Dalam postingan beberapa hari yang lalu, saya telah menulis tentang Cara Menghitung Luas Atap Rumah bentuk Perisai. Selanjutnya pada kesempatan ini saya mencoba paparkan Cara Hitung Panjang Jurai dan Bubungan Atap tersebut, agar lebih lengkap catatan tentang hal ini.


Perhitungan ini nantinya dibutuhkan untuk mengetahui Kebutuhan Jumlah Nok Rabung yang harus dibeli dalam Pekerjaan Pembuatan Atap Rumah bentuk Perisai atau Limas ini. 

Contoh Perhitungan :

Dari Gambar Rencana Atap dibawah ini, silahkan Hitung Panjang Jurai dan Bubungan-nya.
Direncanakan Sudut Kemiringan β = 30°.

Gambar 1. Denah Atap                                                       Gambar 2. Tampak Depan Atap

Perhitungan :

1.  Berdasarkan Gambar Atap diatas, mari kita buat terlebih dahulu Gambar Perspektifnya untuk memudahkan Perhitungan (seperti Gambar dibawah ini).

Keterangan :

      1.  B, C, D, E adalah Jurai, panjang semua Item adalah Sama, karena bentuknya yang Simetris.
      2.  F adalah Bubungan, panjangnya bisa diketahui dari Gambar, yaitu = 397 cm = 3,97 m.
      3.  A adalah Garis Bantu (sebagai data bantu dalam Perhitungan Panjang B, C, D, dan E).
Gambar 3. Gambar Perspektif Atap

2.  Hitung Panjang A (Lihat Gambar 3)
      A  = 428cm : cos β 
           = 428cm : cos 30°
          
=
428cm : 0,866
           = 494,226 cm = 4,942 m

3.  Hitung Panjang Jurai B = C = D = E

Setelah Panjang A diketahui (= 4,942 m), coba Perhatikan Segitiga yang terbentuk dari Garis A, B, dan G. Segitiga tersebut adalah sebuah segitiga Siku-siku (seperti Gambar dibawah ini).


Panjang G bisa kita ketahui dengan melihat Gambar 3, yaitu 353cm atau 3,53 m.
Selanjutnya Panjang B bisa kita Hitung dengan menggunakan Rumus Phytagoras, yaitu : B2 = A2 + G2.
           B2  =  3,532 + 4,942262 (satuan diubah dalam meter)
           B2  =  12,4609 + 24,4259
           B2  =  36,8868
           B    =  6,0734 m = C = D = E

4.  Hitung Panjang Total Jurai = B + C + D + E = 6,0734 x 4 = 24,2936 m.

5.  Hitung Panjang Total Jurai dan Bubungan =
24,2936 m + 3,97 m = 28,2636 m.

6.  Selesai... Semoga bermanfaat..

Catatan:
a.  Perhitungan diatas adalah Perhitungan Panjang Jurai dan Bubungan Atap Bersih (Net) berdasarkan Gambar Kerja yang ada.
b.  Jika anda ingin menggunakannya sebagai Pedoman untuk Pembelian Nok (Rabung), terlebih dahulu anda harus mengetahui Panjang Efektif Nok (Rabung) yang akan anda Beli. Juga harus memperhitungkan Sisa Potongan Nok (Rabung) pada setiap Segmen Pemasangan.



