Saat menjalankan bisnis, waktu yang Anda miliki setiap hari sepertinya tak pernah cukup dan cenderung kurang. Memanfaatkan kekuatan di pagi hari dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas Anda, khususnya dalam berbisnis.

Bahkan seperti dilansir dari Entrepreneur.com, Rabu (17/7/2013), Presiden Starbucks Michelle Gaas selama 15 tahun menjalani hidup teratur guna meningkatkan produktivitas pribadi sekaligus bisnis yang dikembangkannya.

Dia diketahui selalu mengatur alarm agar bangun jam 04:30 untuk berolahraga dan menyegarkan pikiran. Pada pukul 6:00 pagi, dia bekerja untuk bisnisnya selama satu jam sebelum keluarganya bangun.

Ahli manajemen waktu Laura Vanderkam menyoroti beberapa alasan yang bisa membuat pagi hari menjadi waktu special bagi para pengusaha. Menurut penulis buku Most Succesful People Do Before Breakfast ini, berikut tiga alasan yang membuat para pengusaha sukses bangun pagi-pagi:

1. Bangun pagi memberi peluang untuk melakukan banyak hal penting

Hari-hari seorang pengusaha cenderung berlalu dengan cepat. Jika Anda menunggu hingga siang atau sore hari untuk melakukan sesuatu yang bermakna bagi bisnis Anda, maka Anda akan kehilangan banyak peluang.

Membaca sebelum memulai aktivitas juga dapat membantu Anda menambah informasi dan pengetahuan bisnis. Melakukannya di pagi hari dapat sangat mendorong bisnis Anda.

2. Bangun pagi memberi dorongan yang lebih kuat untuk beraktivitas

Bangun pagi bisa memberikan lebih banyak motivasi dalam menjalankan usaha, meski Anda bukan tipe orang yang sulit bangun pagi.

Dengan motivasi dan kemauan yang kuat karena tak terburu-buru di pagi hari, Anda mampu mengatasi berbagai kegiatan bisnis seharian. Bertemu rekan bisnis, membuat keputusan penting dan lainnya akan menguras energi Anda. Namun bangun pagi bisa menjaga energi Anda stabil hingga selesai bekerja.

3. Bangun pagi bisa menjaga mood kerja Anda seharian

Terlambat bangun dan tergesa-gesa menyiapkan keperluan kantor akan membuat mood Anda menurun seharian. Hal ini dapat mengganggu produktivitas Anda saat menjalankan usaha.

Bangun pagi bisa membuat Anda memulai hari dengan lebih menyenangkan. Dengan begitu, menjalankan bisnis akan terasa lebih ringan.

(Sumber: Liputan6.com)



Komentar :
Posisi pemasangan Keramik Lantai pada Rumah atau Gedung biasanya antara lain:
1.  Lantai Dalam Ruangan Rumah, misalnya Ruang Tamu, Kamar Tidur, Ruang Keluarga, Ruang TV, dsb.
2.  Lantai Kamar Mandi.
3.  Lantai Teras, (teras depan atau teras belakang)
4.  Halaman, (halaman depan atau halaman belakang)
5.  Garasi (mobil atau sepeda motor)
6.  Balkon.
7.  dan sebagainya, tergantung disain Rumah tersebut.

Keramik Lantai yang biasa dipasang tersebut memiliki ukuran yang bervariasi, dan biasa memiliki bentuk Bujursangkar. Ada yang berukuran 20x20 (satuan dalam centimeter), ada 30x30, 40x40, 60x60, 80,80, dan sebagainya. Biasanya Ukuran 60x60 keatas adalah berbahan Granit, Semi Granit, dan Marmer. Keramik Lantai jarang sekali memiliki ukuran lebih besar dari 40x40, kecuali Keramik Dinding.

Beberapa Hal yang Perlu diketahui sebelum Melakukan Perhitungan Jumlah Keramik Lantai:

1.  Keramik yang dijual di pasaran biasanya dikemas didalam Kotak. Dalam 1 Kotak tersebut terdiri dari Beberapa Keping Keramik, yang apabila dihitung Luas Totalnya tidak semuanya berjumlah 1 m2. Ada yang 1 kotak berjumlah Tepat 1 m2, ada yang Kurang dari 1 m2, dan ada yang lebih dari 1 m2.

2.  Konsumen membeli Keramik dalam Satuan Kotak, bukan dalam satuan Meter Persegi.

3.  Keramik Lantai ukuran 20x20, biasanya dalam 1 kotak berjumlah 25 keping. Ini berarti 1 kotak Keramik Tersebut sama dengan 1 m2, karena Luasnya = 0,2m x 0,2m x 25 = 1 m2.

4.  Keramik Lantai ukuran 30x30, biasanya dalam 1 kotak berjumlah 11 keping. Ini berarti 1 kotak Keramik Tersebut sama dengan 0,99 m2, karena Luasnya = 0,30m x 0,30m x 11 = 0,99 m2.

5.  Keramik Lantai ukuran 40x40, biasanya dalam 1 kotak berjumlah 6 keping. Ini berarti 1 kotak Keramik Tersebut sama dengan 0,96 m2, karena Luasnya = 0,40m x 0,40m x 6 = 0,96 m2.

6.  Keramik (Granit, Semi-Granit) Lantai ukuran 60 x 60, dalam 1 kotak ada berjumlah 3 keping. Ini berarti 1 kotak Keramik Tersebut sama dengan 1,08 m2, karena Luasnya = 0,6m x 0,6m x 3 = 1,08 m2.

