|
1. Keramik yang dipasang di atas Lantai,
2. Keramik yang dipasang pada Dinding, dan
3. Keramik yang dipasang pada Langit-langit, seperti dibawah Plat Lantai Beton atau dibawah Plat Tangga Beton, seperti Gambar 1 dibawah ini, (walaupun Hal ini sangat jarang dilakukan).
![]() |
| (Gambar 1. Pemasangan Keramik dibawah Plat Lantai Beton) |
Berdasarkan Kekuatannya, Keramik yang dibuat oleh Pabrik terdiri atas 2 jenis, yaitu :
1. Keramik yang Tahan terhadap Tekanan, biasanya digunakan untuk Keramik LantaiYaitu Keramik yang (dalam keadaan terpasang) diperkirakan Kuat menahan Beban Manusia yang berjalan diatasnya, dan tahan terhadap Tekanan beban Furniture yang nantinya akan diletakkan diatasnya, seperti Meja, Kursi, Lemari, Tempat Tidur, Sofa, Rak, dan sebagainya.
Ciri-ciri umumnya adalah :
a. Biasanya memiliki bidang (ukuran) Bujur Sangkar, seperti: 60x60 cm, 50x50 cm, 40x40 cm, 33,3x33,3 cm, 30x30 cm, 25x25 cm, 20x20 cm, dan sebagainya.
b. Keramik ini Lebih Tebal dari Keramik yang biasa dipakai untuk Dinding.
c. Permukaan Keramik ini ada 2 macam. Ada yang Permukaannya Halus, cocok dipakai untuk Lantai didalam Rumah. Dan ada yang Permukaannya Kasar, cocok dipakai untuk Lantai Kamar Mandi dan Lantai diluar Rumah yang sewaktu-waktu terkena Air.
2. Keramik yang tidak Tahan terhadap Tekanan, biasanya digunakan untuk Keramik Dinding
Yaitu Keramik yang (dalam keadaan terpasang) diperkirakan Tidak Kuat menahan Beban Manusia yang berjalan diatasnya, dan Tidak Kuat menahan Tekanan beban Furniture yang nantinya akan diletakkan diatasnya, seperti Meja, Kursi, Lemari, Tempat Tidur, Sofa, Rak, dan sebagainya.
Ciri-ciri umumnya adalah :
a. Biasanya memiliki bidang (ukuran) Persegi Panjang, seperti: 25x75 cm, 30x60 cm, 20x60 cm, 25x50 cm, 20x40 cm, 20x25 cm, dan sebagainya.
b. Keramik ini Lebih Tipis dari Keramik yang biasa dipakai untuk Lantai.
c. Keramik ini pada umumnya memiliki Permukaan yang Halus dan Mudah dibersihkan.
![]() |
| (Gambar 2. Keramik Dinding dan Keramik Lantai) |
Jika ditinjau dari segi Kekuatannya, Keramik Lantai bisa saja dipasang pada Dinding, dengan tetap memperhatikan dan menyesuaikan Motif (Corak) Keramik tersebut. Tapi Keramik Dinding sebaiknya tidak dipasang pada Lantai, karena kekuatannya tidak memadai untuk menahan beban jika dipasang pada Lantai.
Demikian tulisan sederhana saya kali ini.. Semoga bermanfaat..
Advertisement
Komentar :
|
A. Tahapan Pekerjaan Cor Beton pada Rumah 1 Lantai
Disini saya memaparkan jika Rumah tersebut menggunakan Pondasi Setempat. Pelaksanaan Pengecoran-nya dilakukan secara berurutan, sesuai dengan Gambar 1 dibawah ini.![]() |
| (Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Rumah 1 Lantai) |
1. Pengecoran Tapak Pondasi (A), yang fungsi-nya memikul semua beban diatasnya, yaitu berat Struktur, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing.
2. Pengecoran Kolom diatas Pondasi / Kolom dibawah Sloof (B), yang fungsi-nya menyalurkan semua beban diatas-nya ke Tapak Pondasi.
