Seperti yang telah saya bahas pada Artikel sebelumnya "Alumanium Composit Panel (ACP) - Defenisi Fungsi dan Manfaat", banyak sekali merk produk ini yang beredar di Indonesia, seperti Alucobond, Seven, Good Sense, Maco, Alustar, Alumebond, Alumetal, Goldstar, Alumetalec, Alcopla, Luminate, dan sebagainya. Ada yang merupakan produksi Luar Negeri dan ada juga produksi Indonesia.

Pemasangan Product ini bisa dilakukan pada Dinding, Plafon, Partisi, Furniture, dan sebagainya. Bisa dikerjakan pada Gedung Perkantoran, Hotel, Bank, Rumah Sakit, Mall, Ruko, Pusat Perbelanjaan, SPBU, maupun Rumah Pribadi.

Secara Umum, tahapan memasang ACP ini bisa dibagi atas 3, yaitu :

1.  Pemasangan Konstruksi Rangka dudukan Alumanium Composit Panel (ACP) pada bangunan.
2.  Fabrikasi Lembaran ACP.
3.  Pemasangan Lembaran ACP pada Konstruksi Rangka Dudukan yang telah ada, dan Finishing.

Pada kesempatan ini saya akan membahas Bagian Pertama terlebih dahulu, yaitu Pemasangan Konstruksi Rangka dudukan Alumanium Composit Panel (ACP) pada bangunan. Dengan Asumsi pemasangan dilakukan pada Dinding Bangunan Luar (terkena Panas Matahari dan Air Hujan).

1.  Cara Pasang Rangka ACP adalah sebagai berikut :

a.  Jika Konstruksi Rangka Dudukan ACP akan dipasang pada Dinding yang terbuat dari pasangan Batubata, maka Dinding Batubata tersebut harus diplester terlebih dahulu. Minimal diplester tanpa Aci, atau bisa juga di-aci. Supaya Konstruksi Rangka ini tetap Kuat Mengikat saat menahan Beban Rangka itu sendiri dan Beban ACP nantinya, dan Tahan Lama.


b.  Jika Konstruksi Rangka Dudukan ACP akan dipasang pada Dinding Beton atau Beton Bertulang, maka dinding tersebut tidak perlu diplester lagi, silahkan langsung dipasang.

c.  Rangka Dudukan ACP, sebaiknya menggunakan material Metal atau Logam yang berkualitas baik, sehingga tidak mudah Korosi (berkarat), dan tidak mudah rusak (hancur) akibat korosi tersebut, karena akan dipasang diluar Ruangan yang terkena Panas Matahari dan Air Hujan.
Seperti Gambar dibawah ini : A adalah Alumanium, dan B adalah Besi Hollow yang di-Cat (dengan ketebalan material logam yang memadai untuk menahan Beban Sendiri Rangka tersebut dan ACP yang akan dipasang pada Rangka tersebut).


Dalam hal ini, sebaiknya tidak menggunakan bahan seperti Rangka Furring Gypsum Galvanis. Karena bahan ini sangat tidak tahan menghadapi Cuaca, Panas Matahari, Air Hujan, dan Kelembaban, sehingga sangat mudah Korosi, dan korosinya ini mudah sekali merusak Furring tersebut. (Keterangan : Furring Galvanis ini hanya cocok digunakan untuk didalam bangunan). Seperti Gambar dibawah ini.


d.  Lakukan Marking pada Dinding Batubata (dalam hal ini, Contoh Pemasangan dilakukan pada Dinding Batubata yang telah diplester). Jarak Horizontal-nya kita misalkan 60cm dan Jarak Vertikal-nya juga 60cm. Seperti Gambar dibawah ini.


e.  Lakukan Pemasangan Rangka Dudukan ACP, contoh kali ini menggunakan Besi Hollow 40x40.

Pemasangan Besi Hollow ini bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

     1.  Satu-persatu Besi Hollow Tertentu (yang telah dipasang Bracket) langsung dikunci pada dinding
          tersebut, dengan menggunakan Dynabolt pada Dinding. Besi Hollow lainnya bisa di-join dengan
          sistem Pengelasan, sampai semua terpasang. Seperti 2 buah Gambar dibawah ini.
 

     2.  Bisa juga semua Besi Hollow difabrikasi terlebih dahulu (dengan sistem Pengelasan), dan
          dipasang Bracket pada tempat-tempat tertentu. Kemudian sekaligus dipasang pada Dinding tersebut.
          Seperti Gambar dibawah ini.



f.  Setelah semua Besi Hollow terpasang, lakukan Pengecekan Ulang terhadap kekuatan pasangan Dynabolt dan Pengelasan. Hal ini diperlukan untuk memastikan Kekuatan Rangka Dudukan tersebut sebelum Alumanium Composit Panel (ACP) dipasang pada Rangka tersebut.

g.  Pemasangan selesai.. Semoga tulisan ini berguna..

Selanjutnya saya akan menulis Tahap 2, yaitu tentang Cara Fabrikasi Lembaran Alumanium Composit Panel.



