|
Data Curah Hujan (Sumber BMKG) :
(Periode: tahun 1981 sampai 1990, tahun 1991 sampai 2000, dan tahun 2001 sampai 2010)
A. Provinsi Bali
1. Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Denpasar
2. Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar
B. Provinsi Nusa Tenggara Barat
1. Stasiun Meteorologi Selaparang Mataram
2. Stasiun Meteorologi Sumbawa Besar
3. Stasiun Meteorologi Salahudin Bima
C. Provinsi Nusa Tenggara Timur
1. Stasiun Meteorologi Wai Oti Maumere
2. Stasiun Meteorologi Mau Hau Waingapu
3. Stasiun Meteorologi El Tari Kupang
4. Stasiun Meteorologi Geyawantana Larantuka
5. Stasiun Meteorologi Malikalabahi Alor
6. Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang
7. Stasiun Meteorologi Tardamu Sabu
D. Provinsi Kalimantan Selatan
1. Stasiun Klimatologi Banjar Baru Banjarmasin
2. Stasiun Meteorologi Stagen Kotabaru
3. Stasiun Meteorologi Syamsudin Moor Banjarmasin
E. Provinsi Kalimantan Tengah
1. Stasiun Meteorologi Iskandar Pangkalan Bun
F. Provinsi Kalimantan Timur
1. Stasiun Meteorologi Kalimarau Tanjung Redep
2. Stasiun Meteorologi Sepinggan Balikpapan
3. Stasiun Meteorologi Termindung Samarinda
G. Provinsi Kalimantan Utara
1. Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan
H. Provinsi Sulawesi Utara
1. Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado
2. Stasiun Klimatologi Kayuwatu Manado
3. Stasiun Maritim Bitung Manado
I. Provinsi Sulawesi Selatan
1. Stasiun Meteorologi Naha Tahuna
2. Stasiun Meteorologi Andi Jemma Masamba
3. Stasiun Meteorologi Pongitiku Tana Toraja
4. Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar
5. Stasiun Maritim Paotere Makassar
6. Stasiun Klimatologi Maros Makassar
7. Stasiun Meteorologi Bato Ambari Baubau
J. Provinsi Sulawesi Tengah
1. Stasiun Meteorologi Talos Tolitoli
2. Stasiun Meteorologi Mutiara Palu
3. Stasiun Meteorologi Bubung Luwuk
4. Stasiun Meteorologi Kasiguncu Poso
K. Provinsi Sulawesi Barat
1. Stasiun Meteorologi Majene
L. Provinsi Gorontalo
1. Stasiun Meteorologi Jalaluddin Gorontalo
M. Provinsi Sulawesi Tenggara
1. Stasiun Meteorologi Pamalaa Kolaka
2. Stasiun Maritim Kendari
N. Provinsi Maluku
1. Stasiun Meteorologi Dumatubun Tual Maluku
2. Stasiun Klimatologi Kairatu Maluku
3. Stasiun Meteorologi Amahai Maluku
4. Stasiun Meteorologi Bandanaire Maluku
O. Provinsi Papua
1. Stasiun Klimatologi Genyem
2. Stasiun Meteorologi Biak
3. Stasiun Meteorologi Fakfak
4. Stasiun Meteorologi Nabire
5. Stasiun Meteorologi Timika
6. Stasiun Meteorologi Tanah Merah
7. Stasiun Meteorologi Merauke
Semoga bermanfaat.. Curah Hujan pada Kota di pulau Jawa dan Sumatera lihat DISINI..
Advertisement
Komentar :
|
Beberapa Pengertian yang harus diketahui :
Hujan adalah titik-titik Air di udara atau awan yang sudah terlalu berat karena kandungan airnya sudah sangat banyak, sehingga akan jatuh kembali ke permukaan bumi sebagai Hujan (presipitasi). Alat untuk mengukur curah hujan adalah Fluviometer.Satuan curah hujan yang digunakan dalam mm (milimeter).
Apakah yang dimaksud dengan Curah Hujan?
Curah hujan merupakan ketebalan air hujan yang terkumpul pada luasan 1 m2.
Apakah arti angka curah hujan itu?
Curah hujan dihitung dengan satuan mm (milimeter), yaitu tinggi air yang tertampung pada area seluas 1m x 1m alias 1 meter persegi (m2).
Jadi, Curah Hujan 1 mm adalah jumlah air yang turun dari langit sebanyak 1 mm x 1m x 1m = 0,001 m3 = 1 liter.