3. Pengecoran Sloof (C), yang berfungsi sebagai Pondasi Menerus yang memikul berat Dinding, Kusen, Pintu, dan Jendela diatasnya. Juga sebagai Pengaku bagi semua Kolom dibawah Sloof (B)
4. Pengecoran Kolom Praktis (D), yang biasanya dilakukan setelah pemasangan Dinding Rumah, yang bisa dibuat dari Batubata, Hebel, Batu Kapur, atau Batako. Fungsi Kolom Praktis ini adalah agar semua pasangan Dinding tersebut dapat berdiri kokoh dan tidak mengalami retak di kemudian hari.
5. Pengecoran Ring Balok (E), dilakukan setelah semua pasangan Dinding Rumah dan pengecoran Kolom Praktis (D) selesai. Fungsi-nya adalah sebagai Pengaku bagi semua pasangan Dinding Rumah dan Kolom Praktis tersebut, juga sebagai Dudukan yang kokoh untuk pemasangan Rangka Kuda-kuda Atap.
B. Tahapan Pekerjaan Cor Beton pada Rumah 2 Lantai
Disini saya memaparkan jika Rumah tersebut menggunakan Pondasi Setempat. Pelaksanaan Pengecoran-nya dilakukan secara berurutan, sesuai dengan Gambar 2 dibawah ini.![]() |
| (Gambar 2. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Struktur Rumah 2 Lantai) |
1. Pengecoran Tapak Pondasi (A), yang fungsi-nya memikul semua beban Lantai 1 dan Lantai 2, yaitu berat Struktur, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing.
2. Pengecoran Kolom diatas Pondasi / Kolom dibawah Sloof (B), yang fungsi-nya menyalurkan semua beban diatas-nya ke Tapak Pondasi.
3. Pengecoran Sloof (C), yang berfungsi sebagai Pondasi Menerus yang memikul berat Dinding, Kusen, Pintu, dan Jendela, yang berada di Lantai 1. Juga sebagai Pengaku bagi semua Kolom dibawah Sloof (B)
4. Pengecoran Kolom Lantai 1 (D), yang fungsi-nya memikul semua beban pada Lantai 2, yaitu Balok Beton, Plat Lantai Beton, Kolom, Dinding, Kusen dan Pintu, Atap, Plafon, Elektrikal, Plumbing, dan semua item pekerjaan Finishing di Lantai 2.
5. Pengecoran Balok Beton Lantai 2, Plat Beton Lantai 2, dan Tangga Beton (E), yang biasanya dilakukan sekaligus pada waktu yang sama.
6. Pengecoran Kolom Lantai 2 (F), yang dilakukan diatas Plat Beton Lantai 2 dan Balok Beton Lantai 2.
7. Pengecoran Ring Balok (G), yang dilakukan setelah semua pasangan Dinding Rumah Lantai 2 dan pengecoran Kolom Lantai 2 (F) selesai. Fungsi-nya adalah sebagai Pengaku bagi semua pasangan Dinding Rumah dan Kolom Lantai 2 tersebut, juga sebagai Dudukan yang kokoh untuk pemasangan Rangka Kuda-kuda Atap.
Demikian tulisan sederhana saya kali ini.. Semoga bermanfaat..
Advertisement
Komentar :
|
![]() |
| (Retak terjadi pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran) |
Retak ini sebenarnya lumrah terjadi, penyebabnya karena 2 hal dibawah ini :
1. Bahan Plesteran (Mortar yang terdiri dari Semen dan Pasir) bagaimanapun tidak akan bisa mengikat pada Kusen Kayu disebelahnya. Karena Semen yang biasa dipakai untuk Pasangan Bata dan Plesteran tidak memiliki karakteristik dapat merekatkan Pasir pada Kayu, tapi hanya bisa merekatkan sesama Material Pasir, Kerikil, Batubata, Batako, dan Produk lain yang terbuat dari Agregat.2. Retak terjadi karena adanya Penyusutan Volume pada Plesteran dan Kusen Kayu, sehingga Plesteran dan Kusen Kayu menjadi terpisah dan timbul celah diantaranya. Celah ini yang biasa kita sebut dengan Retakan.
Catatan:
Semakin besar Penyusutan Volume pada Kusen Kayu dan Plesteran, maka semakin besar pula Retakan (Celah) yang timbul, demikian pula sebaliknya.