Advertisement




Komentar :
ACP adalah Produk berupa Lembaran, yang biasanya memiliki ketebalan 4 mm, panjang 8 kaki (244 cm), dan lebar 4 kaki (122 cm), yang terdiri dari 5 lapisan Utama, yaitu : Alumanium (tebal 0,5 mm), Rubber (tebal 3 mm), Alumanium (tebal 0,5 mm), Cat Warna, dan Coating, (ini dimulai dari Lapisan paling bawah). Seperti tampak pada Foto diatas.

Pada saat ini banyak sekali Merk Alumanium Composit Panel yang dijual di pasaran, seperti Alucobond, Seven, Good Sense, Maco, Alustar, Alumebond, Alumetal, Goldstar, Alumetalec, Alcopla, Luminate, dan sebagainya. Ada yang merupakan produksi Luar Negeri dan ada juga produksi Indonesia.

Produk ini terdiri dari banyak Warna, sehingga memudahkan kita untuk berkreasi dan memilih Warna sesuai dengan Disain yang kita rencanakan. Beberapa diantaranya seperti Gambar Katalog Warna dibawah ini. Mungkin ada lebih banyak lagi Warna yang tersedia, sesuai dengan Merk dan Vendor-nya masing-masing.


Produk ini biasanya digunakan sebagai Lapisan Penutup permukaan Dinding, yang menggantikan fungsi Finishing Plesteran dan Cat. Dengan teksturnya yang rapi dan menarik, membuat tampilan Dinding menjadi lebih Indah, Mewah, dan Elegan, sehingga produk ini banyak diminati dan mulai banyak dipergunakan di Indonesia sejak beberapa tahun yg lalu, baik untuk Perkantoran, Hotel, Bank, Rumah Sakit, Mall, Ruko, Pusat Perbelanjaan, SPBU, maupun Rumah Pribadi. Bahkan bisa juga untuk Produk Furniture, Dinding Partisi, dan Plafon.

(Gedung Perkantoran)


(Gedung Kantor Bank Mandiri)


(SPBU)

Kelebihan produk ini antara lain adalah :
 

1.  Perawatannya, kita dapat membersihkannya dengan mudah jika sudah terlihat kotor. Cukup dengan
     Kain, Air, dan Cairan Pembersih berkadar Detergent rendah (cairan pembersih yang disarankan), kita
     dapat membersihkannya.
2.  Pemakaian Aluminium Composite Panel juga memberikan Nilai Tambah pada bangunan atau gedung
     yang menggunakan produk ini, karena tampak lebih Mewah, Menarik, dan lebih Indah.
3.  Untuk posisi-posisi tertentu, penggunaan produk ini akan lebih cepat selesai dibandingkan finishing
     dengan Plesteran, Acian, dan Cat.

Kekurangannya adalah : 
1.  Biaya Finishing Dinding dengan Alumnium Composit Panel ini relatif lebih mahal dibandingkan
     menggunakan finishing Acian dan Cat (pada posisi yang mudah dijangkau dan motif yang sederhana).
2.  Memerlukan Struktur Rangka Tambahan untuk pemasangannya pada dinding, yang biasanya
     menggunakan bahan Logam/ Metal. Sehingga perlu pemilihan Mutu Bahan yang baik dan Sistem
     Pengerjaan yang baik juga apabila pemasangan dilakukan di luar ruangan. Bahan ini sebaiknya tahan
     terhadap Panas Matahari dan Air Hujan.


Advertisement




Komentar :
Pondasi Setempat bisa digunakan sebagai Pondasi untuk membuat Rumah atau Gedung 1 Lantai, 2 Lantai, 3 Lantai, bahkan 4 Lantai, selama Tanah Keras masih terjangkau oleh Pondasi tersebut, Nilai Daya Dukung Tanah tersebut kekuatannya cukup, dan Ukuran Pondasi Setempat dan Besi Tulangannya mampu untuk Memikul Beban Bangunan diatasnya nanti.

Pada tulisan ini saya tidak membahas Analisa Perhitungan Struktur Pondasi tersebut dalam memikul Beban diatasnya, disini saya hanya memaparkan tahapan Cara Membuat Pondasi Setempat tersebut saja, seperti yang biasa dilakukan di lapangan. Di Lapangan terkadang Pondasi ini disebut juga Pondasi Cakar Ayam.

Tahapan dalam Membuat Pondasi Setempat :

1. Galian Tanah lobang Pondasi Setempat, seperti Gambar dibawah ini.


2. Pabrikasi Besi Tulangan Tapak Pondasi Setempat, di Lapangan terkadang disebut juga Besi Keranjang, seperti Gambar dibawah ini.


3. Pasang Besi Stik (Besi Umpak/ Besi Ompak/ Besi Bumbung) pada Besi Keranjang diatas, seperti Gambar dibawah ini.


4. Letakkan Besi Tulangan Pondasi Setempat yang telah difabrikasi diatas (Gambar 3), ke dalam Lobang Pondasi (Gambar 1), sebaiknya dibuat Lantai Kerja terlebih dahulu, seperti Gambar dibawah ini.