Data Curah Hujan (Sumber BMKG) :
(Periode: tahun 1981 sampai 1990, tahun 1991 sampai 2000, dan tahun 2001 sampai 2010)
A. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
1. Stasiun Meteorologi Cut Bau Sabang
2. Stasiun Meteorologi Malikulsaleh Lhokseumawe
3. Stasiun Meteorologi Blang Bintang Aceh
4. Stasiun Meteorologi Meulaboh
B. Provinsi Sumatera Utara
1. Stasiun Klimatologi Sampali
2. Stasiun Meteorologi Maritim Belawan
3. Stasiun Meteorologi Polonia Medan
4. Stasiun Meteorologi Tuntungan
5. Stasiun Meteoroli Sibolga
6. Stasiun Meteorologi Gunung Sitoli
C. Provinsi Kepulauan Riau
1. Stasiun Meteorologi Dabo Singkep
2. Stasiun Meteorologi Tanjung Pinang
3. Stasiun Meteorologi Tarempa
D. Provinsi Riau
1. Stasiun Meteorologi Simpang Tiga Pekanbaru
2. Stasiun Meteorologi Japura Rengat
E. Provinsi Sumatera Barat
1. Stasiun Meteorologi Tabing
2. Stasiun Klimatologi Sicincin
F. Provinsi Jambi
1. Stasiun Meteorologi Jambi
2. Stasiun Meteorologi Depati Parbo Kerinci
G. Provinsi Sumatera Selatan
1. Stasiun Meteorologi SMB II Palembang
2. Stasiun Klimatologi Kenten Palembang
H. Provinsi Bangka Belitung
1. Stasiun Meteorologi Pangkal Pinang
I. Provinsi Bengkulu
1. Stasiun Meteorologi Buluh Tembang
2. Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu
3. Stasiun Klimatologi Pulau Baai
4. Stasiun Geofisika Kepahiang
J. Provinsi Lampung
1. Stasiun Meteorologi Raden Inten
K. Provinsi Banten
1. Stasiun Klimatologi Pondok Betung
2. Stasiun Geofisika Tangerang
3. Stasiun Meteorologi Serang
4. Stasiun Meteorologi Cengkareng
5. Stasiun Meteorologi Curug
L. Provinsi DKI Jakarta
1. Stasiun Maritim Tanjung Priok
2. Stasiun Meteorologi Halim
M. Provinsi Jawa Barat
1. Stasiun Geofisika Lembang
2. Stasiun Meteorologi Citeko
3. Stasiun Klimatologi Darmaga
4. Stasiun Geofisika Bandung
5. Stasiun Meteorologi Jatiwangi
N. Provinsi Jawa Tengah
1. Stasiun Meteorologi Tegal
2. Stasiun Meteorologi Cilacap
3. Stasiun Meteorologi Maritim Semarang
4. Stasiun Meteorologi A.Yani Semarang
O. Provinsi Jawa Timur
1. Stasiun Meteorologi Juanda
2. Stasiun Maritim Perak I
3. Stasiun Maritim Perak II
4. Stasiun Klimatologi Karangploso
5. Stasiun Geofisika Tretes
6. Stasiun Geofisika Karangkates
7. Stasiun Meteorologi Kalianget
8. Stasiun Geofisika Sawahan
9. Stasiun Meteorologi Banyuwangi
Semoga bermanfaat.. Data Curah Hujan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT, Bali, dan Papua bisa dilihat DISINI..
Advertisement
Komentar :
|
Sesuai dengan namanya, pemasangan Tangki air ini dilakukan dibawah Tanah. Seperti Gambar 1 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 1. Underground Tank - Dipendam langsung) |
Material Dinding Tangki Pendam (Heavyduty Tank) ini lebih tebal daripada Tangki Umum (General). Seperti terlihat pada Gambar 2 dan Gambar 3 dibawah ini, dengan Merk dan Pabrikan yang sama.
Tebal Dinding Tangki kapasitas 2000 liter, berdasarkan Gambar 2 dan Gambar 3 :
Tangki Pendam (Heavyduty Tank) kapasitas 2000 liter, memiliki Tebal Dinding = 18 - 20 mm.
Tangki Umum (General Tank) kapasitas 2000 liter, memiliki Tebal Dinding = 10 - 12 mm.
