Penggunaan Closet Duduk di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Sejak tahun 1980-an jenis Closet ini sudah mulai banyak dipakai di Indonesia. Saya sendiri sudah menggunakan Closet Duduk merk Toto pada tahun tersebut.

Model, bentuk, dan Tipenya juga bermacam-macam. Seiring dengan perkembangan jaman, saat ini sudah banyak sekali variasi bentuk dan type Closet ini, bahkan sudah banyak pula Merk dan Vendor baru yang ikut memproduksinya.

Karena bentuk dan Type Closet Duduk ini berbeda-beda, maka Cara Pemasangannya tentu berbeda-beda juga. Biasanya pada kemasan Produknya sudah disediakan Manual Installation (Petunjuk Pemasangan) secara tertulis.

Contoh Pekerjaan Pemasangan Pipa pada Closet Duduk :

1.  Persiapkan pipa suplai Air Masuk ke Tangkai Closet duduk (No. 2) dan pipa Buangan Air Kotor Closet Duduk (No. 1) pada kamar mandi, seperti Gambar dibawah ini.


Keterangan:
a.  Pada Gambar Pipa No. 2, tampak ada dua buah Pipa 1/2". Pipa yang Pertama (2a) adalah pipa 1/2" untuk suplai Air ke Tangki Closet Duduk, dan pipa yang Kedua (2b) adalah pipa 1/2" untuk suplai Air untuk Jet Shower (untuk basuh).

Sebenarnya Pipa No. 2 ini bisa saja dibuat menjadi satu buah Pipa 1/2" saja, nanti dengan menggunakan Tee Stainless 1/2" air dapat dibagi untuk suplai Air ke Tangki Closet Duduk dan untuk suplai Air untuk Jet Shower. Tapi pada Tips kali ini saya membuat Pipa-nya terpisah, karena akan lebih mudah mengganti Jet Shower tersebut jika nanti rusak (tidak mengganggu suplai Air ke Tangki Closet Duduk tersebut).
Jet Shower
b.  Pipa No. 1 adalah Pipa 4" untuk Buangan Air Kotor Closet Duduk

c.  Pipa No. 3 adalah Pipa Buangan Air Kamar Mandi, bisa berukuran 2 1/2", bisa juga berukuran 3". Pada kesempatan ini saya tidak membahas tentang Pipa ini.

2.  Pasang Elbow Drat Dalam pada Pipa 1/2" No. 2a dan 2b, sesuai dengan ukuran Gambar Petunjuk Pemasangan (satuan mm) yang tersedia. Saya sarankan menggunakan Elbow Drat Kuningan, karena Drat-nya tidak mudah rusak dan kokoh.
(Gambar Petunjuk Pemasangan, Closet Duduk Tampak Samping dan Tampak Depan)

(Gambar 1)
Pada Elbow Drat Dalam (EDD) 2b dan 2a nantinya akan dipasang Stop Kran, untuk kontrol Air suplai Jet Shower dan Air suplai Tangki Closet Duduk. Maka posisi EDD 2b dan EDD 2a harus dibuat berjarak, agar kedua Stop Kran nantinya tidak bersinggungan (lebih kurang 10cm).

3.  Pasang Pipa 4" untuk Buangan Air Kotor Closet Duduk, sesuai dengan ukuran Gambar Petunjuk Pemasangan (satuan mm) yang tersedia.

4.  Selanjutnya kita bisa memasang Keramik Dinding dan Keramik Lantai Kamar Mandi tersebut.

5.  Pekerjaan Persiapan Pipa untuk Pasang Closet Duduk pada Kamar Mandi selesai, tunggu sampai 1 hari agar Pasangan Keramik kering, lalu anda bisa melakukan Pemasangan Closet Duduk.

Demikian Tips saya kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Ada beberapa Pendapat dan Tulisan yang saya dengar dan baca yang mengulas Topik ini, dengan opini yang berbeda-beda. Ada mengatakan Rumah Kosong lebih mudah rusak karena tidak adanya Aura Kehidupan pada rumah tersebut, ada juga yang menganonimkan Rumah Kosong sama dengan dengan Kosongnya Hati, sehingga rentan untuk rusak, dan sebagainya.

Pada kesempatan ini saya ingin memberikan Opini tentang Judul diatas, berdasarkan Pengamatan, Pengalaman, dan Pendapat Teknis saya sendiri. Disini saya memaparkannya dari sudut Pandang Ilmiah dan Pengamatan di lapangan.

Beberapa Kondisi yang menyebabkan Rumah Kosong Lebih Mudah Rusak :

1. Tingkat Kelembaban didalam Rumah yang Tinggi

a.  Rumah kosong, biasanya Pintu dan Jendela-nya senantiasa dalam keadaan tertutup. Maka apa yang terjadi..? Tentu saja saja Tingkat Kelembaban Rumah Kosong tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan Rumah Berpenghuni, karena tidak banyak Cahaya Matahari dan Udara segar yang masuk.

b.  Rumah kosong, biasanya Lampu didalam rumah tersebut senantiasa dalam keadaan mati. Tentu saja Tingkat Kelembabannya juga cenderung lebih tinggi.

Kondisi didalam Rumah yang Kosong dan Lembab dalam jangka waktu yang lama tersebut secara perlahan akan berdampak buruk, bisa mengundang Binatang Kecil dan Rayap untuk masuk, Berdebu, Berkarat, Berjamur, dan sebagainya. Sehingga bisa merusak Material Kayu, Cat Dinding, Plafon berbahan Tripleks dan Gypsum, Material berbahan Logam, dsb.