5. Cor Tapak Pondasi Setempat, besi Keranjangan harus tertutup dengan sempurna, dengan ketebalan Selimut Beton yang cukup pada bagian teratas Besi Keranjang tersebut, seperti Gambar dibawah ini.


6. Setelah beberapa Hari (saat Beton Tapak Pondasi cukup Keras), Pasang Bekisting pada Besi Stik (Besi Umpak/ Besi Ompak/ Besi Bumbung), seperti Gambar dibawah ini.

7. Cor Stik (Umpak/ Ompak/ Bumbung) tersebut
dengan ketinggian yang telah ditentukan, seperti Gambar dibawah ini.


8. Setelah beberapa Hari (saat Beton Stik/Umpak/Ompak/Bumbung cukup Keras), buka (lepaskan) Bekistingnya dan lakukan pengurukan pada keliling Beton Stik tersebut, hingga tanah urugnya rata dengan Permukaan Atas Beton Stik tersebut, seperti Gambar dibawah ini.


9. Setelah pengurugan selesai, selanjutnya kita dapat melakukan Pemasangan Besi Pondasi Sloof diatasnya, seperti Gambar dibawah ini. Tampak pada Gambar, sebelum Besi Pondasi Sloof dipasang, dibawahnya juga dibuat lantai kerja. Kondisi ini lebih baik dibanding tidak ada Lantai Kerja.


10. Selesai... Semoga berguna... (Ket: Foto Gambar Kerja dari berbagai Sumber)


Advertisement




Komentar :
Pemasangan Besi Plat Lantai pada rumah dan gedung dilakukan setelah pemasangan Besi Balok selesai. Karena pada prinsipnya sebaiknya Besi Lantai di pasang diatas Besi Balok. Walaupun sebagian orang ada yang memasang sebagian Besi Plat Lantai ini dibawah Besi Balok. Perbedaan kedua sistem pemasangan ini dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 1. Besi Lantai seluruhnya dipasang diatas Besi Balok)

(Gambar 2. Besi Lantai sebagian dipasang diatas dan dibawah Besi Balok)

Tampak pada Gambar 1, sistem pemasangan Besi Lantai-nya lebih sederhana dan lebih mudah dipahami. Berbeda dengan Gambar 2 yang sistem pemasangannya lebih kompleks. Pada kesempatan ini saya akan membahas Cara Pelaksanaan Pemasangan Besi Plat Lantai sesuai dengan Gambar 2, dengan asumsi Gambar 1 akan lebih mudah dipahami jika Gambar 2 telah dikuasai.

Teknik Kerja Memasang Besi Tulangan Pelat Lantai Beton

Contoh :
Pelat Beton direncanakan memiliki ketebalan 10 cm.
Besi Tulangan Pelat Lantai ber-diameter 9 mm.
Jarak Pemasangan Besi Tulangan Pelat Lantai 12,5/25 cm.

1.  Sesudah Bekisting Balok, Bekisting Pelat Lantai Beton, dan Besi Balok selesai dikerjakan, maka kita bisa memulai pekerjaan pemasangan Besi Pelat Lantai Beton seperti Gambar 3 dibawah ini. Perhatikan tulisan AS pada gambar, itu menjadi Acuan pada Gambar dan Pelaksanaan selanjutnya.
Susun besi 9 mm (yang telah diluruskan sebelumnya) sesuai dengan Gambar 3 dibawah ini. 
          Vb = Vertikal Bawah
          2,5 cm = Jarak rencana antara Besi Tulangan dan Tripleks Bekisting Pelat Lantai.

(Gambar 3.)

2.  Susun besi 9 mm sesuai dengan Gambar 4 dibawah ini. Posisi besi diletakkan tepat diatas besi Gambar 3 (bersinggungan). Lalu ikat setiap pertemuan besi tersebut dengan Bendrat (kawat ikat atau kawat beton). Perhatikan tulisan AS pada gambar, itu menjadi Acuan pada Gambar dan Pelaksanaan selanjutnya.
          Hb = Horizontal Bawah
          2,5 cm = Jarak rencana antara Besi Tulangan dan Tripleks Bekisting Pelat Lantai.

(Gambar 4.)

3.  Lalu susun besi 9 mm sesuai dengan Gambar 5 dibawah ini. Posisi besi diletakkan diatas (kira-kira 2,5 cm dari rencana Top Cor Plat Beton), ini membuat jarak dengan besi dibawahnya (Gambar 3 dan Gambar 4) kira-kira 4 cm . Perhatikan tulisan AS pada gambar, susunan Besi ini bergeser 12,5 cm dari besi dibawahnya.

Pada Garis Kotak putus-putus (daerah asumsi Momen Plat Lantai dianggap NOL), besi tersebut ditekuk kebawah (2,5 cm dari Tripleks), karena didalam area Garis Kotak putus-putus tersebut momen yang terjadi adalah Momen Postif (gaya tarik terjadi pada bagian bawah Plat Lantai Beton).
          Ha = Horizontal Atas
          2,5 cm = Jarak rencana antara Besi Tulangan dan Top Cor Rencana Plat Beton.

