|
Oleh sebab itu, sebaiknya dibuat dulu Gambar Rencana-nya berupa Gambar Potongan Melintang, yang menyajikan semua informasi Elevasi (ketinggian) yang berkenaan dengan Sloof tersebut, seperti :
1. Elevasi Permukaan Jalan didepan Rumah tersebut (elevasi As Jalan).
2. Elevasi Lantai Rumah, sebaiknya elevasi-nya direncanakan berdasarkan elevasi As Jalan.
3. Elevasi Permukaan Tanah tempat Sloof tersebut akan dibuat (elevasi Muka Tanah).
4. Space (jarak) yang dibutuhkan untuk Installasi Pipa (Plumbing) dibawah Lantai Rumah.
Pada contoh dibawah ini, tampak gambar Rencana elevasi Sloof yang dibuat diatas Pondasi Tapak pada sebuah Rumah. Ada 3 Alternatif elevasi Sloof pada Gambar dibawah ini, yaitu Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar 3. (klik pada gambar, untuk tampilan lebih besar).
![]() |
| (Gambar 1., Gambar 2., dan Gambar 3.) |
Keterangan :
Diketahui elevasi Muka Tanah = 5 cm di bawah permukaan As Jalan.
Direncanakan elevasi Lantai Rumah (keramik) = 50 cm di atas permukaan As Jalan.
Ukuran Penampang Sloof = 20 x 35, (lebar = 20 cm, tinggi = 35 cm).
Jika Top-Cor Sloof dibuat Rata dengan Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 1.
Jika Top-Cor Sloof dibuat 20cm diatas Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 2.
Jika Sloof dibuat duduk diatas Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 3.
(untuk lebih jelas, silahkan lihat uraian-nya dibawah ini)
Diketahui elevasi Muka Tanah = 5 cm di bawah permukaan As Jalan.
Direncanakan elevasi Lantai Rumah (keramik) = 50 cm di atas permukaan As Jalan.
Ukuran Penampang Sloof = 20 x 35, (lebar = 20 cm, tinggi = 35 cm).
Jika Top-Cor Sloof dibuat Rata dengan Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 1.
Jika Top-Cor Sloof dibuat 20cm diatas Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 2.
Jika Sloof dibuat duduk diatas Muka Tanah, maka hasilnya seperti Gambar 3.
(untuk lebih jelas, silahkan lihat uraian-nya dibawah ini)
Gambar 1 : Top-Cor Sloof dibuat Rata dengan Muka Tanah :
Tampak pada Gambar dibawah ini, diperlukan pasangan Batubata, tinggi = 42cm + 13cm = 55cm untuk mencapai elevasi Lantai Rumah (Pasangan Batu NOL). Jika panjang pasangan Batubata = 100 meter, maka Volume Pasangan Batu NOL-nya = 55cm x 100m = 0,55m x 100m = 55 m2.Gambar 2 : Top-Cor Sloof dibuat 20 cm diatas Muka Tanah
Tampak pada Gambar dibawah ini, diperlukan pasangan Batubata, tinggi = 22cm + 13cm = 35cm untuk mencapai elevasi Lantai Rumah (Pasangan Batu NOL). Jika panjang pasangan Batubata = 100 meter, maka Volume Pasangan Batu NOL-nya = 35cm x 100m = 0,35m x 100m = 35 m2.Gambar 3 : Sloof Duduk diatas Muka Tanah
Tampak pada Gambar dibawah ini, diperlukan pasangan Batubata, tinggi = 7cm + 13cm = 20cm untuk mencapai elevasi Lantai Rumah (Pasangan Batu NOL). Jika panjang pasangan Batubata = 100 meter, maka Volume Pasangan Batu NOL-nya = 20cm x 100m = 0,2m x 100m = 20 m2.Kesimpulan :
Semakin rendah elevasi Sloof pada sebuah Rumah, maka semakin besar Volume Pasangan Batu NOL-nya, (Batu NOL ini terletak dibawah Lantai Rumah). Untuk menghemat biaya, sebaiknya volume Pasangan Batu NOL ini diminimalisir dengan cara meninggikan elevasi Sloof tersebut semaksimal mungkin.
Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga bermanfaat.. Cara Menghitung Jumlah Batubata Permeter Persegi bisa dilihat DISINI..