![]() |
| (Gambar 2. Spesifikasi Teknis Heavyduty Tank) |
![]() |
| (Gambar 3. Spesifikasi Teknis Reguler Tank) |
Cara Pasang Tangki Air Pendam ini ada 2, yaitu :
1. Tangki bisa langsung dipendam didalam Tanah seperti Gambar 1 diatas.Pada kondisi tersebut, Dinding Tangki langsung bersinggungan dan terjepit oleh Tanah disekelilingnya. Lantai dibawah Tangki harus dibuat kuat, agar mampu mendukung Tekanan Tangki dan Air didalamnya nanti. Sebaiknya Lantai ini dibuat dari Cor Beton.
2. Tangki dipasang dalam sebuah Ruangan Bawah Tanah yang telah disediakan sebelumnya. Ruangan ini bisa dibuat seperti contoh Gambar 4 dibawah ini.
Pada kondisi ini Dinding Tangki tidak bersinggungan dan tidak terjepit oleh Tanah di sekelilingnya. Lantai dibawah Tangki juga harus dibuat kuat dan mampu mendukung Tekanan Tangki dan Air didalamnya nanti.
![]() |
| (Gambar 4. Underground Tank - didalam Ruangan Bawah Tanah) |
Anda boleh saja memilih salah satu dari 2 Cara diatas. Tergantung dari Efisiensi Dana, Waktu, dan Kemudahan Pekerjaan yang anda inginkan. Namun mungkin kita sama-sama bisa menilai, bahwa Cara seperti Gambar 4 akan lebih baik hasilnya. Lebih baik dari segi Kerapian dan Kemudahan Maintenance (Perawatan) Tangki tersebut dan Material Installasinya. Dengan konsekuensi biaya menjadi lebih mahal.
Manfaat Memasang Tangki Air Pendam pada sebuah Rumah :
1. Anda akan senantiasa memiliki Stok Air Bersih pada Tangki Air tersebut. Karena Air dari PDAM akan senantiasa mengisi Tangki Air tersebut, dan berhenti secara otomatis pada saat Permukaan Air mencapai Pelampung (Floating Valve) dan mengangkat Pelampung tersebut sehingga Kran pada Pelampung menjadi tertutup.2. Masuknya Air PDAM melalui Meteran Air ke dalam Tangki (yang mesti anda bayar) berjalan secara Normal, tanpa ada penyedotan secara langsung menggunakan Pompa Air. Karena proses penyedotan dilakukan terhadap Air PDAM yang telah terkumpul dalam Tangki Air tersebut.
3. Masuknya Air PDAM kedalam Rumah bisa berjalan dengan lancar
Mesin Pompa Air akan menyedot Air didalam Tangki dan mengalirkannya ke dalam Rumah. Volume Air didalam Tangki yang disedot oleh Mesin Pompa ini senantiasa cukup untuk memenuhi Pipa Hisap, sehingga Air PDAM bisa masuk ke dalam Rumah dengan lancar.
Advertisement
Komentar :
|
![]() |
| (Gambar 1) |
Pada kesempatan kali ini saya akan menghitung Jumlah Semen dan Pasir Pasang yang diperlukan untuk Pemasangan Dinding Bata tersebut, dan Jumlah Semen dan Pasir Pasang yang diperlukan untuk Pleseteran Dinding Bata tersebut.
Perhitungan Jumlah Semen dan Pasir Pasang untuk Pemasangan Dinding Bata :
Perhitungan dilakukan berdasarkan tabel Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang berlaku, misalnya seperti Gambar 2 dibawah ini.![]() |
| (Gambar 2. AHSP A.4.4.1.9 - Pemasangan 1 m2 Dinding Bata tebal 1/2 batu Campuran 1:4) |
Semen yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 11,5 kg/m2
Semen yang dibutuhkan = 1727,99 kg
Semen yang dibutuhkan = 34,56 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 50 kg/sak)
Semen yang dibutuhkan = 43,20 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 40 kg/sak)
Pasir yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 0,043 m3/m2
Pasir yang dibutuhkan = 6,46 m3.
Perhitungan Jumlah Semen dan Pasir Pasang untuk Plesteran :
Perhitungan dilakukan berdasarkan tabel Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang berlaku, misalnya seperti Gambar 3 dibawah ini.![]() |
| (Gambar 3. AHSP A.4.4.2.4 - Pemasangan 1 m2 Plesteran Campuran 1:4) |
Semen yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 6,24 kg/m2
Semen yang dibutuhkan = 937,62 kg
Semen yang dibutuhkan = 18,75 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 50 kg/sak)
Semen yang dibutuhkan = 23,44 sak (jika memakai Semen yang beratnya = 40 kg/sak)
Pasir yang dibutuhkan = 150,26 m2 x 0,024 m3/m2
Pasir yang dibutuhkan = 3,61 m3.