(Gambar 5.)

4.  Pemasangan selanjutnya sama dengan Poin No. 3 diatas, hanya kali ini dipasang pada posisi Vertikal Atas (Va). Perhatikan tulisan AS pada gambar, susunan Besi ini bergeser 12,5 cm dari besi dibawahnya. Lalu ikat setiap pertemuan besi tersebut dengan Bendrat (kawat ikat atau kawat beton).
          Va = Vertikal Atas
          2,5 cm = Jarak rencana antara Besi Tulangan dan Top Cor Rencana Plat Beton.

(Gambar 6.)

5.  Tambahkan Besi Tulangan Ekstra untuk Momen (pada bidang Horizontal) seperti Gambar 7 dibawah ini, agar kekuatan Plat Lantai pada tumpuan Balok menjadi lebih tinggi. Perhatikan tulisan AS pada gambar, susunan Besi ini bergeser 12,5 cm dari Gambar 5. Lalu ikat setiap pertemuan besi tersebut dengan Bendrat (kawat ikat atau kawat beton).

(Gambar 7.)

6.  Tambahkan Besi Tulangan Ekstra untuk Momen (pada bidang Vertikal) seperti Gambar 8 dibawah ini, agar kekuatan Plat Lantai pada tumpuan Balok menjadi lebih tinggi. Perhatikan tulisan AS pada gambar, susunan Besi ini bergeser 12,5 cm dari Gambar 6. Lalu ikat setiap pertemuan besi tersebut dengan Bendrat (kawat ikat atau kawat beton).

(Gambar 8.)

7.  Periksa semua ikatan Bendrat (kawat ikat atau kawat beton) yang ada, apakah ada yang belum terikat atau tidak. Sering dilakukan di lapangan, pengikatan ini tidak dilakukan secara menyeluruh pada setiap pertemuan besi yang ada, namun dibuat berjarak setiap 1 baris besi. Dengan asumsi tidak mengurangi kekuatan susunan Besi Plat Lantai tersebut, dan kualitas Plat Beton Bertulang tersebut nantinya.

8.  Selanjutnya ganjal semua Besi Plat Lantai tersebut dengan Beton Decking (Beton Tahu), agar tidak menempel langsung pada Tripleks Bekisting.

9.  Rapikan susunan besi yang tidak lurus dan ikatan yang kurang kuat.., selesai..

Demikian tulisan saya kali ini.., semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Penggunaan Closet Duduk di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Sejak tahun 1980-an jenis Closet ini sudah mulai banyak dipakai di Indonesia. Saya sendiri sudah menggunakan Closet Duduk merk Toto pada tahun tersebut di Rumah.

Model, bentuk, dan Tipenya juga bermacam-macam. Seiring dengan perkembangan jaman, saat ini sudah banyak sekali variasi bentuk dan type Closet ini, bahkan sudah banyak pula Merk dan Vendor baru yang ikut memproduksinya.

Karena bentuk dan Type Closet Duduk ini berbeda-beda, maka Cara Pemasangannya tentu berbeda-beda juga. Biasanya pada kemasan Produknya sudah disediakan Manual Installation (Petunjuk Pemasangan) secara tertulis.

Contoh Pekerjaan Pemasangan Pipa pada Closet Duduk :

1.  Persiapkan pipa suplai Air Masuk ke Tangkai Closet duduk (No. 2) dan pipa Buangan Air Kotor Closet Duduk (No. 1) pada kamar mandi, seperti Gambar dibawah ini.


Keterangan:
a.  Pada Gambar Pipa No. 2, tampak ada dua buah Pipa 1/2". Pipa yang Pertama (2a) adalah pipa 1/2" untuk suplai Air ke Tangki Closet Duduk, dan pipa yang Kedua (2b) adalah pipa 1/2" untuk suplai Air untuk Jet Shower (untuk basuh).

Sebenarnya Pipa No. 2 ini bisa saja dibuat menjadi satu buah Pipa 1/2" saja, nanti dengan menggunakan Tee Stainless 1/2" air dapat dibagi untuk suplai Air ke Tangki Closet Duduk dan untuk suplai Air untuk Jet Shower. Tapi pada Tips kali ini saya membuat Pipa-nya terpisah, karena akan lebih mudah mengganti Jet Shower tersebut jika nanti rusak (tidak mengganggu suplai Air ke Tangki Closet Duduk tersebut).
Jet Shower
b.  Pipa No. 1 adalah Pipa 4" untuk Buangan Air Kotor Closet Duduk

c.  Pipa No. 3 adalah Pipa Buangan Air Kamar Mandi, bisa berukuran 2 1/2", bisa juga berukuran 3". Pada kesempatan ini saya tidak membahas tentang Pipa ini.