Advertisement
Komentar :
|
A. Tahapan Pekerjaan Cor Beton pada Rumah 1 Lantai
Disini saya memaparkan jika Rumah tersebut menggunakan Pondasi Setempat. Pelaksanaan Pengecoran-nya dilakukan secara berurutan, sesuai dengan Gambar 1 dibawah ini.![]() |
| (Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Rumah 1 Lantai) |
1. Pengecoran Tapak Pondasi (A), yang fungsi-nya memikul semua beban diatasnya, yaitu berat Struktur, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing.
2. Pengecoran Kolom diatas Pondasi / Kolom dibawah Sloof (B), yang fungsi-nya menyalurkan semua beban diatas-nya ke Tapak Pondasi.
3. Pengecoran Sloof (C), yang berfungsi sebagai Pondasi Menerus yang memikul berat Dinding, Kusen, Pintu, dan Jendela diatasnya. Juga sebagai Pengaku bagi semua Kolom dibawah Sloof (B)
4. Pengecoran Kolom Praktis (D), yang biasanya dilakukan setelah pemasangan Dinding Rumah, yang bisa dibuat dari Batubata, Hebel, Batu Kapur, atau Batako. Fungsi Kolom Praktis ini adalah agar semua pasangan Dinding tersebut dapat berdiri kokoh dan tidak mengalami retak di kemudian hari.
5. Pengecoran Ring Balok (E), dilakukan setelah semua pasangan Dinding Rumah dan pengecoran Kolom Praktis (D) selesai. Fungsi-nya adalah sebagai Pengaku bagi semua pasangan Dinding Rumah dan Kolom Praktis tersebut, juga sebagai Dudukan yang kokoh untuk pemasangan Rangka Kuda-kuda Atap.
B. Tahapan Pekerjaan Cor Beton pada Rumah 2 Lantai
Disini saya memaparkan jika Rumah tersebut menggunakan Pondasi Setempat. Pelaksanaan Pengecoran-nya dilakukan secara berurutan, sesuai dengan Gambar 2 dibawah ini.![]() |
| (Gambar 2. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Rumah 2 Lantai) |
1. Pengecoran Tapak Pondasi (A), yang fungsi-nya memikul semua beban Lantai 1 dan Lantai 2, yaitu berat Struktur, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing.
2. Pengecoran Kolom diatas Pondasi / Kolom dibawah Sloof (B), yang fungsi-nya menyalurkan semua beban diatas-nya ke Tapak Pondasi.
3. Pengecoran Sloof (C), yang berfungsi sebagai Pondasi Menerus yang memikul berat Dinding, Kusen, Pintu, dan Jendela, yang berada di Lantai 1. Juga sebagai Pengaku bagi semua Kolom dibawah Sloof (B)
4. Pengecoran Kolom Lantai 1 (D), yang fungsi-nya memikul semua beban pada Lantai 2, yaitu Balok Beton, Plat Lantai Beton, Kolom, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing di Lantai 2.
5. Pengecoran Balok Beton Lantai 2, Plat Beton Lantai 2, dan Tangga Beton (E), yang biasanya dilakukan sekaligus pada waktu yang sama.
6. Pengecoran Kolom Lantai 2 (F), yang dilakukan diatas Plat Beton Lantai 2 dan Balok Beton Lantai 2.
7. Pengecoran Ring Balok (G), yang dilakukan setelah semua pasangan Dinding Rumah Lantai 2 dan pengecoran Kolom Lantai 2 (F) selesai. Fungsi-nya adalah sebagai Pengaku bagi semua pasangan Dinding Rumah dan Kolom Lantai 2 tersebut, juga sebagai Dudukan yang kokoh untuk pemasangan Rangka Kuda-kuda Atap.
Demikian tulisan sederhana saya kali ini.. Semoga bermanfaat..
Advertisement
Komentar :
|
Jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian dalam Rumah, hal ini tidak begitu berdampak buruk. Namun jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian Dinding Luar rumah (yang akan terkena Air Hujan), maka hal bisa memiliki dampak lain, seperti terlihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 1. Celah Retak - pada Dinding Luar Rumah ) |
Kondisi Celah (Retak) seperti Gambar 1, akan menyebabkan Air Hujan bisa masuk melalui Celah tersebut ke bagian dalam Dinding Rumah, seperti Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 2. Air Hujan Masuk ke Dinding dalam Rumah |
Tentu saja Kondisi Dinding dalam Rumah seperti Gambar 2 diatas sangat tidak kita inginkan terjadi pada dinding Rumah kita.