7.  Keramik (Granit, Semi-Granit) Lantai ukuran 60 x 60, dalam 1 kotak ada berjumlah 4 keping. Ini berarti 1 kotak Keramik Tersebut sama dengan 1,44 m2, karena Luasnya = 0,6m x 0,6m x 4 = 1,44 m2.

Disini Jelas terlihat bahwa, 1 kotak Keramik belum tentu Luas Keramik 1 kotak tersebut = 1 m2. Ini tergantung pada Ukuran Keramiknya dan Berapa Keping Keramik yang dikemas dalam 1 Kotak tersebut.

Contoh Perhitungan:

Dari Gambar Denah Rumah dibawah, misalkan Keramik Lantai yang hendak digunakan adalah berukuran 40x40, dan 1 kotak Keramik tersebut berjumlah 6 keping (data ini Wajib diketahui terlebih dahulu). Berapa Kotak Keramik Lantai (tidak termasuk Lantai Kamar Mandi) yang harus kita beli untuk kebutuhan Rumah tersebut...?

Jawaban:

1.  Hitung Luas Total Lantai Rumah yang hendak dipasang Keramik (tidak termasuk Lantai Kamar Mandi).
     Luas Lantai = (3,5 x 3,1)+(1,65 x 1.40)+(3,5 x 3.1)+(3,14 x 5,0) = 39,71 m2.

2.  Hitung Jumlah Keramik ukuran 40x40 yang diperlukan untuk dipasang pada lantai seluas 39,71 m2 tsb.
     Jumlah Keramik = 39,71 m2 : 0,96  = 41,36 kotak (Cat: 1 kotak Keramik ukuran 40x40 = 0,96 m2)

3.  Hitung Jumlah Keramik yang Seharusnya Dibeli (tambahkan 3% dari Perhitungan diatas)
     Jumlah Keramik = 41,36 kotak x 103 % = 42,60 kotak
Catatan: Penambahan 3% ini berdasarkan pengalaman, untuk mengantisipasi Keramik yang Pecah dan Keramik yang tidak terpakai (Sisa Potongan).

4.  Beli Keramik sejumlah 43 kotak (perhitungan dibulatkan keatas dari 42,60 kotak menjadi 43 kotak). Karena tidak mungkin kita membeli Keramik sejumlah 42,60 kotak kan...? Pada umumnya Keramik itu dijual per-Kotak, bukan per-Keping.

Demikian tulisan kali ini tentang Cara Menghitung Kebutuhan Keramik Lantai Rumah, semoga Artikel ini berguna. Lihat juga Tips Memilih dan Memasang Keramik Kamar Mandi.


Advertisement




Komentar :
Metode kerja Plesteran Dinding yang biasa dilakukan di Proyek Sipil ada 3 macam, yaitu:

a.  Dinding Bata langsung diplester tanpa ada Kepala Plesteran, hanya mengandalkan Kayu/Alumanium sebagai alat untuk meratakan plesteran tersebut. Kemudian langsung diaci pada saat kondisi plesteran masih Basah / Setengah Kering.

b.  Dinding Bata terlebih dahulu dibuat Kepala Plesteran, kemudian dinding diplester dengan acuan Kepala Plesteran tadi, selanjutnya langsung diaci pada saat kondisi plesteran masih Basah / Setengah Kering.

c.  Dinding Bata terlebih dahulu dibuat Kepala Plesteran, kemudian dinding diplester dengan acuan Kepala Plesteran tadi, selanjutnya plesteran tidak langsung diaci. Setelah beberapa hari baru diaci. Sistem ini yang di lapangan dikenal dengan Cara Plester Aci-Kering.

Teknis kerja Plesteran Dinding dengan Cara Aci Kering adalah sebagai berikut:

1.  Misalkan contoh dinding pasangan bata yang hendak diplester seperti gambar dibawah ini
 

2. Buat Benang Acuan untuk mendapatkan kerataan pada seluruh bidang Permukaan Dinding Batubata. Gunakan Lot/Bandul/Unting-unting, Paku, dan Benang untuk mendapatkan Rata Vertikal, lalu hubungkan Kedua Benang Vertikal tersebut untuk mendapatkan Rata Horizontal. Sehingga tercipta Benang Acuan yang benar-benar rata terhadap semua Dinding Bata tersebut. Beri Tanda dengan Paku untuk menentukan Ketebalan Plesteran pada titik-titik yang diperlukan.


3.  Buat Kepala Plesteran menggunakan Adukan Mortar (Semen dan Pasir) secara Vertikal, dengan perpedoman pada Benang dan Paku Rata Vertikal tadi. Seperti Gambar dibawah. Kepala Plesteran harus dibuat serata mungkin, karena berfungsi sebagai Pedoman (Rel) dalam melakukan Plesteran nantinya.


4.  Lakukan pekerjaan Plesteran, seperti terlihat pada Gambar dibawah, dengan bantuan Kayu Keras yang benar-benar Lurus atau menggunakan Profil Holo Alumanium. Disini Rel Kepala Plesteran menjadi Pedoman untuk membuat Plesteran menjadi benar-benar Rata. Setelah selesai proses plesteran. biarkan beberapa hari hingga Plesteran benar-benar kering.


5.  Setelah Plesteran benar-benar Kering, barulah kita lakukan Pekerjaan Acian. Yaitu melapisi dinding Plesteran yang masih Kasar dengan Adukan Acian (Semen dan Air), sehingga plesteran menjadi Halus.


Demikian tulisan saya kali ini tentang Teknis Pelaksanaan Plesteran Dinding dengan Metoda Aci Kering. Semoga Artikel ini berguna.

Lihat juga Artikel lainnya Apa saja Penyebab Plesteran Dinding Rumah Retak.