2.  Menetapnya Binatang pada Rumah Kosong

Disadari atau tidak Rumah Kosong akan menjadi Rumah bagi binatang (yang kasap Mata maupun yang tidak kasap Mata), seperti Tikus, Kecoak, Semut, Rayap, dan sebagainya. Sedangkan pada Rumah yang berpenghuni, jumlah mereka tentu saja lebih sedikit dan tidak bisa menetap.

Semua binantang ini secara perlahan tapi pasti berpotensi merusak Material yang ada pada rumah tersebut. Seperti Tikus dan Rayap yang bisa merusak Material berbahan Kayu, Kecoak yang bisa menyebarkan Bakteri dan Kuman yang bersifat merusak, Semut yang secara perlahan dapat menggerogoti material Pasir (seperti Spesi pasangan keramik), dan sebagainya.

3.  Debu, Kotoran, Bakteri, dan Jamur pada Rumah Kosong

Debu yang senantiasa melekat (dalam kondisi Lembab) secara perlahan bisa merusak Material Logam. Kotoran Hewan yang mengandung Bakteri dan Kuman bisa merusak berbagai Material dalam Rumah tersebut (secara perlahan tapi pasti). Jamur juga bisa merusak Material Berbahan Kayu, Cat, dan Logam.

Ketiga Item diatas akan lebih besar Kuantitas-nya pada Rumah Kosong. Karena Rumah yang Berpenghuni tentu saja senantiasa dibersihkan, cukup udara segar dan sinar matahari, dan Binatang Kecil tidak bisa seenaknya menetap.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna.. Mungkin masih banyak lagi Hal dan Kondisi yang menyebabkan ini, silahkan tambahkan pada kolom Komentar dibawah..


Advertisement




Komentar :
Pada posting sebelumnya saya telah memaparkan Cara dan Teknis Kerja Mengecat Ulang Dinding Rumah Lama yang Mengalami Kerusakan Berat, yang penanganannya memerlukan pengupasan pada Cat Dinding Rumah lama tersebut.

Cat Dinding Rumah yang Mengalami Kerusakan sangat Berat yang saya maksud disini contohnya :
"Cat dinding rumah yang mengalami Pengelupasan akibat Lembab dan Basah pada sebagian besar Luas Dinding-nya (kondisinya berjamur dan berlumut), dan kondisi Lembab dan Basah ini terjadi terus-menerus (tidak berhenti)".

Hal ini biasanya terjadi karena Dinding dan Plesteran tersebut senantiasa terkena Air atau berada pada Daerah dengan tingkat Kelembaban yang tinggi.

Cara Memperbaikinya :

1.  Kupas semua Cat yang berlumut tersebut dengan menggunakan Sekrap (kape). Jika ada bagian yang sulit terkupas, dapat menggunakan cairan Thinner Epoxy, Thinner ND, Paint Remover (khusus untuk Cat Tembok / Dinding), dsb., untuk mempermudah dan mempercepat proses pengupasan. Paint Remover yang pernah saya gunakan adalah merk PECAT. Cara menggunakannya dapat anda lihat disini.

2.  Setelah semua Cat Dinding lama terkupas, gosok Permukaan Dinding dengan Sikat sampai bersih dari sisa kotoran Cat dan Lumut yang menempel (bantu dengan Air bersih). Lalu biarkan sampai kering.

3.  Bila Lembab dan Basah-nya Dinding tersebut bersumber karena ada Air yang masuk dari Dinding bagian Luar, maka lakukan "penutupan" terhadap jalan masuknya Air tersebut. Jika Basah dan Lembabnya terjadi karena hal lain, maka lakukan tindakan agar Dinding tersebut tidak mengalami hal itu lagi di kemudian hari.

4.  Pada Dinding yang telah disikat bersih dan kering tadi, kuaskan campuran Cairan Kaporit atau Cairan Pemutih Pakaian, dengan perbandingan Cairan dan Air = 1:2 s/d 1:5. Lakukan secara merata ke seluruh permukaan dinding, dan biarkan selama lebih kurang 1 jam. Setelah 1 jam, bilas Dinding tersebut dengan Air bersih, dan biarkan sampai Kering. Lakukan hal ini berulang-ulang, hingga Dinding tersebut benar-benar bersih dari kotoran yang ada. Sebaiknya gunakan Sarung Tangan Karet dan Masker pada saat melakukan ini.

6.  Setelah benar-benar bersih, biarkan beberapa hari, sampai Dinding tersebut benar-benar kering dan siap untuk dicat ulang.

7.  Anda dapat mengecat Dinding Rumah tersebut dengan Sealer, disarankan menggunakan Sealer yang berkualitas baik.

8.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tersebut, sebaiknya menggunakan Cat Anti Jamur dan Lumut.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Pada posting sebelumnya saya telah memaparkan Cara dan Teknis Kerja Mengecat Ulang Dinding Rumah Lama yang Mengalami Kerusakan Ringan dan Sedang, yang penanganannya cenderung lebih mudah dan lebih sederhana, silahkan lihat uraiannya disini.

Cat Dinding Rumah yang Mengalami Kerusakan Berat yang saya maksud disini adalah :
"Cat dinding rumah tersebut mengalami Pengelupasan pada Sebagian Besar dari Luas Dinding-nya, dengan persentase antara 30% - 90% dari Luas Dinding yang ada, sedangkan kondisi dinding dalam keadaan Kering dan tidak Lembab (tidak mengandung Air)".