Cara Memperbaiki-nya adalah sebagai berikut :
1. Perbesar terlebih dahulu Celah (Retak) Plesteran disekeliling Kusen Kayu pada Gambar 1 diatas, dengan menggunakan Pahat Batu. Dengan ukuran Lebar dan Dalam kira-kira = 0,5cm sampai 1cm. Lalu bersihkan Sisa Debu pada lubang dengan menggunakan Kuas. Seperti Gambar 3 dibawah ini.
2. Pasang Kertas Lem pada bagian tepi Kusen Kayu, untuk melindungi Cat Kusen tersebut pada saat Pemberian Sealant. Menjadi seperti Gambar 3 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 3. Celah Retak pada Dinding Luar rumah yang telah dilebarkan) |
Bisa menggunakan Sikaflex-11C atau Sikaflex-Construction, seperti Gambar 4 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 4. Contoh Sealant yang dapat Merekat pada Permukaan Kayu dan Plesteran) |
4. Aplikasi-kan Sealant tersebut dengan menggunakan bantuan Sealant-Gun pada semua Celah Retak yang telah dilebarkan tersebut, seperti Gambar 5 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 5. Pemberian Sealant pada Celah Retak yang telah dilebarkan) |
5. Rapikan semua Sealant agar rata dengan permukaan Dinding, dengan menggunakan Kape (Sekrap). Seperti Gambar 6 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 6. Sealant telah dirapikan dengan Kape atau Sekrap) |
6. Setelah semua permukaan Sealant rapi, segera lepaskan semua Kertas Lem yang menempel pada Kusen Kayu tersebut, sebelum Sealant tersebut kering. Kertas Lem akan lebih mudah dilepas, jika Sealant masih dalam keadaan Basah atau Setengah Kering.
7. Tunggu beberapa Jam hingga Sealant benar-benar kering. Lalu lakukan Pengecatan agar dinding tersebut kembali rapi seperti semula. Seperti Gambar 7 dan Gambar 8 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 7 dan Gambar 8) |
8. Selesai..
Demikian tulisan kali ini.. Semoga bermanfaat.. Apa yang menyebabkan terjadinya Retak pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran..? Bisa dilihat DISINI..
Komentar :
Demikian tulisan kali ini.. Semoga bermanfaat.. Apa yang menyebabkan terjadinya Retak pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran..? Bisa dilihat DISINI..
Advertisement
Komentar :
|
Sesuai dengan namanya, pemasangan Tangki air ini dilakukan dibawah Tanah. Seperti Gambar 1 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 1. Underground Tank - Dipendam langsung) |
Material Dinding Tangki Pendam (Heavyduty Tank) ini lebih tebal daripada Tangki Umum (General). Seperti terlihat pada Gambar 2 dan Gambar 3 dibawah ini, dengan Merk dan Pabrikan yang sama.
Tebal Dinding Tangki kapasitas 2000 liter, berdasarkan Gambar 2 dan Gambar 3 :
Tangki Pendam (Heavyduty Tank) kapasitas 2000 liter, memiliki Tebal Dinding = 18 - 20 mm.
Tangki Umum (General Tank) kapasitas 2000 liter, memiliki Tebal Dinding = 10 - 12 mm.
![]() |
| (Gambar 2. Spesifikasi Teknis Heavyduty Tank) |
![]() |
| (Gambar 3. Spesifikasi Teknis Reguler Tank) |
Cara Pasang Tangki Air Pendam ini ada 2, yaitu :
1. Tangki bisa langsung dipendam didalam Tanah seperti Gambar 1 diatas.Pada kondisi tersebut, Dinding Tangki langsung bersinggungan dan terjepit oleh Tanah disekelilingnya. Lantai dibawah Tangki harus dibuat kuat, agar mampu mendukung Tekanan Tangki dan Air didalamnya nanti. Sebaiknya Lantai ini dibuat dari Cor Beton.
2. Tangki dipasang dalam sebuah Ruangan Bawah Tanah yang telah disediakan sebelumnya. Ruangan ini bisa dibuat seperti contoh Gambar 4 dibawah ini.