Advertisement




Komentar :
Sering kita jumpai masalah Bocor terjadi pada Kamar Mandi lantai 2, lantai 3, dan bangunan bertingkat lainnya. Salah satu penyebab Bocor yang sering terjadi adalah akibat Rembesan Air pada sekeliling Pipa Air Buangan (Air Mandi dan Closet), seperti pada tulisan saya sebelumnya Penyebab Bocor yang terjadi pada Kamar Mandi Rumah Lantai 2.

Hal ini sebaiknya dihindari dan di antisipasi sejak dini, yaitu dengan melakukan Proses Pemasangan (Pengecoran) Pipa dengan Baik dan Kuat. Pemasangan Pipa memang sebaiknya dilakukan sejak awal yaitu pada saat Pengecoran Plat Beton Rumah Lantai 2, tapi ada kalanya kondisi memaksa kita untuk melakukan pemasangan Pipa ini belakangan hari.

Untuk Pemasangan Pipa yang dilakukan pada Lantai beton yang telah dicor, dapat dilihat dibawah.

Teknis Kerja Pelaksanaan Pemasangan Pipa Air Buangan pada Lantai 2

1.  Lobangi Lantai Beton, seperti terlihat pada Gambar dibawah ini. Lobang dibuat berdiameter 15cm, karena direncanakan Pipa berdiameter 4" (inchi) akan dicorkan ditengah lubang tersebut. Sehingga diperkirakan masih ada Jarak antara Permukaan Luar Pipa dan Beton sebesar 2 cm di sekeliling Pipa 4" tersebut.

(Satuan Gambar dalam CM, Lobang berdiameter 15cm)

2.  Masukkan Pipa 4"tersebut ke dalam Lobang yang telah dibobok tadi Tepat di tengah lobang. Sehingga ada Jarak sebesar 2cm di sekeliling Pipa tersebut. Seperti Gambar dibawah ini.

(Pipa telah dimasukkan ke dalam Lobang Bobokan)

3.  Pasang Mal Bekisting pada bagian Bawah Plat Lantai Beton, sebaiknya menggunakan Tripleks yang cukup tebal dan diikat erat pada Plat Lantai Beton, sehingga tetap kuat pada saat dilakukan Pengecoran. Seperti terlihat pada pada Gambar dibawah.

(Tampak Bawah, Saat Pengecoran)

4.  Lakukan Pengecoran pada sekeliling Pipa 4" tersebut, dari bagian atas Permukaan Plat Lantai Beton. Dengan menggunakan Semen Khusus (bahan Additive). Pengecoran dilakukan dengan benar-benar Padat dan Rapi. Contoh produk Semen Khusus yang pernah saya gunakan adalah Lemkra FK 103.

(Tampak Atas, Setelah Selesai Pengecoran)

5. Biarkan beberapa hari hingga benar-benar kering dan kuat, sebelum melakukan Pekerjaan Waterproofing pada Lantai Beton dan Pemasangan Keramik.

Untuk penggunaan Closet pada Rumah Lantai 2 sebaiknya gunakan Closet ber-Corong, seperti pada tulisan saya sebelumnya Menggunakan Closet Jongkok ber-Corong agar Kamar Mandi tidak Bocor.

Demikian tulisan saya kali ini, semoga berguna.

Advertisement




Komentar :
Dalam dunia Proyek Sipil, Estimator adalah Seorang Tenaga Ahli Perhitungan pada Perencanaan dan Pelaksanaan pembangunan Proyek. Peran Estimator ini sangat penting, karena turut menentukan keberhasilan dalam pekerjaan. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat dibawah ini.

Tugas (Job Deskripsi) seorang Estimator antara lain adalah:

1.  Membuat Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek, yang meliputi:
     a.  Membuat Daftar Rincian Pekerjaan secara Lengkap berdasarkan Gambar Bestek Proyek. 
     b.  Melakukan Perhitungan Volume dari setiap Item Pekerjaan
     c.  Membuat Analisa Perhitungan dari setiap Item Pekerjaan (yang terdiri dari Bahan dan Upah Kerja).
     d.  Melakukan Rekapitulasi (Perhitungan Total) Rencana Anggaran Biaya (RAB) tersebut.

2.  Membuat Perhitungan Harga Upah Kerja (Progress Kerja), yang meliputi:
     a.  Membuat Daftar Rincian Pekerjaan secara Lengkap berdasarkan Gambar Bestek Proyek. 
     b.  Melakukan Perhitungan Volume dari setiap Item Pekerjaan
     c.  Membuat Analisa Perhitungan Upah Kerja dari setiap Item Pekerjaan
     d.  Melakukan Rekapitulasi (Perhitungan Total) Upah Kerja pada Proyek tersebut.

3.  Membuat Time Schedule dan Kurva-S, sebagai Acuan Waktu Pelaksanaan Pekerjaan yang berguna sebagai kontrol Waktu dan Progress dari setiap Item Pekerjaan pada sebuah Proyek.

4.  Ikut membantu dalam Menyusun Berkas Penawaran Harga Borongan, yang biasanya dibuat untuk Owner (Pemilik Proyek) dan Lelang Tender Proyek Swasta atau Pemerintah.

5.  Memberikan Data Informasi pada bagian Pembelian (Purchasing), untuk membeli Bahan dan Barang Kebutuhan Proyek di lapangan, baik itu Jumlah (quantity), Jenis, Merk, dan Spesifikasi Barang yang hendak dibeli.