Perhitungan kebutuhan Semen dan Pasir pada 2 Jenis Pekerjaan ini selesai.. semoga bermanfaat..
Advertisement
Komentar :
|
1. U-ditch dibuat langsung di Lokasi yang diinginkan. Dimana pekerjaan Pembesian, Bekisting, dan Pengecoran-nya langsung dikerjakan di Lokasi yang diinginkan.
2. U-ditch dibuat dibuat di tempat lain, lalu dibawa ke lapangan, kemudian dilakukan Pemasangan di Lokasi yang diinginkan dengan cara menyusunnya menjadi sebuah saluran.
U-ditch bisa diterapkan untuk pekerjaan Saluran Parit Baru, bisa juga untuk mengganti Saluran Parit Lama yang sudah tidak layak lagi kondisinya, seperti Gambar 1 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 1. Saluran Parit Lama dan rencana Pemasangan U-Ditch) |
Contoh Perhitungan :
1. Ukur terlebih dahulu Panjang Saluran Parit Lama (P) yang akan dibongkar dan diganti dengan U-ditch, misalnya P =100 meter. Lalu ukur Lebar (L) dan Tinggi (T) Saluran Parit Lama tersebut, misalnya L = 0,60 meter dan T = 0,50 meter. Seperti Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 2. Saluran Parit Lama dan Ukurannya) |
Caranya bisa dilihat DISINI, (dengan asumsi Volume Saluran Parit Lama = Volume Timbunan).
Pada contoh Perhitungan disini Lebar dan Tinggi Saluran Parit Lama ini diasumsikan sama sepanjang 100 meter tersebut, yaitu Lebar = 0,6 m dan Tinggi = 0,5 m.
2. Hitung volume Saluran Parit Lama = V1
V1 = P x L x T
V1 = 100 x 0,6 x 0,5
V1 = 36 m3.
3. Lalu ukur dimensi Penampang U-Ditch yang akan digunakan, misalnya Lebar Uditch (Lu) = 1,2 meter dan Tinggi Uditch dan Lantai Kerja (Tu) = 1,3 meter. Seperti Gambar 3 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 3. Illustrasi Pemasangan Uditch dan Ukurannya) |
V2 = P x Lu x Tu
V2 = 100 x 1,2 x 1,3
V2 = 156 m3.
Pada perhitungan Volume Galian Uditch V2 ini, saya menyajikan Data Langsung dari Lebar Uditch yang akan digunakan, yaitu = 1,2 meter. Namun untuk Pelaksanaan di Lapangan, kita harus melebihkan Lebar Galian-nya untuk kebutuhan kerapian pemasangan dan kemudahan kerja di Lapangan.
5. Setelah V1 dan V2 diketahui, selanjutnya kita dapat menghitung Volume Galian Tanah untuk pemasangan Uditch (V3)
V3 = V2 - V1
V3 = 156 - 36
V3 = 120 m3
6. Perhitungan selesai.. Semoga tulisan ini berguna..
Advertisement
Komentar :
|
1. Gambar Detail dan Ukuran bagian yang akan dipasang Keramik, misalnya Lantai, Tangga, Kamar Mandi, Dinding, dan sebagainya.
2. Ukuran Keramik yang akan digunakan.
Contoh Perhitungan jumlah Keramik untuk Tangga bentuk Lurus :
Gambar Detail Tangga misalnya seperti Gambar 1 dibawah ini, yang telah dilengkapi dengan Ukuran detailnya, yaitu: Lebar Tangga = 120 cm, Lebar Pijakan Anak Tangga (Aantrade) = 27 cm, dan Tinggi Anak Tangga = 18 cm (Optrade).Ukuran Keramik yang akan digunakan misalnya = 60cm x 60cm.
![]() |
| (Gambar 1) |
Perhitungan Kebutuhan Keramik-nya :
1. Jumlah Anak Tangga = 21 buah. Keramik pijakan Anak Tangga (Aantrade) ke-21 tidak perlu dihitung, karena Keramik tersebut termasuk dalam Perhitungan Keramik Lantai 2 (sebidang dengan Lantai 2).
2. Jadi, bagian dari Tangga yang akan dipasang Keramik adalah :
a. Optrade = 21 bidang, ukurannya = 18 cm x 120 cm, dan
b. Aantrade = 20 bidang, ukurannya = 27 cm x 120 cm seperti Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 2. Keramik ukuran 60x60 dan bidang Optrade dan Aantrade Tangga) |
a. Pola pemotongan Keramik untuk bidang Optrade, bisa dilihat pada Gambar 3 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 3. Keramik ukuran 60x60 dan Potongan Keramik untuk Optrade Tangga) |
Jadi, 1 keping Keramik ukuran 60x60 = 3 potong Keramik ukuran 18x60.