Penyusutan Volume pada Kusen Kayu dan Plesteran ini juga lumrah terjadi, karena :
1. Plesteran terdiri dari campuran Semen, Pasir, dan Air, yang dalam keadaan basah disebut Mortar. Setelah Mortar diaplikasikan menjadi sebuah Plesteran dan mengering, Kadar Air didalam Mortar akan hilang. Hal ini-lah yang membuat terjadinya Penyusutan Volume pada Plesteran tersebut. Semakin kering Plesteran tersebut, maka semakin besar Penyusutan yang terjadi.2. Dalam pembuatan Kusen Kayu, bisa saja Produsen menggunakan bahan baku Kayu yang masih memiliki Kadar Air. Semakin tinggi Kadar Air awal bahan baku-nya, maka akan semakin tinggi pula Penyusutan Volume yang dialami Kusen Kayu tersebut nanti (setelah dipergunakan).
3. Walaupun Kusen dibuat menggunakan bahan baku Kayu yang telah di-oven untuk menghilangkan Kadar Air-nya, belum tentu Kadar Air tersebut hilang seluruhya (hilang 100 %). Mungkin masih tersisa Kadar Air beberapa persen, yang akan benar-benar hilang setelah sekian lama terpasang pada Rumah.
Catatan:
Penyusutan terjadi karena berkurangnya Kadar Air, dan akan lebih besar terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang sering mendapat Sinar Matahari langsung, dan lebih kecil terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang tidak terkena Sinar Matahari langsung.
Apa dampak terjadinya Retak ini pada Rumah..? dan Bagaimana Cara Memperbaikinya..? Bisa dilihat DISINI.
Semoga tulisan ini bermanfaat..
Advertisement
Komentar :
|
Jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian dalam Rumah, hal ini tidak begitu berdampak buruk. Namun jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian Dinding Luar rumah (yang akan terkena Air Hujan), maka hal bisa memiliki dampak lain, seperti terlihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 1. Celah Retak - pada Dinding Luar Rumah ) |
Kondisi Celah (Retak) seperti Gambar 1, akan menyebabkan Air Hujan bisa masuk melalui Celah tersebut ke bagian dalam Dinding Rumah, seperti Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 2. Air Hujan Masuk ke Dinding dalam Rumah |
Tentu saja Kondisi Dinding dalam Rumah seperti Gambar 2 diatas sangat tidak kita inginkan terjadi pada dinding Rumah kita.
Cara Memperbaiki-nya adalah sebagai berikut :
1. Perbesar terlebih dahulu Celah (Retak) Plesteran disekeliling Kusen Kayu pada Gambar 1 diatas, dengan menggunakan Pahat Batu. Dengan ukuran Lebar dan Dalam kira-kira = 0,5cm sampai 1cm. Lalu bersihkan Sisa Debu pada lubang dengan menggunakan Kuas. Seperti Gambar 3 dibawah ini.
2. Pasang Kertas Lem pada bagian tepi Kusen Kayu, untuk melindungi Cat Kusen tersebut pada saat Pemberian Sealant. Menjadi seperti Gambar 3 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 3. Celah Retak pada Dinding Luar rumah yang telah dilebarkan) |
Bisa menggunakan Sikaflex-11C atau Sikaflex-Construction, seperti Gambar 4 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 4. Contoh Sealant yang dapat Merekat pada Permukaan Kayu dan Plesteran) |
4. Aplikasi-kan Sealant tersebut dengan menggunakan bantuan Sealant-Gun pada semua Celah Retak yang telah dilebarkan tersebut, seperti Gambar 5 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 5. Pemberian Sealant pada Celah Retak yang telah dilebarkan) |
5. Rapikan semua Sealant agar rata dengan permukaan Dinding, dengan menggunakan Kape (Sekrap). Seperti Gambar 6 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 6. Sealant telah dirapikan dengan Kape atau Sekrap) |
6. Setelah semua permukaan Sealant rapi, segera lepaskan semua Kertas Lem yang menempel pada Kusen Kayu tersebut, sebelum Sealant tersebut kering. Kertas Lem akan lebih mudah dilepas, jika Sealant masih dalam keadaan Basah atau Setengah Kering.