Pengelupasan seperti ini terjadi karena "Tidak Mengikatnya" Cat Dinding rumah tersebut dengan Permukaan dibawahnya, baik Permukaan dibawahnya berupa Plesteran, Dempul Tembok (dinding), ataupun Cat Dinding Rumah lama dibawahnya.

Hal ini terjadi karena rendahnya Kualitas Cat yang digunakan, rendahnya kualitas Dempul yang digunakan, pengecatan ulang pada dinding lama yang tidak menggunakan Sealer, dan Pengecatan Dinding Luar Rumah dengan tidak menggunakan Sealer.

Cara Memperbaikinya :

1.  Sebaiknya semua Cat tersebut dikupas dengan menggunakan Sekrap (kape). Jika ada bagian yang sulit terkupas, dapat menggunakan cairan Thinner Epoxy, Thinner ND, Paint Remover (khusus untuk Cat Tembok / Dinding), dsb., untuk mempermudah dan mempercepat proses pengupasan tersebut. Paint Remover yang pernah saya gunakan adalah merk PECAT. Cara menggunakannya dapat anda lihat disini.


2.  Setelah semua Cat Dinding lama terkupas, digosok dengan Kertas Pasir (ampelas), dan bersih dari debu (sebelumnya lihat disini Cara dan Teknis Kerja Mengupas Cat Dinding Rumah lama dengan Paint Remover), anda dapat mengecat Dinding Rumah tersebut dengan Sealer, disarankan menggunakan Sealer yang berkualitas baik.

3.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tersebut.

Demikian tulisan kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Paint Remover adalah Cairan Khusus yang berguna untuk memudahkan kita dalam Mengupas Cat pada media tertentu. Seperti pada media dinding (tembok), besi, kayu, dan sebagainya.

Banyak kita jumpai Cat Dinding tembok Rumah yang rusak dan kondisinya tidak memungkinkan untuk dilakukan Pengecatan Ulang secara langsung. Seperti cat terkelupas, cat yang berjamur, cat yang lembab, dan sebagainya. Sehingga sebaiknya dikupas terlebih dahulu sebelum melakukan Pengecatan Ulang.

Ada sebagian Cat Dinding lama yang mudah dikupas dengan Skrap (kape) secara langsung, namun ada juga yang tidak. Sehingga diperlukan Teknik khusus dan bantuan Paint Remover (merk PECAT pernah saya gunakan), agar bagian yang sulit tersebut dapat dikupas dengan Cepat dan Mudah.


Cara dan Tips Mengupas Cat Dinding Rumah Lama dengan Paint Remover :

1.  Kuaskan cairan Paint Remover yang anda miliki pada Cat Dinding Lama yang hendak dikupas. Lakukan secara bertahap, jangan menguas secara terus-menerus sehingga tercipta bidang yang lebar. Cukup per-setengah meter persegi saja. (disarankan menggunakan Sarung Tangan Karet)

2.  Biarkan lebih kurang 2 sampai 3 menit, cat dinding lama tersebut biasanya akan bereaksi membentuk 'Gelembung Udara'. Jangan juga sampai cairan Paint Remover tersebut mengering, karena jika mengering malah akan menjadi keras dan sulit untuk di-sekrap.

3.  Dalam keadaan yang kira-kira masih lembab (karena cairan Paint Remover tsb.), kupas Cat Dinding lama itu dengan Sekrap (kape). Tekan Sekrap sampai ke dasar permukaan dinding yang ada, sehingga pengupasan berjalan maksimal.

4.  Setelah semua Cat Dinding lama tersebut di-sekrap, siram permukaan dinding tersebut dengan Air, sehingga Dinding tersebut bersih dari bahan kimia yang bersumber dari Paint Remover.

5.  Biarkan sampai Dinding tersebut mengering, atau bisa dikeringkan dengan Kain Lap.

6.  Setelah kering, gosok permukaan Dinding tersebut dengan Kertas Pasir (Ampelas), agar sisa Cat Lama atau Dempul Tembok yang masih tertinggal menjadi lebih bersih. Lalu bersihkan debunya dengan Kain Lap.

Begitulah Cara dan Teknis Kerja Mengupas Cat Dinding Rumah lama dengan Paint Remover, semoga artikel ini bermanfaat.

Catatan Penting :
1.  Jangan sampai anda terhirup gas yang terkandung pada Kaleng kemasan Paint Remover ini.
2.  Upayakan cairan Paint Remover ini tidak mengenai tubuh anda, karena cairan ini biasanya memiliki kandungan bahan Kimia yang cukup 'keras', cirinya adalah 'gatal' pada bagian tubuh yang terkena. Jika kena, cuci cepat dengan air bersih.
3.  Bersihkan segera Peralatan Kerja yang terkena cairan ini dengan Air bersih, seperti kuas, sekrap, sarung tangan, dsb.



Advertisement




Komentar :
Seiring dengan waktu, Cat Dinding rumah suatu saat akan rusak, kotor, luntur warnanya, berjamur, bahkan bisa juga terkupas (lepas), baik secara keseluruhan atau sebagian. Tentu saja hal ini memberi kesan yang kurang rapi dan tidak enak dipandang mata.

Solusi untuk memperbaiki ini adalah dengan cara melakukan Pengecatan Ulang, supaya dinding rumah kita kembali rapi dan indah. Retak rambut yang telah seattle, yang terjadi pada plesteran dinding juga dapat teratasi dengan cara Pengecatan Ulang ini.