6.  Melakukan Kontrol terhadap Pemakaian Bahan yang dilakukan di lapangan (Proyek), apakah sesuai dengan Perhitungan Semula atau tidak. Memeriksa apabila ada Terjadi Selisih dan mencari penyebabnya. Apabila ada keborosan Pemakaian Bahan, sebaiknya ditindaklanjuti.

7.  Melakukan Kontrol terhadap Pengeluaran Biaya Upah Kerja. Hal ini dilakukan dengan cara Cross-Check antara Nilai Progress Kerja (poin 2) dan Rekap Pengeluaran Gaji Upah Pekerja setiap Minggu atau setiap Bulan nya. Apabila Pengeluaran Gaji Upah Pekerja melebihi dari Estimasi Semula, maka sebaiknya ditindaklanjuti juga.

8.  Membuat Berkas Penagihan Termin Pembayaran (termyn), yang biasanya berbentuk Laporan Progress Kerja. Penagihan Termyn Bisa dibuat berdasarkan Persentase Proyek yang Selesai, misalnya 20%, 50%, dan sebagainya, bisa juga dibuat Periodik Setiap Bulannya (misalnya Setiap Awal Bulan). Hal ini ditetapkan pada Kontrak Kerja sebuah Proyek.

Supaya seorang Estimator bisa melakukan tugasnya dengan baik, sebaiknya seorang Estimator memiliki Kriteria sebagai berikut, lihat disini Tips untuk Menjadi Estimator Proyek yang Handal.

Demikian tulisan saya kali ini, semoga berguna. Jika ada yang ingin menambahkan informasi tentang topik ini, silahkan tulis pada Kolom Komentar dibawah.

Advertisement




Komentar :
Dalam dunia Proyek Sipil, Estimator adalah Seorang Tenaga Ahli Perhitungan pada pelaksanaan pembangunan Proyek Sipil. Sebagian tugasnya adalah melakukan Analisa Perhitungan Biaya, Perhitungan Pemakaian Bahan, dan Kontrol terhadap Pemakaian Bahan yang akan terjadi pada Pelaksanaan Proyek tersebut nantinya. Membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) merupakan salah satu Peran Penting dari seorang Estimator.

Seorang Estimator Proyek Sipil yang Handal, sebaiknya memiliki Kriteria sebagai berikut:

1.  Mampu "Membaca" Gambar, maksudnya adalah Dapat Memahami secara Benar dan Lengkap semua Item Pekerjaan yang ada pada Gambar Rencana (Bestek) sebuah Proyek Sipil.

2.  Memiliki Pengetahuan yang Luas terhadap Bahan dan Produk yang biasa digunakan dalam pekerjaan Proyek Sipil, baik itu Spesifikasi, Jenis, Merk, Volume, Harga, dan informasi penting lainnya. Misalnya Semen, Pasir, Kerikil, Besi, Kayu, Batu bata, Kusen, Besi Baja Berat, Baja Ringan, Atap, Plafon, dan banyak Bahan/Produk lainnya.

3.  Mahir dan Menguasai Aplikasi Microsoft Excel pada Komputer, karena dengan bantuan Aplikasi ini Semua Pekerjaan Perhitungan dapat dilaksanakan dengan Akurat dan Cepat. Termasuk juga dalam membuat Kurva-S untuk Kontrol Progress pada Pelaksanaan Pekerjaan nantinya.

4.  Cermat dan Teliti dalam melakukan Perhitungan, karena akan fatal sekali akibatnya apabila terjadi kesalahan dalam Perhitungan, yang bisa menyebabkan "Hasil Perhitungan" menjadi Salah, sehingga berdampak buruk bagi Pengajuan Tender dan Pelaksanaan Pekerjaan nantinya.

5.  Mengetahui secara Persis tentang Nilai Upah Pekerjaan dari setiap Item Pekerjaan. Misalnya Upah Pekerjaan Pemasangan Batubata permeter-persegi, Upah Pemasangan Plafon, Upah Pengecatan, dan banyak Upah lainnya.

6.  Dapat melakukan Analisa Perhitungan Sendiri secara Real dengan Benar dan Akurat terhadap Penggunaan Bahan dan Upah dalam Pekerjaan Sipil. Jangan hanya mengandalkan koefisien-koefisien yang telah ditetapkan oleh "orang lain". Misalnya. Analisa terhadap Pekerjaan Beton permeter-kubik, Analisa terhadap Pekerjaan Pemasangan Batu Bata permeter-persegi, dan lain-lain. Karena banyak Analisa tersebut yang saya lihat tidak akurat dan tidak sama dengan aplikasi langsung di lapangan.

7.  Menguasai Perhitungan Efisiensi Alat Berat, seperti Excavator, Crane, Dump-Truck, dsb.

Berdasarkan pengamatan saya, saya melihat seorang Estimator akan lebih Handal apabila telah memiliki Pengalaman Pelaksanaan Kerja di lapangan, tentu saja dia juga harus menguasai 7 Kriteria diatas. Karena Perhitungan yang dilakukannya akan lebih Real layaknya di lapangan.

Demikian beberapa Kriteria Penting yang sebaiknya ada pada seorang Estimator Proyek Sipil. Jika ada yang ingin menambahkan, silahkan isi pada Kolom Komentar dibawah.

Advertisement




Komentar :
Pembangunan Saluran Air dan Selokan (Parit) banyak sekali kita jumpai daerah kota maupun pedesaan, seperti yang tampak pada Gambar diatas.

Fungsi (Guna) dan Manfaat Saluran ini antara lain sebagai berikut:

1.  Sebagai saluran pembuangan Air Kotor (Limbah) dari rumah, gedung, pabrik, kantor, perumahan, dsb., yang nantinya disalurkan ke tempat yang lebih rendah, seperti sungai, danau dan laut.