2.  Pasang Elbow Drat Dalam pada Pipa 1/2" No. 2a dan 2b, sesuai dengan ukuran Gambar Petunjuk Pemasangan (satuan mm) yang tersedia. Saya sarankan menggunakan Elbow Drat Kuningan, karena Drat-nya tidak mudah rusak dan kokoh.
(Gambar Petunjuk Pemasangan, Closet Duduk Tampak Samping dan Tampak Depan)

(Gambar 1)
Pada Elbow Drat Dalam (EDD) 2b dan 2a nantinya akan dipasang Stop Kran, untuk kontrol Air suplai Jet Shower dan Air suplai Tangki Closet Duduk. Maka posisi EDD 2b dan EDD 2a harus dibuat berjarak, agar kedua Stop Kran nantinya tidak bersinggungan (lebih kurang 10cm).

3.  Pasang Pipa 4" untuk Buangan Air Kotor Closet Duduk, sesuai dengan ukuran Gambar Petunjuk Pemasangan (satuan mm) yang tersedia.

4.  Selanjutnya kita bisa memasang Keramik Dinding dan Keramik Lantai Kamar Mandi tersebut.

5.  Pekerjaan Persiapan Pipa untuk Pasang Closet Duduk pada Kamar Mandi selesai, tunggu sampai 1 hari agar Pasangan Keramik kering, lalu anda bisa melakukan Pemasangan Closet Duduk.

Demikian Tips saya kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Ada beberapa Pendapat dan Tulisan yang saya dengar dan baca yang mengulas Topik ini, dengan opini yang berbeda-beda. Ada mengatakan Rumah Kosong lebih mudah rusak karena tidak adanya Aura Kehidupan pada rumah tersebut, ada juga yang menganonimkan Rumah Kosong sama dengan dengan Kosongnya Hati, sehingga rentan untuk rusak, dan sebagainya.

Pada kesempatan ini saya ingin memberikan Opini tentang Judul diatas, berdasarkan Pengamatan, Pengalaman, dan Pendapat Teknis saya sendiri. Disini saya memaparkannya dari sudut Pandang Ilmiah dan Pengamatan di lapangan.

Beberapa Kondisi yang menyebabkan Rumah Kosong Lebih Mudah Rusak :

1. Tingkat Kelembaban didalam Rumah yang Tinggi

a.  Rumah kosong, biasanya Pintu dan Jendela-nya senantiasa dalam keadaan tertutup. Maka apa yang terjadi..? Tentu saja saja Tingkat Kelembaban Rumah Kosong tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan Rumah Berpenghuni, karena tidak banyak Cahaya Matahari dan Udara segar yang masuk.

b.  Rumah kosong, biasanya Lampu didalam rumah tersebut senantiasa dalam keadaan mati. Tentu saja Tingkat Kelembabannya juga cenderung lebih tinggi.

Kondisi didalam Rumah yang Kosong dan Lembab dalam jangka waktu yang lama tersebut secara perlahan akan berdampak buruk, bisa mengundang Binatang Kecil dan Rayap untuk masuk, Berdebu, Berkarat, Berjamur, dan sebagainya. Sehingga bisa merusak Material Kayu, Cat Dinding, Plafon berbahan Tripleks dan Gypsum, Material berbahan Logam, dsb.

2.  Menetapnya Binatang pada Rumah Kosong

Disadari atau tidak Rumah Kosong akan menjadi Rumah bagi binatang (yang kasap Mata maupun yang tidak kasap Mata), seperti Tikus, Kecoak, Semut, Rayap, dan sebagainya. Sedangkan pada Rumah yang berpenghuni, jumlah mereka tentu saja lebih sedikit dan tidak bisa menetap.

Semua binantang ini secara perlahan tapi pasti berpotensi merusak Material yang ada pada rumah tersebut. Seperti Tikus dan Rayap yang bisa merusak Material berbahan Kayu, Kecoak yang bisa menyebarkan Bakteri dan Kuman yang bersifat merusak, Semut yang secara perlahan dapat menggerogoti material Pasir (seperti Spesi pasangan keramik), dan sebagainya.

3.  Debu, Kotoran, Bakteri, dan Jamur pada Rumah Kosong

Debu yang senantiasa melekat (dalam kondisi Lembab) secara perlahan bisa merusak Material Logam. Kotoran Hewan yang mengandung Bakteri dan Kuman bisa merusak berbagai Material dalam Rumah tersebut (secara perlahan tapi pasti). Jamur juga bisa merusak Material Berbahan Kayu, Cat, dan Logam.

Ketiga Item diatas akan lebih besar Kuantitas-nya pada Rumah Kosong. Karena Rumah yang Berpenghuni tentu saja senantiasa dibersihkan, cukup udara segar dan sinar matahari, dan Binatang Kecil tidak bisa seenaknya menetap.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna.. Mungkin masih banyak lagi Hal dan Kondisi yang menyebabkan ini, silahkan tambahkan pada kolom Komentar dibawah..


Advertisement




Komentar :
Pada posting sebelumnya saya telah memaparkan Cara dan Teknis Kerja Mengecat Ulang Dinding Rumah Lama yang Mengalami Kerusakan Berat, yang penanganannya memerlukan pengupasan pada Cat Dinding Rumah lama tersebut.