7. Tunggu beberapa Jam hingga Sealant benar-benar kering. Lalu lakukan Pengecatan agar dinding tersebut kembali rapi seperti semula. Seperti Gambar 7 dan Gambar 8 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 7 dan Gambar 8) |
8. Selesai..
Demikian tulisan kali ini.. Semoga bermanfaat.. Apa yang menyebabkan terjadinya Retak pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran..? Bisa dilihat DISINI..
Komentar :
Demikian tulisan kali ini.. Semoga bermanfaat.. Apa yang menyebabkan terjadinya Retak pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran..? Bisa dilihat DISINI..
Advertisement
Komentar :
|
Data Curah Hujan (Sumber BMKG) :
(Periode: tahun 1981 sampai 1990, tahun 1991 sampai 2000, dan tahun 2001 sampai 2010)
A. Provinsi Bali
1. Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Denpasar
2. Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar
B. Provinsi Nusa Tenggara Barat
1. Stasiun Meteorologi Selaparang Mataram
2. Stasiun Meteorologi Sumbawa Besar
3. Stasiun Meteorologi Salahudin Bima
C. Provinsi Nusa Tenggara Timur
1. Stasiun Meteorologi Wai Oti Maumere
2. Stasiun Meteorologi Mau Hau Waingapu
3. Stasiun Meteorologi El Tari Kupang
4. Stasiun Meteorologi Geyawantana Larantuka
5. Stasiun Meteorologi Malikalabahi Alor
6. Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang
7. Stasiun Meteorologi Tardamu Sabu
D. Provinsi Kalimantan Selatan
1. Stasiun Klimatologi Banjar Baru Banjarmasin
2. Stasiun Meteorologi Stagen Kotabaru
3. Stasiun Meteorologi Syamsudin Moor Banjarmasin
E. Provinsi Kalimantan Tengah
1. Stasiun Meteorologi Iskandar Pangkalan Bun
F. Provinsi Kalimantan Timur
1. Stasiun Meteorologi Kalimarau Tanjung Redep
2. Stasiun Meteorologi Sepinggan Balikpapan
3. Stasiun Meteorologi Termindung Samarinda
G. Provinsi Kalimantan Utara
1. Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan
H. Provinsi Sulawesi Utara
1. Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado
2. Stasiun Klimatologi Kayuwatu Manado
3. Stasiun Maritim Bitung Manado
I. Provinsi Sulawesi Selatan
1. Stasiun Meteorologi Naha Tahuna
2. Stasiun Meteorologi Andi Jemma Masamba
3. Stasiun Meteorologi Pongitiku Tana Toraja
4. Stasiun Meteorologi Hasanuddin Makassar
5. Stasiun Maritim Paotere Makassar
6. Stasiun Klimatologi Maros Makassar
7. Stasiun Meteorologi Bato Ambari Baubau
J. Provinsi Sulawesi Tengah
1. Stasiun Meteorologi Talos Tolitoli
2. Stasiun Meteorologi Mutiara Palu
3. Stasiun Meteorologi Bubung Luwuk
4. Stasiun Meteorologi Kasiguncu Poso
K. Provinsi Sulawesi Barat
1. Stasiun Meteorologi Majene
L. Provinsi Gorontalo
1. Stasiun Meteorologi Jalaluddin Gorontalo
M. Provinsi Sulawesi Tenggara
1. Stasiun Meteorologi Pamalaa Kolaka
2. Stasiun Maritim Kendari
N. Provinsi Maluku
1. Stasiun Meteorologi Dumatubun Tual Maluku
2. Stasiun Klimatologi Kairatu Maluku
3. Stasiun Meteorologi Amahai Maluku
4. Stasiun Meteorologi Bandanaire Maluku
O. Provinsi Papua
1. Stasiun Klimatologi Genyem
2. Stasiun Meteorologi Biak
3. Stasiun Meteorologi Fakfak
4. Stasiun Meteorologi Nabire
5. Stasiun Meteorologi Timika
6. Stasiun Meteorologi Tanah Merah
7. Stasiun Meteorologi Merauke
Semoga bermanfaat.. Curah Hujan pada Kota di pulau Jawa dan Sumatera lihat DISINI..