Biasanya kondisi kerusakan Cat Dinding lama berbeda-beda, secara pribadi saya dapat membaginya atas 4 kategori, yaitu :
a.  Cat Dinding yang mengalami kerusakan Ringan,
b.  Cat Dinding yang mengalami kerusakan Sedang,
c.  Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Berat.
d.  Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Sangat Berat.

A.  Cat Dinding dengan tingkat kerusakan Ringan

Contohnya : Hanya terjadi Perubahan Warna dan Kusam, timbul Retak Rambut pada plesteran, dan munculnya Debu Cat akibat kelembaban dinding. Namun secara keseluruhan Cat Lama tersebut tetap mengikat erat dan tidak ada yang terkelupas.


Cara Memperbaikinya :

1.  Bersihkan semua Cat Lama pada dinding tersebut dengan Kain Lap (bila perlu dengan Kertas Pasir halus), sehingga bersih dari debu dan kotoran yang menempel.
2.  Setelah bersih dari debu dan kotoran, cat Dinding tersebut dengan Sealer, disarankan gunakan Sealer dengan merk vendor yang sama dengan Cat Dinding Lama tersebut, karena hasilnya akan lebih cocok dan lebih kuat 'mengikat'. Atau gunakan Sealer yang bermutu baik lainnya.
3.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tadi.

B.  Cat Dinding dengan tingkat kerusakan Sedang

Contohnya : Terjadi Pengelupasan dan Gembung Udara pada Cat Dinding Lama tersebut, dengan persentase Luasan yang tidak terlalu banyak, kira-kira 5% - 20% saja dari seluruh luasan dinding, sedangkan 80% - 95% berada dalam kondisi yang baik.


Cara Memperbaikinya :

1.  Lakukan Pengupasan pada bagian Cat Lama yang terkupas dan ada gembung udara tersebut, dengan menggunakan Sekrap (kape). Pastikan pekerjaan ini berlangsung dengan baik.
2.  Gosok bagian Cat Lama yang terkupas tersebut dengan Kertas Pasir halus, dan bersihkan dengan Kain Lap sehingga bersih dari debu dan kotoran yang menempel.
3.  Dempul bagian yang terkupas dengan Tepung Dempul Dinding (wall putty) yang berkualitas, sehingga Permukaan dinding menjadi rata. Biarkan kering, minimal 24 jam.
4.  Keesokannya, gosok semua dempulan dengan Kertas Pasir halus, lalu bersihkan debunya dengan Kain Lap.
5.  Setelah bersih dari debu, cat Dinding tersebut dengan Sealer, disarankan gunakan Sealer dengan merk vendor yang sama dengan Cat Dinding Lama tersebut, karena hasilnya akan lebih cocok dan lebih kuat 'mengikat'. Atau gunakan Sealer yang bermutu baik lainnya.
6.  Lalu anda dapat melakukan Pengecatan Ulang pada semua dinding yang telah di-sealer tadi.

Lihat juga Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Berat dan Cat Dinding yang Mengalami Kerusakan Sangat Berat.

Demikian tulisan saya kali ini.. Semoga berguna..


Advertisement




Komentar :
Dalam postingan beberapa hari yang lalu, saya telah menulis tentang Cara Menghitung Luas Atap Rumah bentuk Perisai. Selanjutnya pada kesempatan ini saya mencoba paparkan Cara Hitung Panjang Jurai dan Bubungan Atap tersebut, agar lebih lengkap catatan tentang hal ini.


Perhitungan ini nantinya dibutuhkan untuk mengetahui Kebutuhan Jumlah Nok Rabung yang harus dibeli dalam Pekerjaan Pembuatan Atap Rumah bentuk Perisai atau Limas ini. 

Contoh Perhitungan :

Dari Gambar Rencana Atap dibawah ini, silahkan Hitung Panjang Jurai dan Bubungan-nya.
Direncanakan Sudut Kemiringan β = 30°.

Gambar 1. Denah Atap                                                       Gambar 2. Tampak Depan Atap

Perhitungan :

1.  Berdasarkan Gambar Atap diatas, mari kita buat terlebih dahulu Gambar Perspektifnya untuk memudahkan Perhitungan (seperti Gambar dibawah ini).

Keterangan :

      1.  B, C, D, E adalah Jurai, panjang semua Item adalah Sama, karena bentuknya yang Simetris.
      2.  F adalah Bubungan, panjangnya bisa diketahui dari Gambar, yaitu = 397 cm = 3,97 m.
      3.  A adalah Garis Bantu (sebagai data bantu dalam Perhitungan Panjang B, C, D, dan E).
Gambar 3. Gambar Perspektif Atap

2.  Hitung Panjang A (Lihat Gambar 3)
      A  = 428cm : cos β 
           = 428cm : cos 30°
          
=
428cm : 0,866
           = 494,226 cm = 4,942 m

3.  Hitung Panjang Jurai B = C = D = E

Setelah Panjang A diketahui (= 4,942 m), coba Perhatikan Segitiga yang terbentuk dari Garis A, B, dan G. Segitiga tersebut adalah sebuah segitiga Siku-siku (seperti Gambar dibawah ini).