Cat Dinding Rumah yang Mengalami Kerusakan sangat Berat yang saya maksud disini contohnya :
"Cat dinding rumah yang mengalami Pengelupasan akibat Lembab dan Basah pada sebagian besar Luas Dinding-nya (kondisinya berjamur dan berlumut), dan kondisi Lembab dan Basah ini terjadi terus-menerus (tidak berhenti)".

Hal ini biasanya terjadi karena Dinding dan Plesteran tersebut senantiasa terkena Air atau berada pada Daerah dengan tingkat Kelembaban yang tinggi.

Cara Memperbaikinya :

1.  Kupas semua Cat yang berlumut tersebut dengan menggunakan Sekrap (kape). Jika ada bagian yang sulit terkupas, dapat menggunakan cairan Thinner Epoxy, Thinner ND, Paint Remover (khusus untuk Cat Tembok / Dinding), dsb., untuk mempermudah dan mempercepat proses pengupasan. Paint Remover yang pernah saya gunakan adalah merk PECAT. Cara menggunakannya dapat anda lihat disini.

2.  Setelah semua Cat Dinding lama terkupas, gosok Permukaan Dinding dengan Sikat sampai bersih dari sisa kotoran Cat dan Lumut yang menempel (bantu dengan Air bersih). Lalu biarkan sampai kering.

3.  Bila Lembab dan Basah-nya Dinding tersebut bersumber karena ada Air yang masuk dari Dinding bagian Luar, maka lakukan "penutupan" terhadap jalan masuknya Air tersebut. Jika Basah dan Lembabnya terjadi karena hal lain, maka lakukan tindakan agar Dinding tersebut tidak mengalami hal itu lagi di kemudian hari.

4.  Pada Dinding yang telah disikat bersih dan kering tadi, kuaskan campuran Cairan Kaporit atau Cairan Pemutih Pakaian, dengan perbandingan Cairan dan Air = 1:2 s/d 1:5. Lakukan secara merata ke seluruh permukaan dinding, dan biarkan selama lebih kurang 1 jam. Setelah 1 jam, bilas Dinding tersebut dengan Air bersih, dan biarkan sampai Kering. Lakukan hal ini berulang-ulang, hingga Dinding tersebut benar-benar bersih dari kotoran yang ada. Sebaiknya gunakan Sarung Tangan Karet dan Masker pada saat melakukan ini.

6.  Setelah benar-benar bersih, biarkan beberapa hari, sampai Dinding tersebut benar-benar kering dan siap untuk dicat ulang.

7.  Anda dapat mengecat Dinding Rumah tersebut dengan Sealer, disarankan menggunakan Sealer yang berkualitas baik.

8.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tersebut, sebaiknya menggunakan Cat Anti Jamur dan Lumut.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Pada posting sebelumnya saya telah memaparkan Cara dan Teknis Kerja Mengecat Ulang Dinding Rumah Lama yang Mengalami Kerusakan Ringan dan Sedang, yang penanganannya cenderung lebih mudah dan lebih sederhana, silahkan lihat uraiannya disini.

Cat Dinding Rumah yang Mengalami Kerusakan Berat yang saya maksud disini adalah :
"Cat dinding rumah tersebut mengalami Pengelupasan pada Sebagian Besar dari Luas Dinding-nya, dengan persentase antara 30% - 90% dari Luas Dinding yang ada, sedangkan kondisi dinding dalam keadaan Kering dan tidak Lembab (tidak mengandung Air)".

Pengelupasan seperti ini terjadi karena "Tidak Mengikatnya" Cat Dinding rumah tersebut dengan Permukaan dibawahnya, baik Permukaan dibawahnya berupa Plesteran, Dempul Tembok (dinding), ataupun Cat Dinding Rumah lama dibawahnya.

Hal ini terjadi karena rendahnya Kualitas Cat yang digunakan, rendahnya kualitas Dempul yang digunakan, pengecatan ulang pada dinding lama yang tidak menggunakan Sealer, dan Pengecatan Dinding Luar Rumah dengan tidak menggunakan Sealer.

Cara Memperbaikinya :

1.  Sebaiknya semua Cat tersebut dikupas dengan menggunakan Sekrap (kape). Jika ada bagian yang sulit terkupas, dapat menggunakan cairan Thinner Epoxy, Thinner ND, Paint Remover (khusus untuk Cat Tembok / Dinding), dsb., untuk mempermudah dan mempercepat proses pengupasan tersebut. Paint Remover yang pernah saya gunakan adalah merk PECAT. Cara menggunakannya dapat anda lihat disini.


2.  Setelah semua Cat Dinding lama terkupas, digosok dengan Kertas Pasir (ampelas), dan bersih dari debu (sebelumnya lihat disini Cara dan Teknis Kerja Mengupas Cat Dinding Rumah lama dengan Paint Remover), anda dapat mengecat Dinding Rumah tersebut dengan Sealer, disarankan menggunakan Sealer yang berkualitas baik.

3.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tersebut.