2.  Sebagai saluran pembuangan yang menampung Air Hujan dari sekeliling saluran tersebut, seperti air limpasan dari Jalan Raya dan Permukaan Tanah.

3.  Bermanfaat untuk tetap menjaga kondisi Permukaan Jalan Raya supaya tetap kering dan tidak tergenang air. Hal ini sangat penting bagi Jalan Raya yang terbuat dari Aspal, karena Jalan yang berbahan Aspal akan lebih mudah rusak apabila kondisinya sering tergenang oleh Air.

4.  Mencegah Banjir, karena Air yang tergenang pada Permukaan Tanah akan segera dialirkan ke tempat yang lebih rendah.

5.  dan sebagainya. Jika ada yang ingin menambahkan manfaat Saluran Air dan Selokan ini, silahkan tulis pada Kolom Komentar dibawah.

Contoh Perhitungan dan Gambar Saluran Air dan Selokan dapat dilihat pada artikel ini Cara Menghitung Volume Beton pada Saluran Air dan Selokan.

Advertisement




Komentar :
Kebocoran Air pada Kamar Mandi sering terjadi pada Rumah, baik itu Kamar Mandi pada Lantai 1 (Lantai Dasar) atau Kamar Mandi pada Lantai 2. Hal ini banyak terjadi pada Rumah dan mejadi Problem yang cukup serius, apalagi jika bocor terjadi pada Kamar Mandi Lantai 2. Karena Air yang Bocor akan menetes kebawah (ke Lantai 1), yang sangat membuat tidak nyaman Penghuni Rumah tersebut.

Penyebab Bocor yang terjadi pada Kamar Mandi Lantai 2, antara lain:

1.  Kualitas Cor Plat Lantai Beton kamar mandi yang Tidak Baik

Hal ini bisa terjadi karena:
a.  Campuran Beton (Semen, Pasir, Kerikil) yang terlalu banyak Kerikil (Batu Pecah / Split), dan kurang Pasir, sehingga menyebabkan Beton menjadi Berongga.

b.  Proses Pelaksanaan Pengecoran yang kurang baik karena tidak menggunakan Alat Penggetar (Vibrator), sehingga menyebabkan Beton menjadi Berongga. 

c.  Kurangnya Semen pada adukan Beton pada saat pengecoran. Ini menyebabkan ada Permukaan Pasir atau Kerikil (Agregat) yang tidak diselimuti Semen dengan merata. Bagian Agregat yang tidak diselimuti semen ini, bisa menjadi jalan bagi Rembesan Air sehingga terjadi Bocor.

d.  Proses pencampuran Beton (Semen, Pasir, Kerikil) yang tidak merata (homogen), sehingga ada sebagian Permukaan Pasir atau Kerikil (Agregat) yang tidak diselimuti Semen dengan merata. Bagian Agregat yang tidak diselimuti semen ini, bisa menjadi jalan bagi Rembesan Air sehingga terjadi Bocor.

2.  Kebocoran pada Pipa Buangan Air Kotor Kamar Mandi


Bocor bisa juga terjadi pada Pertemuan antara Beton dan Pipa (Buangan Air Mandi dan Closet). Ini terjadi akibat tidak kuatnya ikatan pada kedua material yang Berbeda Jenis tersebut, yaitu antara material Pipa dan material Beton.

Untuk mendapatkan hasil pengikatan yang kuat antara Beton dan Permukaan Luar Pipa tersebut, kita sebaiknya menggunakan Bahan Additive sejenis Semen Khusus yang memiliki karakter yang Dapat Mengikat Erat pada Permukaan Beton dan Mengikat Erat juga pada Permukaan Luar Pipa. Bahan tersebut biasanya juga lebih kedap air karena memang didisain khusus untuk penggunaan seperti itu. (lihat Gambar diatas).

3.  Lantai Beton Kamar Mandi yang tidak diberi Lapisan Kedap Air (Waterproofing).

Sebelum pemasangan Keramik Lantai Kamar Mandi, sebaiknya Lantai Beton Kamar Mandi diberi lapisan Waterproofing terlebih dahulu. Teknis kerja selengkapnya akan saya tulis pada postingan berikutnya.

Demikian tulisan saya kali ini, semoga berguna.

Advertisement




Komentar :
Tips untuk memudahkan Perhitungan Volume Beton tangga (supaya cepat), sebaiknya kita membagi perhitungan menjadi 2 bagian, yaitu:
     1.  Perhitungan Volume masing-masing Anak Tangga
     2.  Perhitungan Volume Plat Lantai Tangga

Cara Perhitungan Volume Beton:

1.  Volume Anak Tangga

Volume 1 Anak Tangga = ((0,27m x 0,17m) : 2) x 1,2m = 0,02754 m3 <--- (Satuan diubah dalam meter)

     Dari gambar diatas diketahui ada 23 anak tangga, maka:
     Volume 23 anak tangga = 23 x 0,02754 m3 = 0,63342 m3

2.  Volume Plat Lantai Tangga

     Volume Plat =  1,2m x 0,12m x 7,39m = 1,06416 m3 

3.  Volume Total (Anak Tangga dan Plat Lantai Tangga)

     Volume Total =  0,63342 + 1,06416 = 1,69758 m3

4. Selesai.

Demikian tulisan singkat kali ini, semoga berguna.

Advertisement




Komentar :
Pada artikel sebelumnya saya telah menulis tentang Cara Mudah dan Cepat Menghitung Volume Beton Sloof Rumah. Pada kesempatan kali ini saya lanjutkan dengan Cara Perhitungan Volume Beton pada Kolom, Balok, dan Plat Lantai.

