong miring; dan runtuh.
  • Kemampuan struktur untuk memikul beban sudah berkurang sebagian.
  • Laik fungsi/huni.
Tindakan yang perlu dilakukan adalah:
  • Restorasi bagian struktur dan perkuatan (strenghtening) untuk menahan beban gempa.
  • Perbaikan (repair) secara arsitektur.
  • Bangunan dikosongkan dan dapat dihuni kembali setelah proses restorasi selesai.

d.  Kerusakan Struktur Berat
Suatu bangunan dikategorikan mengalami Kerusakan Struktur Berat apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:
  • Dinding pemikul beban terbelah dan runtuh.
  • Bangunan terpisah akibat kegagalan unsur-unsur pengikat.
  • Kira-kira 50% elemen utama mengalami kerusakan.
  • Tidak laik fungsi/huni.
Tindakan yang perlu dilakukan adalah merubuhkan bangunan. Atau dilakukan restorasi dan perkuatan secara menyeluruh sebelum bangunan dihuni kembali. Dalam kondisi kerusakan seperti ini, bangunan menjadi sangat berbahaya sehingga harus dikosongkan

e.  Kerusakan Total
Suatu bangunan dikategorikan sebagai rusak total / roboh apabila terjadi hal-hal sebagai berikut:
  • Bangunan roboh seluruhnya ( > 65%).
  • Sebagian besar komponen utama struktur rusak.
  • Tidak laik fungsi/ huni.
Tindakan yang perlu dilakukan adalah merubuhkan bangunan, membersihkan lokasi, dan mendirikan bangunan baru.

Advertisement




Komentar :