Panjang G bisa kita ketahui dengan melihat Gambar 3, yaitu 353cm atau 3,53 m.
Selanjutnya Panjang B bisa kita Hitung dengan menggunakan Rumus Phytagoras, yaitu : B2 = A2 + G2.
           B2  =  3,532 + 4,942262 (satuan diubah dalam meter)
           B2  =  12,4609 + 24,4259
           B2  =  36,8868
           B    =  6,0734 m = C = D = E

4.  Hitung Panjang Total Jurai = B + C + D + E = 6,0734 x 4 = 24,2936 m.

5.  Hitung Panjang Total Jurai dan Bubungan =
24,2936 m + 3,97 m = 28,2636 m.

6.  Selesai... Semoga bermanfaat..

Catatan:
a.  Perhitungan diatas adalah Perhitungan Panjang Jurai dan Bubungan Atap Bersih (Net) berdasarkan Gambar Kerja yang ada.
b.  Jika anda ingin menggunakannya sebagai Pedoman untuk Pembelian Nok (Rabung), terlebih dahulu anda harus mengetahui Panjang Efektif Nok (Rabung) yang akan anda Beli. Juga harus memperhitungkan Sisa Potongan Nok (Rabung) pada setiap Segmen Pemasangan.



Advertisement




Komentar :
  1. Acuan (bekisting) adalah suatu sarana pembantu struktur beton untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa ataupun posisi yang direncanakan.
  2. Agregat adalah material granular, misalnya pasir, kerikil, batu pecah dan kerak tungku besi, yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton semen hidraulik atau adukan.
  3. Agregat Ringan adalah agregat yang dalam keadaan kering dan gembur mempunyai berat 1100 kg/m3 atau kurang.
  4. Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami bantuan atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm.
  5. Agregat Kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi ‘alami’ dari bantuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir antara 5-40 mm.
  6. Adukan adalah campuran antara agregat halus dan semen portland atau sembarang semen hidrolik yang lain dan air.
  7. Angker adalah media untuk mengikat dalam suatu sambungan beton pracetak.
  8. Bahan Tambahan adalah suatu bahan berupa bubukan atau cairan, yang dibubuhkan kedalam campuran beton selama pengadukan dalam jumlah tertentu untuk merubah beberapa sifatnya.
  9. Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa padat.
  10. Beton Bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum, yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja.
  11. Beton-Normal adalah beton yang mempunyai berat isi 2200- 2500 kg/m3 menggunakan agregat alam yang dipecah atau tanpa dipecah yang tidak menggunakan bahan tambahan.
  12. Beton Praktekan adalah beton bertulang yang telah diberikan tegangan dalamuntuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat beban kerja.
  13. Beton Pracetak adalah elemen atau komponen beton tanpa atau dengan tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi bangunan.
  14. Beton Ringan Struktur adalah beton yang mengandung agregat ringan yang mempunyaiberat isi tidak lebih dari 1900 kg/m3.
  15. Beton Polos adalah beton tanpa tulangan atau mempunyai tulangan tetapi kurang dari ketentuan minimum.
  16. Berat Jenis adalah perbandingan antara berat dan volume suatu material (misalnya: Beton).
  17. CGS adalah standar internasional terkecil dalam ukuran metrik (dalam sentimeter).
  18. Dowel adalah material penghubung antara 2 (dua) komponen struktur.
  19. Deking adalah beton tahu untuk pedoman ketebalan beton.
  20. Faktor Air Semen (Fas) adalah perbandingan antara jumlah semen dan air pada beton.
  21. Konstruksi Batu adalah pasangan batu yang berfungsi sebagai elemen konstruksi dengan kekuatan tekan > 100 kg/cm2.
  22. Konstruksi Beton adalah beton yang berfungsi sebagai elemen konstruksi
  23. Kabel adalah susunan material yang digunakan dalam media penarikan beton pratekan, biasanya disebut ‘tendon’.
  24. Mks adalah standar internasional terbesar dalam ukuran metrik (meter).
  25. Perancah (Scaffolding) adalah suatu struktur (kerangka) sebagai (1) sarana kerja bagi pekerja untuk melakukan tugas pada ketinggian tertentu dan (2) penyangga acuan beton yang berfungsi mencegah terjadinya perubahan posisi acuan dari posisi yang telah ditentukan.
  26. Sengkang adalah tulangan yang digunakan untuk menahan tegangan geser dan torsi dalam suatu komponen struktur, terbuat dari batang tulangan, kawat baja atau jaring kawat baja las polos atau deform.
  27. Segregasi adalah pengelompokan agregat yang homogen pada adukan beton, dimana agragat kasar terpisah dengan agregat halus.
  28. Tulangan adalah batang baja berbentuk polos atau defon atau pipa yang berfungsi untuk menahan gaya tarik pada komponen struktur, tidak termasuk tendon prategang, kecuali bila secara khusus diikut sertakan.
  29. Tulangan Polos adalah batang baja yang permuakaan sisi luarnya rata tidak bersirip atau berukir.
  30. Tulangan Deform adalah batangan baja yang permukaan sisi luarnya tidak rata, tetapi bersirip, atau berukir.
  31. Accelerator adalah bahan tambah untuk mempercepat pengikatan beton.
  32. Admixture adalah bahan tambah untuk campuran beton.
  33. Additive adalah bahan tambah untuk campuran beton.
  34. Bouwplank adalah papan duga dalam istilah Belanda, sebagai pedoman awal pekerjaan konstruksi.
  35. Barsteel adalah rangkaian tulangan.
  36. Box adalah korak penyedia daya atau arus listrik.
  37. Bucket Tower Crane adalah kotak pembawa material dari mesin angkat.
  38. Bleeding adalah beton yang kelebihan air, sehingga air semen naik ke permukaan.
  39. Bendraat adalah kawat pengikat tulangan dalam istilah Belanda.
  40. Batching Plant adalah lokasi / tempat pengadukan pembuatan beton ready-mix.
  41. Conveyor adalah ban berjalan untuk membawa material.
  42. Cofferdam adalah menahan / membendung adukan beton sehingga tidak tercampur lingkungan (tanah, sungai dan sebagainya).
  43. Cast in situ adalah pelaksanaan pracetak beton di lapangan.
  44. Doka adalah perusahaan pembuat acuan dan perancah.
  45. Dump Truck adalah truk yang memiliki tenaga hidrolik untuk menaikkan bak muatannya.
  46. Forklift adalah mesin / alat angkat, dengan posisi beban muatan didepan mesin.
  47. Hoist adalah mesin / alat angkat.
  48. Hammer Test adalah uji palu beton pada lapisan yang telah mengeras. 
  49. In Situ adalah lokasi / lapangan.
  50. Jacking adalah mesin / alat penarik kabel pratekan.
  51. Lay-Out adalah penggunaan tata ruang di lapangan.
  52. Mold adalah acuan untuk pelaksanaan pengecoran beton.
  53. Mix Design adalah disain campuran beton berdasarkan berat atau volume.
  54. Maccaferri adalah perusahaan pembuat acuan dan perancah.
  55. Power adalah energi listrik di lapangan yang berasal dari PLN atau generating set.
  56. Portland Cement adalah semen abu-abu.
  57. Post-Tension adalah penarikan pada beton pratekan setelah beton mengeras.
  58. Pre-Tension adalah penarikan pada beton pratekan sebelum dilaksanakan pengecoran.
  59. Peri adalah perusahaan pembuat acuan dan perancah.
  60. Retarder adalah bahan tambah untuk memperlambat pengikatan beton.
  61. Rapid Klam adalah alat penjepit pada acuan untuk struktur kolom dan balok.
  62. Ready Mix Concrete adalah beton yang siap pakai.
  63. Speady adalah uji pada semen abu-abu untuk mengetahui kemampuan ikatan semen.
  64. Slump adalah alat uji konsistensi/kekentalan beton.
  65. Steel Proff adalah tiang baja yang berbentuk silinder dapat diatur ketinggiannya.
  66. Shear Connector adalah bahan / material penghubung antara 2 (dua) material yang berbeda karakteristiknya (komposit).
  67. Strands adalah kumpulan kawat-kawat berdiameter kecil dan tipis untuk membentuk kabel.
  68. Setting Time adalah pengaturan atau penentuan waktu ikat pada beton.
  69. Sand Blasting adalah alat / mesin pembersih permukaan pada beton sebelum dilaksanakan perbaikan beton atau penutupan kembali.
  70. Shop Drawing adalah gambar pelaksanaan / kerja.
  71. Site-Plan adalah rencana lokasi / areal pelaksanaan.
  72. Stressing adalah penarikan kabel atau tendon pratekan.
  73. Truck Mixer adalah truk yang mampu mengaduk beton.
  74. Timing adalah pemilihan waktu untuk merencanakan ikatan beton.
  75. Troley adalah alat / mesin pembawa adukan beton.
  76. Uplift adalah tekanan / gaya angkat.
  77. Workshop adalah lokasi untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan fabrikasi.
  78. Waterpas adalah alat / mesin untuk mengukur kedataran suatu pasangan konstruksi.
  79. Wires adalah kawat-kawat berdiameter kecil dan tipis untuk membentuk kabel.
  80. Workability adalah kemudahan di dalam melaksanakan suatu pekerjaan konstruksi.