A.  Volume Kolom Beton

(Kolom = 6 Unit, satuan dalam CM)
 Volume Kolom = 0,25m x 0,35m x 3,8m x 6 Unit = 1,995 m3

B.  Volume Balok Beton

(Denah, Balok diatas Kolom, satuan dalam CM)

Volume Balok = (0,25m x 0,45m x 4,5m x 4 Unit) + (0,25 x 0,40 x 4m x 3 Unit) = 3,225 m3

C.  Volume Plat Lantai Beton

(Plat Lantai Beton, satuan dalam CM)

Untuk Perhitungan Volume Plat Lantai Beton biasa dilakukan dalam 2 cara (atas 2 Kepentingan), yaitu:

1.  Volume Bersih Plat Lantai Beton (tidak termasuk Volume Plat Lantai diatas Balok)

Volume Plat Lantai Beton = (0,10m x 4,25m x 3,75m) x 2 Unit = 3,1875 m3

Cara ini biasa dilakukan untuk mengetahui Volume Beton yang diperlukan dalam Rencana Pengecoran, karena ini merupakan Nilai Real volume Beton yang dibutuhkan dalam Pengecoran Plat Lantai nantinya.

2.  Volume Kotor Plat Lantai Beton (termasuk Volume Plat Lantai diatas Balok)

Volume Plat Lantai Beton = (0,10m x 9,25m x 4,25m) = 3,93125 m3

Cara ini biasa dilakukan untuk mengetahui Volume Beton dalam Menghitung (membuat) Rencana Anggaran Biaya (RAB). Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian dalam Pelaksanaan Pekerjaan dan Akurasi Perhitungan Jumlah Besi Tulangan Plat Lantai Beton tersebut. Karena bagaimanapun juga Pembesian (Tulangan) Plat Lantai dibuat bertumpu pada Balok Beton dibawahnya.

Demikian tulisan kali ini, semoga berguna.


Advertisement




Komentar :
Pembangunan Saluran Air dan Selokan (Parit) banyak sekali kita jumpai daerah kota maupun pedesaan. Ada yang dibuat menggunakan Anggaran Biaya Daerah setempat, ada juga yang dibuat secara pribadi (menggunakan biaya sendiri) seperti pada rumah pribadi atau perumahan.

Cara Menghitung Volume Beton pada Pekerjaan Selokan dan Saluran Air

Contoh Perhitungan:
Misalkan ada Pekerjaan Saluran Air yang seluruhnya terbuat dari Beton, seperti gambar dibawah (Gambar 1, Gambar 2, dan Gambar3, satuan Gambar dalam cm). Direncanakan Panjang Saluran tersebut = 500 meter. Coba hitung berapa kubikasi (m3) Volume Beton yang dibutuhkan untuk pengocoran Saluran Air tersebut.

(Gambar 1. Panjang Saluran dan Balok Pengaku)

(Gambar 2. Detail Penampang Saluran)

(Gambar 3. Balok Pengaku Skor dan Penampang Balok)
Perhitungan:

Tips: Untuk menghitung Volume Beton keseluruhan, sebaiknya dilakukan dengan Lengkap dan Teliti. Diawali dengan Perhitungan Luas Penampang yang teliti juga. Karena semakin panjang Saluran yang akan dihitung, maka semakin besar juga kemungkinan selisih volume akibat ketidaktelitian dalam perhitungan luas Penampang.

1.  Hitung Luas Penampang terlebih dahulu, (data dari Gambar 2).
     a.  Luas Penampang Lantai Saluran =  ((0,84 + 0,80) : 2) x 0,12  <-----(satuan diubah dalam Meter)
                                                              =  0,0984 m2

     b.  Luas Penampang Dinding Saluran (2 sisi) =  (0,15 x 0,79) x 2 = 0,237 m2

2.  Jumlahkan Luas Penampang Lantai Saluran dan Dinding Saluran = 0,0984 + 0,237 = 0,3354 m2

3.  Volume Beton Lantai dan Dinding Saluran =  0,3354 x Panjang Saluran
                                                                     =  0,3354 m2 x 500 m = 167,7 m3

4.  Sekarang kita dapat menghitung Volume Beton Balok Pengaku (Skor), yang pada Gambar 1 diketahui dibuat pada setiap jarak 250cm (2,5 meter), (Detail Balok lihat Gambar 3)

     a.  Volume 1 buah Balok =  0,15 x 0,15 x ((0,8 + 0,75) : 2) =  0,0174375 m3

     b.  Jumlah Balok =  (500m : 2,5m) + 1 = 201 buah

     c.  Volume 201 Balok = 0,0174375 m3 x 201 =  3,50 m3 

5.  Volume Beton Total =  167,7 m3 + 3,50 m3 = 171,2 m3

6.  Selesai.

Demikian Cara dan Contoh Perhitungan Volume Beton pada Pekerjaan Saluran Air dan Selokan (Parit).
Semoga tulisan ini berguna.

Advertisement




Komentar :
Berdasarkan Jenisnya, Closet Ada 2 macam, yaitu:
a.  Closet (Kloset) Duduk
b.  Closet (Kloset) Jongkok

Sedangkan Closet Jongkok juga 2 macam, yaitu:
1.  Closet Jongkok dengan Saluran Buangan ber-Corong
2.  Closet Jongkok dengan Saluran Buangan tanpa Corong.

1.  Cara Pemasangan Closet Jongkok ber-Corong dapat dilihat pada Gambar dibawah ini:

 
Dari Gambar diatas dapat kita lihat bahwa: Air Kotor Buangan Closet yang keluar, akan langsung masuk seluruhnya kedalam Pipa 4" (Pipa Saluran Air Kotor Buangan Closet), tanpa membasahi Permukaan Plat Lantai Beton.