Advertisement
Komentar :
|
Beberapa Pengertian yang harus diketahui :
Hujan adalah titik-titik Air di udara atau awan yang sudah terlalu berat karena kandungan airnya sudah sangat banyak, sehingga akan jatuh kembali ke permukaan bumi sebagai Hujan (presipitasi). Alat untuk mengukur curah hujan adalah Fluviometer.Satuan curah hujan yang digunakan dalam mm (milimeter).
Apakah yang dimaksud dengan Curah Hujan?
Curah hujan merupakan ketebalan air hujan yang terkumpul pada luasan 1 m2.
Apakah arti angka curah hujan itu?
Curah hujan dihitung dengan satuan mm (milimeter), yaitu tinggi air yang tertampung pada area seluas 1m x 1m alias 1 meter persegi (m2).
Jadi, Curah Hujan 1 mm adalah jumlah air yang turun dari langit sebanyak 1 mm x 1m x 1m = 0,001 m3 = 1 liter.
Data Curah Hujan (Sumber BMKG) :
(Periode: tahun 1981 sampai 1990, tahun 1991 sampai 2000, dan tahun 2001 sampai 2010)
A. Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
1. Stasiun Meteorologi Cut Bau Sabang
2. Stasiun Meteorologi Malikulsaleh Lhokseumawe
3. Stasiun Meteorologi Blang Bintang Aceh
4. Stasiun Meteorologi Meulaboh
B. Provinsi Sumatera Utara
1. Stasiun Klimatologi Sampali
2. Stasiun Meteorologi Maritim Belawan
3. Stasiun Meteorologi Polonia Medan
4. Stasiun Meteorologi Tuntungan
5. Stasiun Meteoroli Sibolga
6. Stasiun Meteorologi Gunung Sitoli
C. Provinsi Kepulauan Riau
1. Stasiun Meteorologi Dabo Singkep
2. Stasiun Meteorologi Tanjung Pinang
3. Stasiun Meteorologi Tarempa
D. Provinsi Riau
1. Stasiun Meteorologi Simpang Tiga Pekanbaru
2. Stasiun Meteorologi Japura Rengat
E. Provinsi Sumatera Barat
1. Stasiun Meteorologi Tabing
2. Stasiun Klimatologi Sicincin
F. Provinsi Jambi
1. Stasiun Meteorologi Jambi
2. Stasiun Meteorologi Depati Parbo Kerinci
G. Provinsi Sumatera Selatan
1. Stasiun Meteorologi SMB II Palembang
2. Stasiun Klimatologi Kenten Palembang
H. Provinsi Bangka Belitung
1. Stasiun Meteorologi Pangkal Pinang
I. Provinsi Bengkulu
1. Stasiun Meteorologi Buluh Tembang
2. Stasiun Meteorologi Fatmawati Bengkulu
3. Stasiun Klimatologi Pulau Baai
4. Stasiun Geofisika Kepahiang
J. Provinsi Lampung
1. Stasiun Meteorologi Raden Inten
K. Provinsi Banten
1. Stasiun Klimatologi Pondok Betung
2. Stasiun Geofisika Tangerang
3. Stasiun Meteorologi Serang
4. Stasiun Meteorologi Cengkareng
5. Stasiun Meteorologi Curug
L. Provinsi DKI Jakarta
1. Stasiun Maritim Tanjung Priok
2. Stasiun Meteorologi Halim
M. Provinsi Jawa Barat
1. Stasiun Geofisika Lembang
2. Stasiun Meteorologi Citeko
3. Stasiun Klimatologi Darmaga
4. Stasiun Geofisika Bandung
5. Stasiun Meteorologi Jatiwangi
N. Provinsi Jawa Tengah
1. Stasiun Meteorologi Tegal
2. Stasiun Meteorologi Cilacap
3. Stasiun Meteorologi Maritim Semarang
4. Stasiun Meteorologi A.Yani Semarang
O. Provinsi Jawa Timur
1. Stasiun Meteorologi Juanda
2. Stasiun Maritim Perak I
3. Stasiun Maritim Perak II
4. Stasiun Klimatologi Karangploso
5. Stasiun Geofisika Tretes
6. Stasiun Geofisika Karangkates
7. Stasiun Meteorologi Kalianget
8. Stasiun Geofisika Sawahan
9. Stasiun Meteorologi Banyuwangi
Semoga bermanfaat.. Data Curah Hujan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT, Bali, dan Papua bisa dilihat DISINI..