Jumlah Keramik ukuran 18x60 yang dibutuhkan untuk semua Anak Tangga = 2 potong x 21 = 42 potong.
Jumlah Keramik ukuran 60x60 yang dibutuhkan untuk semua Anak Tangga = 42 potong : 3 = 14 keping.
b. Pola pemotongan Keramik untuk bidang Aantrade, bisa dilihat pada Gambar 4 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 4. Keramik ukuran 60x60 dan Potongan Keramik untuk Aantrade Tangga) |
Jadi, 1 keping Keramik ukuran 60x60 = 2 potong Keramik ukuran 27x60.
Jumlah Keramik ukuran 27x60 yang dibutuhkan untuk semua Anak Tangga = 2 potong x 20 = 40 potong.
Jumlah Keramik ukuran 60x60 yang dibutuhkan untuk semua Anak Tangga = 40 potong : 2 = 20 keping.
4. Penjumlahan dan Saran
a. Jumlah Keramik ukuran 60x60 yang dibutuhkan = 14 keping + 20 keping = 34 keping.
b. Jika 1 kotak Keramik ukuran 60x60 berisi 4 keping, maka kebutuhannya = 34 : 4 = 8,5 kotak.
c. Kita bisa saja membeli Keramik 60x60 tersebut sejumlah 9 kotak, namun ada baiknya ditambahkan 1 kotak lagi, menjadi 10 kotak. Karena seperti terlihat pada Gambar diatas, bahwa banyak sekali kegiatan pemotongan sebelum Keramik tersebut bisa dipasang. Proses pemotongan ini cukup beresiko pada pecahnya Keramik 60x60 tersebut, sehingga perlu dibeli lebih banyak dari perhitungan.
Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna..
Advertisement
Komentar :
|
![]() |
| (Gambar 1: Time Schedule dan Kurva S) |
Sebelum melakukan perhitungan Durasi, lihat dulu RAB-nya, pekerjaan apa saja yang termasuk dalam Pekerjaan Dinding Bata tersebut dan berapa Volume-nya. Seperti terlihat pada Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 2: Pekerjaan Dinding Bata pada RAB) |
1. Menghitung Durasi Pekerjaan Pemasangan Dinding 1/2 Bata :
a. Berdasarkan data Analisis Harga Satuan (AHSP) untuk pekerjaan "Pemasangan 1 m2 Dinding 1/2 Batu campuran 1SP : 4PP" pada Gambar 3 dibawah ini, bisa dihitung berapa hari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Pekerjaan tersebut. (Keterangan: OH = Orang Hari).![]() |
| (Gambar 3: AHSP No. A.4.4.1.9 - Tenaga dan Bahan) |
b. Jika pekerjaan ini dilaksanakan oleh 2 orang Tukang Batu, maka :
Durasi-nya = 150,26 m2 : (10 m2 x 2 orang) = 7,5 hari. Direncanakan selesai = 7 hari.
2. Menghitung Durasi Pekerjaan Plesteran :
a. Berdasarkan data Analisis Harga Satuan (AHSP) untuk pekerjaan "Pemasangan 1 m2 Plesteran campuran 1SP : 4PP tebal 15 mm" pada Gambar 4 dibawah ini, bisa dihitung berapa hari waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Pekerjaan tersebut. (Keterangan: OH = Orang Hari)..![]() |
| (Gambar 4: AHSP No. A.4.4.2.4 - Tenaga dan Bahan) |
b. Jika pekerjaan ini direncanakan akan dilaksanakan oleh 2 orang Tukang Batu, maka :
Durasi-nya = 284,34 m2 : (6,67 m2 x 2 orang) = 21,3 hari. Direncanakan selesai = 21 hari.
3. Penjumlahan dan Kesimpulan :
a. Dari ke-2 Perhitungan diatas, diperoleh Durasi = 7 hari + 21 hari = 28 hari = 4 minggu.b. Selanjutnya buat Bar-Chart pada Time Schedule selama = 4 minggu, seperti Gambar 1 diatas.
c. Jika jumlah Tukang Batu ditambah menjadi 3 atau 4 orang, pelaksanaan menjadi semakin cepat selesai.
Semoga tulisan ini berguna..