Hal ini sangat Efektif untuk mencegah terjadi Kebocoran pada Lantai Kamar Mandi, karena Air Buangan tersebut langsung masuk kedalam Pipa Buangan 4" yang langsung mengalir ke Septic-Tank.

2.  Cara Pemasangan Closet Jongkok tanpa Corong dapat dilihat dibawah ini:

Gambar 1. Tampak Samping

Gambar 2. Tampak Atas

Dari Kedua Gambar diatas (Gambar 1 dan 2.) dapat kita lihat bahwa: Air Kotor Buangan Closet yang keluar, tidak langsung masuk seluruhnya kedalam Pipa 4", tapi akan jatuh terlebih dahulu kedalam Bak Kontrol yang dibentuk dari Pasangan Batu Bata Diplester. Air Kotor ini kemudian akan mengalir ke dalam Pipa 4" tersebut.

Basah dan tergenangnya Air Kotor tersebut (walaupun sementara) pada Bak Kontrol, memungkinkan untuk terjadinya kebocoran pada Lantai Kamar Mandi. Kebocoran bisa terjadi apabila Pengikatan yang terjadi antara Plat Lantai Beton dan Permukaan Luar Pipa 4" tidak berjalan dengan baik, sehingga bisa menjadi celah bagi Air Kotor untuk merembes (bocor).

Demikianlah tulisan saya kali ini. Semoga berguna dan bisa menjadi pertimbangan dalam memilih Closet Jongkok.

Advertisement




Komentar :
Fungsi semua Mesin Pemanas Air (Water Heater) pada dasarnya Sama, yaitu Untuk Memanaskan Air Biasa (Dingin) menjadi Panas, sehingga bisa digunakan untuk kebutuhan manusia, misalnya untuk mandi, mencuci, dsb. Yang membedakan adalah Energi yang digunakan untuk Proses Pemanasannya.

Banyak Perusahaan yang mengeluarkan produk Water Heater ini di Indonesia, dengan Jenis dan Spesifikasi yang berbeda-beda pula. Kita dapat memilih dan membelinya sesuai dengan Spesifikasi yang kita inginkan dan Kapasitas Volume air panas yang dihasilkan dari masing-masing Alat Pemanas tersebut.

Jenis Water Heater yang banyak dipakai pada Rumah:

1. Electric Water Heater

Yaitu alat pemanas air yang menggunakan Energi Listrik, dikenal dengan Electric Water Heater.
Merk Produknya banyak dan bisa didapatkan di toko-toko Sanitary, seperti: merk Ariston, Rinnai, Daalderop, Gainsborough, Rheem, Paloma, Wasser dll. Jenis ini banyak dipakai di Rumah Tinggal, Hotel, Apartement, Rumah Sakit, villa, dll., karena sistem Pemasangan yang Praktis dan Harganya yang terjangkau.




2. Solar Water Heater

Yaitu alat pemanas air yang mengandalkan Energi Panas Matahari yang dikenal dengan istilah Solar Panel, karena menghasilkan air panas, kalau Solar Cell menghasilkan Arus Listrik .
Water Heater Tenaga Surya ini sangat trend dan banyak beredar di Indonesia, baik produk Import maupun produk Buatan Dalam Negeri, Merk-nya bermacam-macam seperti: Wika, Solahart, Edwards, Intisolar, Handal, dll.

3. Gas Water Heater

Yaitu alat pemanas air yang mengandalkan Energy Gas Elpiji, dikenal dengan Gas Water Heater. Merk Produknya banyak juga dan bisa didapatkan di toko-toko Sanitary, seperti: merk Paloma, Rheem, Rinnai, Wasser, dll. 







 

Jenis Water Heater dengan Sumber Energi Panas Kompressor AC:

1. Aircon Water Heater


Alat Pemanas Air ini mengandalkan Energy Panas buangan dari Out-door AC (Air Conditional), yaitu dengan memanfaatkan Suhu Panas Freon. Suhu Panas Freon ini tidak dibuang oleh Kompressor, tapi dibelokkan kedalam Tangki yang berisi Air Dingin.

Di dalam Tangki ini ada Pipa Spiral (Heat Exchanger), sehingga terjadi kontak antara Suhu Freon Panas dengan Pipa Spiral yang diluarnya berisi Air Dingin tadi, sehingga air tersebut menjadi Panas. Saat ini produk yang dominan beredar adalah merk Wika Aircon Water Heater. 

2. Heat Pump Water Heater


Heat Pump atau Pompa Kalor (Panas) adalah alat Pemanas Air yang memanfaatkan Suhu Panas Freon saat keluar dari Kompresor. Proses pemanasan Heat Pump ini Cukup Efisien karena konsumsi Listrik tidak terlalu besar, hanya kira-kira 1/3 dari Kebutuhan Normal saja. Saat ini produk yang dominan beredar adalah merk Wika Heat Pump dan Media Heat Pump.


Advertisement




Komentar :
Teringat 12 tahun yang lalu pernah menangani Pemasangan Installasi Pipa Air Panas untuk Rumah Pribadi salah seorang Klien. Kebetulan pada saat itu masih menggunakan Pipa Galvanis untuk aliran Air Panas nya, dan Water Heater yang menggunakan Gas sebagai Bahan Bakar sumber pemanas Air tersebut. Masih ingat pada saat itu saya menggunakan Water Heater Gas dengan merk Paloma.