Advertisement
Komentar :
|
Menurut standard SK SNI S-04-1998-F,1989, Agregat Halus untuk Bahan Bangunan (kecuali Agregat Khusus, misalnya Agregat Ringan dan sebagainya) sebaiknya dipilih yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Butir-butirnya tajam dan keras dengan Indeks Kekerasan ≤ 2,2.
2. Kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh Cuaca (terik Matahari dan Hujan). Jika diuji dengan larutan Garam Natrium Sulfat bagian yang hancur maksimum 12%, dan jika diuji dengan Garam Magnesium Sulfat bagian yang hancur maksimum 10%.
3. Tidak mengandung Lumpur lebih dari 5%, jika kandungan Lumpur pasir melebihi 5% maka pasir harus dicuci.
4. Tidak mengandung Zat Organik yang terlalu banyak, yang dibuktikan dengan Percobaan Warna dengan menggunakan larutan NaOH 3%. Warna cairan diatas endapan pasir tidak boleh lebih gelap dari warna standar pembanding.
5. Distribusi ukuran butiran pasir mempunyai Modulus Kehalusan antara 1,5 sampai 3,8 dengan variasi butiran sesuai Standar Gradasi pasir.
6. Untuk beton dengan tingkat keawetan tinggi, Agregat Halus tidak boleh reaktif terhadap Alkali.
7. Agregat Halus dari laut/pantai, penggunaannya harus dengan petunjuk lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui.
Pada Persyaratan Nomor 3 diatas jelas disebutkan bahwa Pasir yang baik untuk Bahan Bangunan adalah Pasir yang memiliki Kadar Lumpur dibawah 5 %, dan jika kandungan Lumpur pasir melebihi 5% maka Pasir tersebut harus dicuci sebelum digunakan sebagai Bahan Bangunan.
Oleh sebab itu sebelum Material Pasir digunakan sebagai Bahan Bangunan, sebaiknya Pasir tersebut diuji terlebih dahulu untuk mengetahui persentase Kadar Lumpur yang terkandung didalamnya.
Cara Menguji Kadar Lumpur pada Pasir ada 2, yaitu :
1. Pengujian berdasarkan Volume, caranya adalah:a. Sediakan Pasir sebanyak kira-kira 250 ml, lalu masukkan ke dalam Gelas Ukur kapasitas 500 ml.
![]() |
| (Gambar 1: Pasir dan Gelas Ukur kapasitas 500 ml) |
b. Masukkan Air Bersih ke dalam Gelas Ukur yang telah berisi Pasir tersebut, kira-kira sampai hampir penuh.
c. Lakukan pengadukan, dengan cara menutup Mulut Gelas Ukur dengan rapat, lalu bolak-balik Gelas Ukur tersebut berulang-ulang. Lakukan pengadukan selama mungkin agar semua Lumpur benar-benar terpisah dari semua Butiran Pasir.
d. Setelah selesai diaduk, letakkan Gelas Ukur tersebut di tempat yang aman, dan biarkan selama 24 jam.
e. Lalu lakukan Pengukuran nilai A dan B dengan menggunakan Penggaris, seperti Gambar 2 dibawah ini.
![]() |
| (Gambar 2: Pengukuran nilai A dan B) |
Kadar Lumpur (%) = (A - B) / A x 100g. Contoh:
Jika dari hasil Pengukuran diperoleh nilai A = 5,6 cm, dan nilai B = 5,4 cm, maka:
Kadar Lumpur (%) = (5,6 - 5,4) / 5,6 x 100
Kadar Lumpur (%) = 0,2 / 5,6 x 100
Kadar Lumpur (%) = 0,0357 x 100
Kadar Lumpur (%) = 3,57
h. Nilai Kadar Lumpur = 3,57 % ini lebih kecil dari standard SK SNI S-04-1998-F,1989 yaitu dibawah 5 %, artinya Pasir yang diuji tersebut "layak" untuk langsung digunakan sebagai Material Bangunan, tanpa harus dicuci terlebih dahulu.