Advertisement




Komentar :

Time Schedule (skedul) Proyek adalah Rencana Waktu yang telah ditetapkan dalam Pelaksanaan Pekerjaan Proyek, meliputi semua Item Pekerjaan yang ada.

Time Schedule ini menerangkan kapan Waktu Dimulai pekerjaan, Lama Waktu pekerjaan (durasi), dan Waktu Selesai pekerjaan. Baik untuk pekerjaan pembuatan Rumah, Gedung, Kantor, Jalan Raya, Jembatan, dan semua Konstruksi Bangunan Sipil lainnya.

Time Schedule biasanya dibuat dalam bentuk Bar Chart dan Network Planning. Saat ini bentuk Bar Chart sangat sering digunakan dalam Penyajian Data Time Schedule. Karena bentuk ini memudahkan kita dalam kegiatan selanjutnya, yaitu membuat Kurva S.

Guna dan Tujuan pembuatan Time Schedule dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi :

1.  Untuk mengetahui Kapan dimulainya suatu Item Pekerjaan, lama pekerjaan, dan rencana selesainya.

2.  Sebagai Pedoman untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (Man Power), sesuai dengan Waktunya.

3.  Sebagai Pedoman untuk mempersiapkan Material Pekerjaan, sesuai dengan Waktunya.

4.  Sebagai Pedoman untuk penyediaan Alat-alat Kerja, sesuai dengan Waktunya.

5.  Sebagai Sumber Data untuk memantau Kecepatan atau Keterlambatan Progress dari Item Pekerjaan, sehingga bisa dilakukan Koreksi di Lapangan untuk Mempercepat Pekerjaan tersebut.

6.  dll.. (mungkin anda bisa menambahkannya pada Kolom Komentar dibawah...)