Advertisement
Komentar :
|
![]() |
| (Gambar 1) |
3. Harus diketahui Tinggi Batu NOL BANGUNAN, seperti terlihat pada Contoh Gambar 3 dibawah ini.
Pada Gambar 3 dibawah ini terlihat bahwa Tinggi Rencana Lantai Rumah dari Muka Jalan adalah = 65 cm, sedangkan Tinggi bagian Atas Permukaan Sloof dari Muka Jalan adalah = 20 cm, sehingga perlu dilakukan pemasangan Batu Nol Bangunan = 45 cm.
Pemasangan Batu Nol Bangunan tidak harus selalu ada pada Pembangunan sebuah Rumah. Hal ini tergantung pada Ketinggian Muka Tanah Rumah tersebut dari Muka Jalan, dan Jenis dan Ukuran Pondasi Menerus yang diterapkan pada pembangunan Rumah tersebut.
Pemasangan Batu Nol Bangunan tidak harus selalu ada pada Pembangunan sebuah Rumah. Hal ini tergantung pada Ketinggian Muka Tanah Rumah tersebut dari Muka Jalan, dan Jenis dan Ukuran Pondasi Menerus yang diterapkan pada pembangunan Rumah tersebut.
![]() |
| (Gambar 3: Tampak Samping,Tinggi Batu Nol = 45 cm) |
4. Harus diketahui Tinggi Bata (Tinggi Pasangan Bata Dinding Rumah), seperti terlihat pada Gambar 4 dibawah ini. Tinggi Bata = 380 cm.
![]() |
| (Gambar 4: Tampak Samping, Tinggi Dinding Bata = 380 cm) |
Perhitungan Jumlah Batubata:
A. Lakukan Perhitungan Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = A (meter-persegi)1. Panjang semua Dinding yang akan dipasang Batubata = L (meter)
L = Lvertikal + LhorizontalL = (7,5 + 1,5 + 7,5 + 7) + (6 + 1,9 + 1,9 + 6)
L = 23,5 + 15,8
L = 39,3 meter.
2. Luas Pasangan Batubata untuk Nol Bangunan = A1 (meter-persegi)
A1 = L x Tinggi (Pasangan Batu Nol)
A1 = 39,3 x 0,45
A1 = 17,685 m2
3. Luas Dinding Bata, termasuk Kolom Praktis dan Area Kusen Pintu dan Jendela = A2 (meter-persegi)
A2 = L x Tinggi (Pasangan Batu Dinding Rumah)
A2 = 39,3 x 3,8
A2 = 149,34 m2
4. Luas Area Pintu dan Jendela yang tidak dipasang Batubata = A3 (meter-persegi)
Luas Area Pintu tipe P1 = 1 x 2,6 x 1 unit = 2,6 m2
Luas Area Pintu tipe P2 = 0,9 x 2,6 x 3 unit = 7,02 m2
Luas Area Pintu tipe P3 = 0,7 x 2 x 1 unit = 1,4 m2
Luas Area Jendela tipe J1 = 1,15 x 1,3 x 3 unit = 4,485 m2
Luas Area Jendela tipe J2 = 1,15 x 1,1 x 1 unit = 1,265 m2
A3 = 2,6 + 7,02 + 1,4 + 4,485 + 1,265
A3 = 16,77 m2
5. Luas Area Kolom Praktis pada Perhitungan ini diasumsikan = 0, karena nilainya kecil.
6. Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = A (meter-persegi)
A = A1 + A2 - A3
A = 17,685 + 149,34 - 16,77
A = 150,255 m2
B. Lakukan Perhitungan Jumlah Batubata = n (buah)
n = A x K
Keterangan:
K adalah Koefisien, yaitu Jumlah Batubata yang dibutuhkan untuk memasang dinding seluas 1 meter-persegi.
Nilainya bisa bervariasi, tergantung dari ukuran Dimensi Batubata tersebut. Untuk mengetahui Nilai K ini, bisa dilihat pada tulisan saya sebelumnya DISINI, "Cara Menghitung Kebutuhan Jumlah Batubata Per-Meter Persegi".
Lanjutkan Perhitungan.., misalnya diketahui nilai K = 67 buah/m2
Maka, n = 150,255 x 67 = 10.067 buah
Contoh Perhitungan selesai.. Untuk menghitung jumlah Semen dan Pasir yang dibutuhkan bisa dilihat DISINI.. Semoga tulisan ini berguna..
Advertisement
Komentar :





