2. Pengujian berdasarkan Berat, caranya adalah:
a. Sediakan Pasir dan timbang sebanyak kira-kira 1000 gram. Lalu masukkan Pasir tersebut ke dalam Oven Pengering, dan keringkan pada temperatur 100 'C (100 derajat Celcius) selama 24 jam. Tujuannya adalah menghilangkan Kadar Air yang berada pada Pasir tersebut.
![]() |
| (Gambar 3: Pasir dan Oven Pengering) |
![]() |
| (Gambar 4: Timbangan Digital) |
d. Setelah semua Lumpurnya hilang, masukkan kembali Pasir tersebut ke dalam Oven Pengering, dan keringkan pada temperatur 100 'C (100 derajat Celcius) selama 24 jam juga.
e. Setelah 24 jam dan Pasir telah benar-benar kering (kadar air-nya = 0), timbang Pasir tersebut. Berat Pasir kering ini = B (gram). Pasir ini kondisinya telah bersih dari Lumpur.
f. Setelah nilai B diproleh, maka Nilai Persentase Kadar Lumpur pada Pasir tersebut dapat dihitung dengan Rumus dibawah ini :
Kadar Lumpur (%) = (A - B) / A x 100
Advertisement
Komentar :
|
Seperti yang telah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya, pada "Tips dan Cara Menghitung Kebutuhan Jumlah Keramik Lantai Rumah", Keramik Lantai yang banyak digunakan biasanya berbentuk Bujur Sangkar. Ada yang berukuran 20x20 cm, 30x30 cm, 40x40 cm, 50x50 cm, 60x60 cm, 80x80 cm, dan sebagainya. Kita bisa memilih Ukuran Keramik yang ideal (cocok) untuk dipasangan pada Ruangan yang kita inginkan.
Pola pemasangan Keramik pada sebuah Ruangan sebaiknya direncanakan terlebih dahulu, agar menghasilkan tampilan yang lebih Indah dan lebih Ekonomis. Disini saya akan memberikan Tips Cara Mengatur Susunan Pasangan Keramik Lantai tersebut.
Tips dan Cara Mengatur Susunan Pasangan Keramik:
1. Gambar 1 dibawah adalah contoh Denah Rumah yang akan dipasang Keramik, yang memiliki Pintu Masuk tipe 2 Daun. Tahap pertama: Ukur lebar ruangan tersebut. Seperti terlihat pada Gambar 1 dibawah, didapat Lebar ruangan = 286 cm.2. Ukuran Keramik Lantai yang hendak dipasang adalah 60x60 cm. Selanjutnya kita akan merencanakan peletakan posisi Keramik Pertama yang letaknya tepat di Area Pintu masuk. Seperti terlihat pada Gambar 2 dibawah ini.
Posisi Keramik Pertama ini penting, menjadi pedoman untuk pemasangan Keramik selanjutnya. Karena posisinya berada pada Pintu Masuk (yang senantiasa terlihat saat seseorang masuk atau keluar Rumah), maka letaknya harus Simetris terhadap Lebar ruangan, agar indah dilihat.
6. Setelah disepakati memakai pola pemasangan Alternatif Kedua, lanjutkan dengan pemasangan Kepala Keramik, seperti terlihat pada Gambar 7 dibawah ini. Semua Keramik yang terpasang pada Gambar 7 tersebut diberi nama Kepala Keramik (istilah di Lapangan), yang fungsinya menjadi Pedoman bagi pemasangan Keramik yang lain (selanjutnya).
Untuk melengkapi.., jika pemasangan Keramik Lantai tersebut mengikuti pola pemasangan Alternatif Pertama, hasilnya menjadi seperti Gambar 9 dibawah ini.
Advertisement
Komentar :





