Pada kondisi ini Dinding Tangki tidak bersinggungan dan tidak terjepit oleh Tanah di sekelilingnya. Lantai dibawah Tangki juga harus dibuat kuat dan mampu mendukung Tekanan Tangki dan Air didalamnya nanti.
![]() |
| (Gambar 4. Underground Tank - didalam Ruangan Bawah Tanah) |
Anda boleh saja memilih salah satu dari 2 Cara diatas. Tergantung dari Efisiensi Dana, Waktu, dan Kemudahan Pekerjaan yang anda inginkan. Namun mungkin kita sama-sama bisa menilai, bahwa Cara seperti Gambar 4 akan lebih baik hasilnya. Lebih baik dari segi Kerapian dan Kemudahan Maintenance (Perawatan) Tangki tersebut dan Material Installasinya. Dengan konsekuensi biaya menjadi lebih mahal.
Manfaat Memasang Tangki Air Pendam pada sebuah Rumah :
1. Anda akan senantiasa memiliki Stok Air Bersih pada Tangki Air tersebut. Karena Air dari PDAM akan senantiasa mengisi Tangki Air tersebut, dan berhenti secara otomatis pada saat Permukaan Air mencapai Pelampung (Floating Valve) dan mengangkat Pelampung tersebut sehingga Kran pada Pelampung menjadi tertutup.2. Masuknya Air PDAM melalui Meteran Air ke dalam Tangki (yang mesti anda bayar) berjalan secara Normal, tanpa ada penyedotan secara langsung menggunakan Pompa Air. Karena proses penyedotan dilakukan terhadap Air PDAM yang telah terkumpul dalam Tangki Air tersebut.
3. Masuknya Air PDAM kedalam Rumah bisa berjalan dengan lancar
Mesin Pompa Air akan menyedot Air didalam Tangki dan mengalirkannya ke dalam Rumah. Volume Air didalam Tangki yang disedot oleh Mesin Pompa ini senantiasa cukup untuk memenuhi Pipa Hisap, sehingga Air PDAM bisa masuk ke dalam Rumah dengan lancar.
Advertisement
Komentar :
|
Penimbunan sering dilakukan untuk menambah ketinggian lantai Rumah, Gedung, Kantor, Pasar, Halaman, Jalan Raya, Tanah Kosong, dan sebagainya. Material timbunan bisa menggunakan Tanah Biasa, bisa juga menggunakan Bahan Pilihan (sesuai dengan spesifikasi material yang telah disepakati).
Schedule Penimbunan bisa dilakukan pada 2 waktu, yaitu:
1. Pada saat kondisi Lahan (Area) masih kosong, belum ada kegiatan pekerjaan Konstruksi diatasnya.
2. Bersamaan dengan kegiatan pekerjaan Konstruksi diatasnya.
Contoh Perhitungan:
Pada tulisan kali ini, saya akan memberikan contoh cara Menghitung Volume Tanah Timbun pada sebidang tanah kosong, ukuran lebar tanah = 80 meter, dan panjang = 90 meter (seperti terlihat pada Gambar 1 dibawah ini). Dengan Elevasi Rencana Timbunan = 0,5 m diatas Permukaan Tanah Tertinggi tanah tersebut.Cara Perhitungan:
A. Lakukan Pengambilan Data di Lapangan (di Lokasi tanah kosong tersebut)
1. Pengambilan Data di Lapangan adalah melakukan Kegiatan Pengukuran di Lokasi Tanah tersebut dengan menggunakan alat Theodolit atau Water-Pas, dibantu dengan Rambu Ukur.
Contoh Perhitungan disini adalah dengan cara membuat Cross Section Melintang (Potongan Area Melintang) pada bidang tanah tersebut. Cross Section direncanakan dibuat setiap jarak 30 meter, seperti Gambar 2 dibawah ini. Sehingga didapat 4 buah Cross Section, yaitu: A1-A1', A2-A2', A3-A3', dan A4-A4'.
4. Pengambilan Data di Lapangan selesai.., selanjutnya boleh pulang.. Lanjutkan Pekerjaan Perhitungan Volume Timbunannya di Kantor..
B. Lakukan Perhitungan Volume Timbunan
1. Dari data Pengukuran di Lapangan diperoleh 20 titik data Tinggi Permukaan tanah. Diketahui pula dimana posisi Titik Permukaan Tanah Tertinggi. Naikkan 0,5 m dari Titik Permukaan Tanah Tertinggi tersebut, seperti Garis Putus-putus pada Gambar 5 dibawah ini. Garis Putus-putus ini adalah Elevasi Rencana Timbunan.