Time Schedule bisa dibuat dalam bentuk Harian, Mingguan, dan Bulanan. Hal ini tergantung pada lamanya Waktu Rencana Total Pelaksanaan sebuah pekerjaan proyek.

Misalnya untuk Pekerjaan yang Durasi-nya 2 Minggu sampai 1 bulan, akan cocok jika dibuat Time Schedule Harian. Untuk Pekerjaan yang Durasi-nya 2 bulan sampai 1 tahun, bisa dibuat Time Schedule Mingguan. Dan untuk Pekerjaan yang Durasi-nya Lebih Lama, bisa dibuat Time Schedule Bulanan. Ini bisa dibuat bervariasi, tergantung dari Kebutuhan Kelengkapan Data yang kita inginkan.



Advertisement




Komentar :

Bentuk atap Perisai merupakan pengembangan dari bentuk atap Pelana. Atap Pelana memiliki 2 Bidang Miring, kemiringannya bisa dibuat ke Samping Kanan dan Samping Kiri rumah, atau bisa juga dibuat ke Depan dan ke Belakang rumah. (Lihat juga disini Cara Menghitung Luas Atap Rumah bentuk Pelana).

Sedangkan Atap Perisai memiliki ke 4 Bidang Miring tersebut, yaitu: Miring ke Samping Kanan, ke Samping Kiri, ke Depan, dan ke Belakang Rumah. Ada sebagian orang mengatakan bentuk ini adalah Bentuk Atap Rabung Lima (karena Jenis Atap ini memiliki 5 Baris Rabung / Nok yang terpasang diatasnya). Ada juga yang mengatakan Atap bentuk Limas. Seperti terlihat pada Gambar diatas.

Contoh Perhitungan :

Dari Gambar Rencana Atap dibawah ini, silahkan Hitung Luas Total Atapnya.
Direncanakan Sudut Kemiringan α = 35°, dan Sudut Kemiringan β = 30°(sengaja saya bedakan Sudut kemiringannya untuk sekedar Pembelajaran).
Gambar 1. Denah Atap Pelana sebuah Rumah

Perhitungan :

1.  Pada Gambar Atap diatas, dapat dilihat bahwa ada 2 Bidang Atap yang Bentuk dan Ukurannya Identik (sama), yaitu ada 2 buah Bidang Segitiga yang Identik, dan 2 buah Bidang Trapesium yang Identik.

Jadi untuk mengetahui Luas Total Atap tersebut, kita hanya memerlukan 2 kali Perhitungan saja, yaitu Menghitung Luas Atap bentuk Segitiga (lalu dikali 2 unit) dan Menghitung Luas Atap bentuk Trapesium (lalu dikali 2 unit).

2.  Hitung Luas Atap bentuk Segitiga (Luas Segitiga = 1/2 x Alas x Tinggi)

a.  Lihat Gambar 3, Hitung terlebih dahulu Panjang Bidang Miring Atap (P1), berdasarkan sudut α
      P1 = 353cm : cos α 
           = 353cm : cos 35°
          
=
353cm : 0,819
           = 431,013 cm = 4,310 m (ini menjadi nilai Tinggi Segitga)

b.  Lihat Gambar 2, maka kita dapat Mengetahui nilai Alas Segitiga, yaitu = 856 cm = 8,56 m
     
c.  Luas Segitiga = 1/2 x 8,56m x 4,31m = 18,4468 m2

d.  Luas Segitiga 2 Unit = 18,4468 m2 x 2 unit = 36,8936 m2


3.  Hitung Luas Atap bentuk Trapesium, Luas Trapesium = [(a+b)/2] x Tinggi
    
a.  Lihat Gambar 2, Hitung terlebih dahulu Panjang Bidang Miring Atap (P2), berdasarkan sudut β
      P2 = 428cm : cos β 
           = 428cm : cos 30°
          
=
428cm : 0,866
           = 494,226 cm = 4,942 m (ini menjadi nilai Tinggi Trapesium)

b.  Lihat Gambar 3, maka kita dapat Mengetahui nilai a = 3,97m dan b = 11,03m

c.  Luas Trapesium = [(3,97m + 11,03m)/2] x 4,942m = 37,065 m2

d.  Luas Trapesium 2 Unit = 37,065 m2 x 2 unit = 74,13 m2

4.  Hitung Luas Total Atap Rumah = 36,8936 m2 + 74,13 m2 = 111,0236 m2  

5.  Selesai...
Semoga bermanfaat..

Catatan:
a.  Perhitungan diatas adalah Perhitungan Luas Atap Bersih (Net) berdasarkan Gambar Kerja yang ada.
b.  Jika anda ingin menggunakannya sebagai Pedoman untuk Pembelian Material Atap, terlebih dahulu anda harus menambahkan beberapa Persen, Lembar, atau Keping, sesuai dengan Material yang hendak anda gunakan. Penambahan Jumlah ini akan Cukup Signifikan, karena pada pemasangan Atap Penutupnya nanti akan dilakukan Pemotongan Lembaran/Kepingan Atap secara Diagonal yang akan Cukup Banyak menghasilkan barang Sisa yang tidak terpakai.

c.  Tips dan Cara Perhitungan dalam menambahkan Jumlah Lembaran/Kepingan Atap tersebut akan saya posting kemudian.