Demikian tulisan kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Paint Remover adalah Cairan Khusus yang berguna untuk memudahkan kita dalam Mengupas Cat pada media tertentu. Seperti pada media dinding (tembok), besi, kayu, dan sebagainya.

Banyak kita jumpai Cat Dinding tembok Rumah yang rusak dan kondisinya tidak memungkinkan untuk dilakukan Pengecatan Ulang secara langsung. Seperti cat terkelupas, cat yang berjamur, cat yang lembab, dan sebagainya. Sehingga sebaiknya dikupas terlebih dahulu sebelum melakukan Pengecatan Ulang.

Ada sebagian Cat Dinding lama yang mudah dikupas dengan Skrap (kape) secara langsung, namun ada juga yang tidak. Sehingga diperlukan Teknik khusus dan bantuan Paint Remover (merk PECAT pernah saya gunakan), agar bagian yang sulit tersebut dapat dikupas dengan Cepat dan Mudah.


Cara dan Tips Mengupas Cat Dinding Rumah Lama dengan Paint Remover :

1.  Kuaskan cairan Paint Remover yang anda miliki pada Cat Dinding Lama yang hendak dikupas. Lakukan secara bertahap, jangan menguas secara terus-menerus sehingga tercipta bidang yang lebar. Cukup per-setengah meter persegi saja. (disarankan menggunakan Sarung Tangan Karet)

2.  Biarkan lebih kurang 2 sampai 3 menit, cat dinding lama tersebut biasanya akan bereaksi membentuk 'Gelembung Udara'. Jangan juga sampai cairan Paint Remover tersebut mengering, karena jika mengering malah akan menjadi keras dan sulit untuk di-sekrap.

3.  Dalam keadaan yang kira-kira masih lembab (karena cairan Paint Remover tsb.), kupas Cat Dinding lama itu dengan Sekrap (kape). Tekan Sekrap sampai ke dasar permukaan dinding yang ada, sehingga pengupasan berjalan maksimal.

4.  Setelah semua Cat Dinding lama tersebut di-sekrap, siram permukaan dinding tersebut dengan Air, sehingga Dinding tersebut bersih dari bahan kimia yang bersumber dari Paint Remover.

5.  Biarkan sampai Dinding tersebut mengering, atau bisa dikeringkan dengan Kain Lap.

6.  Setelah kering, gosok permukaan Dinding tersebut dengan Kertas Pasir (Ampelas), agar sisa Cat Lama atau Dempul Tembok yang masih tertinggal menjadi lebih bersih. Lalu bersihkan debunya dengan Kain Lap.

Begitulah Cara dan Teknis Kerja Mengupas Cat Dinding Rumah lama dengan Paint Remover, semoga artikel ini bermanfaat.

Catatan Penting :
1.  Jangan sampai anda terhirup gas yang terkandung pada Kaleng kemasan Paint Remover ini.
2.  Upayakan cairan Paint Remover ini tidak mengenai tubuh anda, karena cairan ini biasanya memiliki kandungan bahan Kimia yang cukup 'keras', cirinya adalah 'gatal' pada bagian tubuh yang terkena. Jika kena, cuci cepat dengan air bersih.
3.  Bersihkan segera Peralatan Kerja yang terkena cairan ini dengan Air bersih, seperti kuas, sekrap, sarung tangan, dsb.



Advertisement




Komentar :
Seiring dengan waktu, Cat Dinding rumah suatu saat akan rusak, kotor, luntur warnanya, berjamur, bahkan bisa juga terkupas (lepas), baik secara keseluruhan atau sebagian. Tentu saja hal ini memberi kesan yang kurang rapi dan tidak enak dipandang mata.

Solusi untuk memperbaiki ini adalah dengan cara melakukan Pengecatan Ulang, supaya dinding rumah kita kembali rapi dan indah. Retak rambut yang telah seattle, yang terjadi pada plesteran dinding juga dapat teratasi dengan cara Pengecatan Ulang ini.

Biasanya kondisi kerusakan Cat Dinding lama berbeda-beda, secara pribadi saya dapat membaginya atas 4 kategori, yaitu :
a.  Cat Dinding yang mengalami kerusakan Ringan,
b.  Cat Dinding yang mengalami kerusakan Sedang,
c.  Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Berat.
d.  Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Sangat Berat.

A.  Cat Dinding dengan tingkat kerusakan Ringan

Contohnya : Hanya terjadi Perubahan Warna dan Kusam, timbul Retak Rambut pada plesteran, dan munculnya Debu Cat akibat kelembaban dinding. Namun secara keseluruhan Cat Lama tersebut tetap mengikat erat dan tidak ada yang terkelupas.


Cara Memperbaikinya :

1.  Bersihkan semua Cat Lama pada dinding tersebut dengan Kain Lap (bila perlu dengan Kertas Pasir halus), sehingga bersih dari debu dan kotoran yang menempel.
2.  Setelah bersih dari debu dan kotoran, cat Dinding tersebut dengan Sealer, disarankan gunakan Sealer dengan merk vendor yang sama dengan Cat Dinding Lama tersebut, karena hasilnya akan lebih cocok dan lebih kuat 'mengikat'. Atau gunakan Sealer yang bermutu baik lainnya.
3.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tadi.