2. Berdasarkan Garis Elevasi Rencana Timbunan, hitung Ketinggiian 19 titik lainnya. Buat Gambar dari hasil Data Ukur tersebut dengan lengkap, seperti Gambar 5 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 5: Data Tinggi Tanah hasil Pengukuran di Lapangan) |
![]() |
| (Gambar 6: Hasil dari Cross Section Melintang) |
V = Volume Timbunan, diatas Permukaan Kontur Tanah (m3)
A1 = Luas Penampang bidang 1 (m2)
A2 = Luas Penampang bidang 2 (m2)
A3 = Luas Penampang bidang 3 (m2)
A4 = Luas Penampang bidang 4 (m2)
L1 = Jarak antara A1 dan A2 (m)
L2 = Jarak antara A2 dan A3 (m)
L3 = Jarak antara A3 dan A4 (m)
5. Sekarang kita hitung terlebih dahulu Luas A1, A2, A3, dan A4 tersebut, berdasarkan data yang ada. Perhatikan Gambar 7 dibawah ini. Semua bidang A1, A2, A3, dan A4 (bagian yang diarsir) bentuknya adalah Polygon tertutup.
Cara Matematis untuk Menghitung Luas Polygon Tertutup ada 2, yaitu:
1. Dengan Cara Koordinat, caranya dapat dilihat dipelajari DISINI.
2. Dengan Cara Trapezoidal's Rule.
![]() |
| (Gambar 7) |
![]() |
| (Gambar 8: Bidang A1, dimana A1 = a1+b1+c1+d1) |
Luas A1 = ((0,7+0,6)/2 x 20) + ((0,6+0,5)/2 x 20) + ((0,5+0,5)/2 x 20) + ((0,5+0,6)/2 x 20)
Luas A1 = (0,65 x 20) + (0,55 x 20) + (0,5 x 20) + (0,55 x 20)
Luas A1 = 13 + 11 + 10 + 11
Luas A1 = 45 m2 (meter-persegi)
7. Dengan Cara yang sama, lakukan Perhitungan Luas bidang A2, A3, dan A4, maka akan diperoleh :
Luas A2 = 52 m2 (meter-persegi)
Luas A3 = 59 m2 (meter-persegi)
Luas A4 = 67 m2 (meter-persegi)
8. Selanjutnya kita dapat menghitung Volume Tanah Timbun (V)
V = ((45+52)/2 x 30) + ((52+59)/2 x 30) + ((59+67)/2 x 30)
V = (48,5 x 30) + (55,5 x 30) + (63 x 30)
V = 1455 + 1665 + 1890
V = 5010 m3 (meter-kubik)
9. Perhitungan Volume Tanah Timbun selesai.. Semoga Informasi ini berguna..
Catatan:
Volume tersebut dalam keadaan Tanah Padat, bukan dalam keadaan Gembur.
Semakin dekat jarak L1, L2, dan L3, maka akan semakin akurat Perhitungan Volume Tanah Timbun tersebut, dan semakin dekat jarak Patok Kayu sementara yang dipasang pada setiap Cross Section, maka akan semakin akurat pula Perhitungan Volume Tanah Timbun tersebut.
Advertisement
Komentar :
|
Seperti yang telah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya, pada "Tips dan Cara Menghitung Kebutuhan Jumlah Keramik Lantai Rumah", Keramik Lantai yang banyak digunakan biasanya berbentuk Bujur Sangkar. Ada yang berukuran 20x20 cm, 30x30 cm, 40x40 cm, 50x50 cm, 60x60 cm, 80x80 cm, dan sebagainya. Kita bisa memilih Ukuran Keramik yang ideal (cocok) untuk dipasangan pada Ruangan yang kita inginkan.
Pola pemasangan Keramik pada sebuah Ruangan sebaiknya direncanakan terlebih dahulu, agar menghasilkan tampilan yang lebih Indah dan lebih Ekonomis. Disini saya akan memberikan Tips Cara Mengatur Susunan Pasangan Keramik Lantai tersebut.