Advertisement




Komentar :


Tangga Putar banyak kita jumpai pada Bangunan Kantor dan Rumah Mewah. Tangga jenis ini memberikan kesan yang Eksklusif dan Menarik, sehingga banyak orang tertarik untuk membuatnya pada Rumah atau Bangunan Kantor, walaupun Anggaran Biaya Pembuatan dan Finishingnya akan relatif Lebih Mahal dibandingkan Tanggal Lurus atau Tangga berbentuk L.

Pada kesempatan ini saya akan memberi Tips dan Contoh Perhitungan dalam Menghitung Volume Beton pada sebuah Tangga Putar, seperti Gambar diatas.

Contoh Perhitungan :

Pada sebuah Rumah 2 Lantai, diketahui Tinggi Lantai 2 adalah = 4,5 m (dari Lantai 1).
Akan dibuat Tangga Putar berbentuk Setengah Lingkaran, seperti Gambar Dibawah (Gambar 1).
Jumlah Anak Tangga direncanakan sebanyak = 25 Anak Tangga.
Tebal Plat Lantai Beton Tangga = 12 cm.
Anak Tangga Terakhir (anak tangga ke 25) direncanakan Duduk diatas Balok Gantung (Gambar 2).
Berapakah Volume Beton Tangga Putar tersebut...?

(Gambar 1)
(Gambar 2. Potongan Memanjang As Tangga)
Perhitungan :

1.  Tinggi 1 buah Anak Tangga (Optrade) adalah = 4,5m : 25 anak tangga = 18 cm.

2.  Karena Anak Tangga ke 25 direncanakan Duduk diatas Balok Gantung (dicover oleh Balok Gantung), maka Perhitungan Volume Beton Tangga (Anak Tangga dan Plat Tangga) hanya mulai dari Anak Tangga 1 sampai ke 24 (hanya 24 Anak Tangga).

3.
  Lebar Pijakan Anak Tangga (Aantrade) pada Tangga Putar diatas ada 2 macam, yaitu Bidang Terlebar (46,62 cm), dan Bidang Terkecil (27 cm). Maka dalam Menghitung Volume Betonnya, kita dapat menggunakan Lebar As-nya, yaitu = (46,62 cm + 27 cm) : 2 = 36,81 cm, (seperti terlihat pada Gambar 2).

4.  Hitung Volume Beton Anak Tangga

     Volume 1 Anak Tangga = ((0,3681m x 0,18m) : 2) x 1,5m = 0,04969 m3 <--- (Satuan diubah dalam meter)

     Dari gambar diatas diketahui ada 24 anak tangga, maka:
     Volume 24 anak tangga = 24 x 0,04969 m3 = 1,19256 m3

5.  Volume Plat Beton Lantai Tangga

a.  Hitung Panjang 1 buah Sisi Diagonal 1 Anak Tangga, seperti Gambar dibawah ini, dengan Rumus Pythagoras, yaitu : c2 = a2 + b2
            c2 = 36,812 + 18,002
            c2 = 1354,9761 + 324

            c2 = 1678,9761

            c   = 40,98 cm = 0,4098 m

b.  Panjang 24 buah Sisi Diagonal 24 Anak Tangga (Panjang Total Plat Beton Lantai Tangga)
     Ltot =  0,4098m x 24 anak tangga = 9,8352 m.

c.  Volume Plat =  1,5m x 0,12m x 9,8352m = 1,770336 m3


7.  Volume Total (Anak Tangga dan Plat Lantai Tangga)


     Volume Total =  1,19256 m3 + 1,770336 = 2,962896 m3

8.  Selesai...



Advertisement




Komentar :


1.  Sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan Air atau diolesi Pelumas di sisi dalamnya (pelumas yang tidak meninggalkan bekas).

2.  Pengecoran Beton harus dibuat sedemikian rupa sehingga penempatan dan penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran.

3.  Adukan beton dicor lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu, berurutan mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan dibawahnya. Adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan Alat Penggetar (Vibrator) supaya padat. Lihat disini Caranya...

4.  Tidak diperkenankan melakukan Pengecoran bila persiapan Besi Tulangan, Bagian yang Ditanam, Cetakan (Bekisting), dan Perancah belum diperiksa dan disetujui Konsultan Teknik.

5.  Dalam pengecoran Beton Bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi Pemisahan Butiran. Apabila bentuk Tulangan dan Dasar Cetakan (bekisting) cukup rapat, terlebih dahulu diberi Batu Tahu beton setebal 3 cm.

6.  Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang ditentukan oleh Konsultan Teknik, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua pengecoran harus selesai dalam waktu 60 menit setelah keluar dari mesin pengaduk, kecuali jika ditentukan lain oleh Konsultan Teknik.

7.  Beton jangan dicor di dalam atau pada aliran kecuali telah disetujui sebelumnya oleh Konsultan Teknik. Air yang mengumpul selama pengecoran harus segera dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicor selama lebih dari 30 menit, kecuali jika dipersiapkan Konstruksi Sambungan yang akan ditentukan kemudian.

8.  Jika pelaksanaan Pengecoran dihentikan, Lokasi Sambungan harus ditempatkan pada posisi yang benar secara vertikal maupun horizontal, dengan permukaan dibuat Kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan dan membentuk Ikatan Sambungan beton berikutnya.

9.  Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai Posisi Sambungan Rencana yang ditentukan pada Gambar, atau menurut petunjuk Konsultan Teknik.

10.  Beton tidak boleh diangkut dengan Peluncur atau Kereta Sorong dan dijatuhkan dari ketinggian lebih tinggi dari 1,5 meter, kecuali jika diijinkan oleh Konsultan Teknik.


Advertisement




Komentar :