Berbeda dengan saat sekarang ini (2013), Pipa Galvanis sudah jarang sekali dipakai untuk saluran Air Panas, karena Konsumen kebanyakan memakai Produk Pipa PVC Tahan Panas, yang telah banyak sekali diproduksi di pasaran, yang menurut saya juga Memang Kualitasnya lebih baik (lebih kedap dan lebih tahan terhadap usia) dibandingkan Pipa Galvanis.

Gambar Pemasangan Mesin Water Heater Gas dapat dilihat dibawah:


Cara Kerja Mesin Water Heater Gas diatas dapat dilihat pada Uraian berikut:

1.  Setelah Mesin Water Heater Gas selesai terpasang, aktifkan "Api Kecil" yang biasanya ada pada Area Pemanasan (Pembakaran). Api Kecil ini dikondisikan selalu Hidup pada Mesin tersebut, bentuknya seperti Api Lilin, yang memakai Sumber Tenaga Gas yang ada. (Catatan: Gas yang dipakai Sama dengan Gas yang biasa digunakan untuk Kompor Gas di dapur)

2.  Setelah Kran Air Panas - Dingin dibuka, maka Air Panas Keluar pada kran tersebut (jika telah diaktifkan sebelumnya), dan secara otomatis Air Dingin Masuk kedalam Mesin Pemanas tersebut.

3.  Air Dingin Masuk ini mengalir naik ke atas (masuk kedalam Mesin), dan proses ini terdeteksi oleh Sensor Air (Flow Sensor) yang terhubung dengan Panel Sirkuit.

4.  Panel Sirkuit ini adalah Panel Rangkaian Alat Listrik yang dirancang khusus untuk Otomatisasi Penyetelan Sistem Pembakaran pada Area Pemanasan (Pembakaran), Api Otomatis Hidup Lebih Besar pada saat ada Air Dingin Masuk, dan Kembali Seperti Semula (seperti Api Lilin) pada saat Air Dingin tidak Masuk lagi ke Mesin tersebut.

5.  Setelah Api Hidup Lebih Besar pada Sistem Pembakaran, Api ini akan memanaskan Rangkaian Pipa Air Panas yang ada pada bagian Pengubah Panas (Heat Excanger), sehingga Air Dingin yang berada dalam Rangkain Pipa Air Panas tersebut menjadi Panas juga.

6.  Air Panas inilah yang keluar dari Mesin Water Heater Gas tersebut, sehingga bisa kita Alirkan ke dalam Rumah, bisa untuk Bathtub, Wastafel, Shower, dsb.

7.  Demikian Cara Kerja Mesin Pemanas ini, sehingga Air yang masuk kedalam Mesin ini bisa panas dan keluar melalui Saluran Pipa Air Keluar yang telah disediakan.

8.  Masuknya Air Dingin pada Mesin Pemanas ini otomatis akan terhenti apabila Kran Air Panas - Dingin ditutup, sehingga Pembakaran dengan Api Besar otomatis juga terhenti dan Api mengecil kembali seperti Api Lilin, demikian seterusnya.

Tips Memasang Water Heater Gas:

1.  Sebaiknya dipasang diluar Kamar Mandi agar lebih aman, dan Gas CO2 (Karbondioksida) hasil Pembakaran langsung keluar (tidak berada didalam Kamar Mandi)

2.  Pasang Gas Detektor didekat pemanas air tersebut, jika terjadi kebocoran gas dapat segera diketahui.

3.  Lakukan Pemasangan dan Penyambungan Pipa dengan Benar-benar Rapi, Kuat, Kedap Udara.

4.  Lakukan Uji Coba Tekanan terlebih dahulu terhadap Pipa Instalasi Gas-nya sebelum melakukan Pemasangan Water Heater ini, untuk meyakinkan tidak adanya Kebocoran Gas sedikitpun.

Demikian Informasi hari ini, semoga berguna.

Advertisement




Komentar :
Kali ini saya nulis tentang Artikel yang sederhana dulu ya.., yaitu Cara Menghitung Volume Beton Sloof Rumah. Contoh Gambarnya seperti terlihat dibawah ini.

Tips untuk Menghitung Volume Sloof Rumah, silahkan ikuti Tahapan dibawah :

1.  Catat terlebih dahulu masing-masing Ukuran Penampang Sloof yang ada, pada Gambar dibawah ada 2 Jenis Sloof, yaitu Sloof 1 (S1) dan Sloof 2 (S2). Ukuran Penampang AS1 = 20cm x 35cm, dan AS2 = 20cm x 20cm.

(Gambar Denah Sloof Rumah)

2.  Hitung Panjang Total masing-masing Sloof, yaitu Panjang Total S1 (LS1) dan Panjang Total S2 (LS2).
Untuk memudahkan Teknik Perhitungan, saya bagi atas 2 Kelompok, yaitu "Sloof Horizontal dan Vertikal", Hasilnya seperti dibawah ini :

LS1  =  (155+345+300+300+300+200+300) + (276+274+100+274+250+300+250+300+100) cm
       =  4024 cm  = 40,24 m

LS2  =  (155+300) + (175+175) cm
       =  805 cm  = 8,05 m

3.  Lakukan Perhitungan Volume (V), seperti dibawah ini :

Vtotal =  (AS1 x LS1) + (AS2 x LS2)
        =  (0,2 x 0,35 x 40,24) + (0,2 x 0,2 x 8,05) m3   <-------- (semua satuan disamakan dalam Meter)
        =  2,8168 + 0,322 m3
        =  3,1388 m3 

4.  Selesai, Volume Beton Sloof telah diketahui. Semoga artikel ini berguna.

Advertisement




Komentar :