Tips dan Cara Mengatur Susunan Pasangan Keramik:
1. Gambar 1 dibawah adalah contoh Denah Rumah yang akan dipasang Keramik, yang memiliki Pintu Masuk tipe 2 Daun. Tahap pertama: Ukur lebar ruangan tersebut. Seperti terlihat pada Gambar 1 dibawah, didapat Lebar ruangan = 286 cm.2. Ukuran Keramik Lantai yang hendak dipasang adalah 60x60 cm. Selanjutnya kita akan merencanakan peletakan posisi Keramik Pertama yang letaknya tepat di Area Pintu masuk. Seperti terlihat pada Gambar 2 dibawah ini.
Posisi Keramik Pertama ini penting, menjadi pedoman untuk pemasangan Keramik selanjutnya. Karena posisinya berada pada Pintu Masuk (yang senantiasa terlihat saat seseorang masuk atau keluar Rumah), maka letaknya harus Simetris terhadap Lebar ruangan, agar indah dilihat.
6. Setelah disepakati memakai pola pemasangan Alternatif Kedua, lanjutkan dengan pemasangan Kepala Keramik, seperti terlihat pada Gambar 7 dibawah ini. Semua Keramik yang terpasang pada Gambar 7 tersebut diberi nama Kepala Keramik (istilah di Lapangan), yang fungsinya menjadi Pedoman bagi pemasangan Keramik yang lain (selanjutnya).
Untuk melengkapi.., jika pemasangan Keramik Lantai tersebut mengikuti pola pemasangan Alternatif Pertama, hasilnya menjadi seperti Gambar 9 dibawah ini.
Advertisement
Komentar :
|
Jika ACP dipasang pada bagian Luar Bangunan, sebaiknya Sealant atau Silikon yang digunakan memiliki Karakteristik sebagai berikut :
1. Tahan terhadap suhu Panas dan Ultra Violet dari Sinar Matahari,
2. Tahan terhadap suhu Dingin,
3. Tahan terhadap siraman Air Hujan,
4. Memiliki Daya Rekat yang tinggi pada Permukaan ACP yang cenderung tidak berpori.
Secara Umum, tahapan memasang ACP ini bisa dibagi atas 4, yaitu :
1. Pemasangan Konstruksi Rangka dudukan Alumanium Composit Panel (ACP) pada bangunan.2. Fabrikasi Lembaran ACP.
3. Pemasangan Lembaran ACP (yang telah difabrikasi) pada Konstruksi Rangka Dudukan.
4. Pemberian Sealant pada sela Lembaran ACP dan Pembersihan.
Cara Memberikan Sealant pada sela Lembaran ACP :
1. Rekatkan Kertas Lem (A) pada Lembaran ACP, posisi Kertas Lem dapat dlihat seperti Gambar dibawah ini.2. Selipkan (masukkan) Flexible Gasket (B) kedalam sela Lembaran ACP tersebut dengan bantuan Kape/ Sekrap (C), seperti pada Gambar dibawah ini.
Flexible Gasket yang masuk kedalam sela Lembaran ACP harus cukup kedalaman-nya untuk memberikan ruang bagi Sealant yang akan diaplikasi-kan diatas Flexible Gasket tersebut.
3. Aplikasi-kan Sealant (D) pada sela Lembaran ACP yang telah dipasang Flexible Gasket tersebut, dengan bantuan Sealant Gun (E) agar pekerjaan menjadi lebih mudah, seperti Gambar dibawah ini.
4. Lalu rapikan Sealant tersebut dengan menggunakan Kape/ Sekrap (F) yang ujungnya telah dimodifikasi menjadi Melengkung, seperti Gambar dibawah ini.
![]() |
| (Sekrap atau Kape yang Ujung-nya telah dimodifikasi menjadi Melengkung) |
5. Setelah proses merapikan Sealant dengan Kape selesai, lepaskan Kertas Lem (A) dari permukaan Lembaran ACP tersebut.
Agar lebih mudah, proses melepaskan Kertas Lem tersebut harus segera dilakukan pada saat Sealant masih dalam keadaan Basah (setengah kering). Seperti terlihat pada Gambar dibawah ini.
6. Setelah semua pekerjaan Pemberian Sealant diatas selesai, lakukan Pembersihan pada semua permukaan ACP yang ada. Baik itu berupa sisa kotoran Sealant yang menempel, melepaskan Plastik lapisan Pelindung Permukaan ACP, dan sebagainya.