B.  Cat Dinding dengan tingkat kerusakan Sedang

Contohnya : Terjadi Pengelupasan dan Gembung Udara pada Cat Dinding Lama tersebut, dengan persentase Luasan yang tidak terlalu banyak, kira-kira 5% - 20% saja dari seluruh luasan dinding, sedangkan 80% - 95% berada dalam kondisi yang baik.


Cara Memperbaikinya :

1.  Lakukan Pengupasan pada bagian Cat Lama yang terkupas dan ada gembung udara tersebut, dengan menggunakan Sekrap (kape). Pastikan pekerjaan ini berlangsung dengan baik.
2.  Gosok bagian Cat Lama yang terkupas tersebut dengan Kertas Pasir halus, dan bersihkan dengan Kain Lap sehingga bersih dari debu dan kotoran yang menempel.
3.  Dempul bagian yang terkupas dengan Tepung Dempul Dinding (wall putty) yang berkualitas, sehingga Permukaan dinding menjadi rata. Biarkan kering, minimal 24 jam.
4.  Keesokannya, gosok semua dempulan dengan Kertas Pasir halus, lalu bersihkan debunya dengan Kain Lap.
5.  Setelah bersih dari debu, cat Dinding tersebut dengan Sealer, disarankan gunakan Sealer dengan merk vendor yang sama dengan Cat Dinding Lama tersebut, karena hasilnya akan lebih cocok dan lebih kuat 'mengikat'. Atau gunakan Sealer yang bermutu baik lainnya.
6.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tadi.

Lihat juga Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Berat dan Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Sangat Berat.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Dalam postingan beberapa hari yang lalu, saya telah menulis tentang Cara Menghitung Luas Atap Rumah bentuk Perisai. Selanjutnya pada kesempatan ini saya mencoba paparkan Cara Hitung Panjang Jurai dan Bubungan Atap tersebut, agar lebih lengkap catatan tentang hal ini.


Perhitungan ini nantinya dibutuhkan untuk mengetahui Kebutuhan Jumlah Nok Rabung yang harus dibeli dalam Pekerjaan Pembuatan Atap Rumah bentuk Perisai atau Limas ini. 

Contoh Perhitungan :

Dari Gambar Rencana Atap dibawah ini, silahkan Hitung Panjang Jurai dan Bubungan-nya.
Direncanakan Sudut Kemiringan β = 30°.

Gambar 1. Denah Atap                                                       Gambar 2. Tampak Depan Atap

Perhitungan :

1.  Berdasarkan Gambar Atap diatas, mari kita buat terlebih dahulu Gambar Perspektifnya untuk memudahkan Perhitungan (seperti Gambar dibawah ini).

Keterangan :

      1.  B, C, D, E adalah Jurai, panjang semua Item adalah Sama, karena bentuknya yang Simetris.
      2.  F adalah Bubungan, panjangnya bisa diketahui dari Gambar, yaitu = 397 cm = 3,97 m.
      3.  A adalah Garis Bantu (sebagai data bantu dalam Perhitungan Panjang B, C, D, dan E).
Gambar 3. Gambar Perspektif Atap

2.  Hitung Panjang A (Lihat Gambar 3)
      A  = 428cm : cos β 
           = 428cm : cos 30°
          
=
428cm : 0,866
           = 494,226 cm = 4,942 m

3.  Hitung Panjang Jurai B = C = D = E

Setelah Panjang A diketahui (= 4,942 m), coba Perhatikan Segitiga yang terbentuk dari Garis A, B, dan G. Segitiga tersebut adalah sebuah segitiga Siku-siku (seperti Gambar dibawah ini).


Panjang G bisa kita ketahui dengan melihat Gambar 3, yaitu 353cm atau 3,53 m.
Selanjutnya Panjang B bisa kita Hitung dengan menggunakan Rumus Phytagoras, yaitu : B2 = A2 + G2.
           B2  =  3,532 + 4,942262 (satuan diubah dalam meter)
           B2  =  12,4609 + 24,4259
           B2  =  36,8868
           B    =  6,0734 m = C = D = E

4.  Hitung Panjang Total Jurai = B + C + D + E = 6,0734 x 4 = 24,2936 m.

5.  Hitung Panjang Total Jurai dan Bubungan =
24,2936 m + 3,97 m = 28,2636 m.

6.  Selesai... Semoga bermanfaat..

Catatan:
a.  Perhitungan diatas adalah Perhitungan Panjang Jurai dan Bubungan Atap Bersih (Net) berdasarkan Gambar Kerja yang ada.
b.  Jika anda ingin menggunakannya sebagai Pedoman untuk Pembelian Nok (Rabung), terlebih dahulu anda harus mengetahui Panjang Efektif Nok (Rabung) yang akan anda Beli. Juga harus memperhitungkan Sisa Potongan Nok (Rabung) pada setiap Segmen Pemasangan.



Advertisement




Komentar :