7. Pekerjaan pemberian Sealant selesai.. Semoga tulisan ini berguna..
Advertisement
Komentar :
|
1. Pemilihan Material yang berkualitas dan tepat guna,
2. Kekuatan Pemasangan,
3. Kerapian Pemasangan.
Memasangnya yaitu dengan Cara mengunci Bracket yang telah dipasang Lembaran ACP sebelumnya, pada Rangka Dudukan ACP (besi Hollow), menggunakan Sekrup (Pengunci) dengan bantuan Mesin Bor.
Material dan Peralatan yang dibutuhkan :
1. Mesin Bor (C) untuk memasang Sekrup Pengunci,2. Mata Kunci Baut Hexagon (A) untuk memasang Sekrup tipe Kepala Sekrup Hexagon,
(jika Kepala Sekrup Pengunci berbentuk Hexagon)
3. Mata Obeng Positif (B) untuk memasang Sekrup tipe Kepala Sekrup Lubang Positif.
(jika Kepala Sekrup Pengunci berbentuk Lubang Positif)
Pada Gambar diatas terlihat 3 jenis Sekrup, yaitu Sekrup tipe (D) (Kepala Sekrup Pengunci berbentuk Hexagon), (E) (Kepala Sekrup Pengunci berbentuk Lubang Positif), dan (F).
Gunakan Sekrup tipe (D) atau tipe (E) untuk menyatukan Bracket Lembaran ACP pada Rangka Dudukan Besi Hollow. Sebaiknya jangan menggunakan Sekrup tipe (F). Mengapa saya menyarankan Hal ini..? Alasannya akan saya paparkan pada Tulisan berikutnya.
2. Persiapkan Mesin Bor dan Mata Obeng Positif untuk memasang Sekrup Pengunci tipe (E) tersebut. Lalu pasang Mata Obeng Positif (B) pada Mesin Bor (C), kunci dengan kuat menggunakan Kunci Penjepit (G) yang telah disediakan pada saat pembelian Mesin Bor.
3. Lakukan Pemasangan Lembaran ACP pada Rangka Dudukan menggunakan Sekrup Pengunci, dengan bantuan Mesin Bor dan Mata Obeng Positif, seperti 2 buah Gambar dibawah ini.
4. Lakukan Penguncian pada ke-8 Bracket yang ada, seperti Gambar dibawah ini.
5. Lakukan Pemasangan Lembaran ACP pada lembaran-lembaran berikutnya, sampai semua Rangka Dudukan terpasang oleh Lembaran ACP tersebut. Seperti Gambar dibawah ini.
Gunakan Sekrup tipe (D) atau tipe (E) untuk menyatukan Bracket Lembaran ACP pada Rangka Dudukan Besi Hollow. Sebaiknya jangan menggunakan Sekrup tipe (F). Mengapa saya menyarankan Hal ini..? Alasannya akan saya paparkan pada Tulisan berikutnya.
Tahapan Memasang Lembaran ACP pada Rangka Hollow :
1. Tentukan dan sediakan terlebih dahulu Sekrup Pengunci yang akan digunakan untuk menyatukan Bracket Lembaran ACP pada Rangka Dudukan-nya. Misalnya disini kita menggunakan Sekrup tipe (E), seperti Gambar diatas.2. Persiapkan Mesin Bor dan Mata Obeng Positif untuk memasang Sekrup Pengunci tipe (E) tersebut. Lalu pasang Mata Obeng Positif (B) pada Mesin Bor (C), kunci dengan kuat menggunakan Kunci Penjepit (G) yang telah disediakan pada saat pembelian Mesin Bor.
![]() |
| (Pemasangan Sekrup dan Mata Obeng Positif pada Mesin Bor) |
![]() |
| (Penguncian Lembaran ACP pada Rangka Dudukan menggunakan Sekrup) |
![]() |
| (1 Lembar ACP telah selesai terpasang pada Rangka Dudukan besi Hollow) |
7. Selanjutkan kita menuju Tahap Terakhir Pemasangan ACP ini (tahap ke 4), yaitu Pemberian Sealent pada sela Lembaran ACP. Semoga tulisan ini berguna..
Advertisement
Komentar :










