Advertisement




Komentar :
  1. Acuan (bekisting) adalah suatu sarana pembantu struktur beton untuk pencetak beton sesuai dengan ukuran, bentuk, rupa ataupun posisi yang direncanakan.
  2. Agregat adalah material granular, misalnya pasir, kerikil, batu pecah dan kerak tungku besi, yang dipakai bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton semen hidraulik atau adukan.
  3. Agregat Ringan adalah agregat yang dalam keadaan kering dan gembur mempunyai berat 1100 kg/m3 atau kurang.
  4. Agregat Halus adalah pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami bantuan atau pasir yang dihasilkan oleh industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir terbesar 5,0 mm.
  5. Agregat Kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi ‘alami’ dari bantuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir antara 5-40 mm.
  6. Adukan adalah campuran antara agregat halus dan semen portland atau sembarang semen hidrolik yang lain dan air.
  7. Angker adalah media untuk mengikat dalam suatu sambungan beton pracetak.
  8. Bahan Tambahan adalah suatu bahan berupa bubukan atau cairan, yang dibubuhkan kedalam campuran beton selama pengadukan dalam jumlah tertentu untuk merubah beberapa sifatnya.
  9. Beton adalah campuran antara semen portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk masa padat.
  10. Beton Bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum, yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja.
  11. Beton-Normal adalah beton yang mempunyai berat isi 2200- 2500 kg/m3 menggunakan agregat alam yang dipecah atau tanpa dipecah yang tidak menggunakan bahan tambahan.
  12. Beton Praktekan adalah beton bertulang yang telah diberikan tegangan dalamuntuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat beban kerja.
  13. Beton Pracetak adalah elemen atau komponen beton tanpa atau dengan tulangan yang dicetak terlebih dahulu sebelum dirakit menjadi bangunan.
  14. Beton Ringan Struktur adalah beton yang mengandung agregat ringan yang mempunyaiberat isi tidak lebih dari 1900 kg/m3.
  15. Beton Polos adalah beton tanpa tulangan atau mempunyai tulangan tetapi kurang dari ketentuan minimum.
  16. Berat Jenis adalah perbandingan antara berat dan volume suatu material (misalnya: Beton).
  17. CGS adalah standar internasional terkecil dalam ukuran metrik (dalam sentimeter).
  18. Dowel adalah material penghubung antara 2 (dua) komponen struktur.
  19. Deking adalah beton tahu untuk pedoman ketebalan beton.
  20. Faktor Air Semen (Fas) adalah perbandingan antara jumlah semen dan air pada beton.
  21. Konstruksi Batu adalah pasangan batu yang berfungsi sebagai elemen konstruksi dengan kekuatan tekan > 100 kg/cm2.
  22. Konstruksi Beton adalah beton yang berfungsi sebagai elemen konstruksi
  23. Kabel adalah susunan material yang digunakan dalam media penarikan beton pratekan, biasanya disebut ‘tendon’.
  24. Mks adalah standar internasional terbesar dalam ukuran metrik (meter).
  25. Perancah (Scaffolding) adalah suatu struktur (kerangka) sebagai (1) sarana kerja bagi pekerja untuk melakukan tugas pada ketinggian tertentu dan (2) penyangga acuan beton yang berfungsi mencegah terjadinya perubahan posisi acuan dari posisi yang telah ditentukan.
  26. Sengkang adalah tulangan yang digunakan untuk menahan tegangan geser dan torsi dalam suatu komponen struktur, terbuat dari batang tulangan, kawat baja atau jaring kawat baja las polos atau deform.
  27. Segregasi adalah pengelompokan agregat yang homogen pada adukan beton, dimana agragat kasar terpisah dengan agregat halus.
  28. Tulangan adalah batang baja berbentuk polos atau defon atau pipa yang berfungsi untuk menahan gaya tarik pada komponen struktur, tidak termasuk tendon prategang, kecuali bila secara khusus diikut sertakan.
  29. Tulangan Polos adalah batang baja yang permuakaan sisi luarnya rata tidak bersirip atau berukir.
  30. Tulangan Deform adalah batangan baja yang permukaan sisi luarnya tidak rata, tetapi bersirip, atau berukir.
  31. Accelerator adalah bahan tambah untuk mempercepat pengikatan beton.
  32. Admixture adalah bahan tambah untuk campuran beton.
  33. Additive adalah bahan tambah untuk campuran beton.
  34. Bouwplank adalah papan duga dalam istilah Belanda, sebagai pedoman awal pekerjaan konstruksi.
  35. Barsteel adalah rangkaian tulangan.
  36. Box adalah korak penyedia daya atau arus listrik.
  37. Bucket Tower Crane adalah kotak pembawa material dari mesin angkat.
  38. Bleeding adalah beton yang kelebihan air, sehingga air semen naik ke permukaan.
  39. Bendraat adalah kawat pengikat tulangan dalam istilah Belanda.
  40. Batching Plant adalah lokasi / tempat pengadukan pembuatan beton ready-mix.
  41. Conveyor adalah ban berjalan untuk membawa material.
  42. Cofferdam adalah menahan / membendung adukan beton sehingga tidak tercampur lingkungan (tanah, sungai dan sebagainya).
  43. Cast in situ adalah pelaksanaan pracetak beton di lapangan.
  44. Doka adalah perusahaan pembuat acuan dan perancah.
  45. Dump Truck adalah truk yang memiliki tenaga hidrolik untuk menaikkan bak muatannya.
  46. Forklift adalah mesin / alat angkat, dengan posisi beban muatan didepan mesin.
  47. Hoist adalah mesin / alat angkat.
  48. Hammer Test adalah uji palu beton pada lapisan yang telah mengeras. 
  49. In Situ adalah lokasi / lapangan.
  50. Jacking adalah mesin / alat penarik kabel pratekan.
  51. Lay-Out adalah penggunaan tata ruang di lapangan.
  52. Mold adalah acuan untuk pelaksanaan pengecoran beton.
  53. Mix Design adalah disain campuran beton berdasarkan berat atau volume.
  54. Maccaferri adalah perusahaan pembuat acuan dan perancah.
  55. Power adalah energi listrik di lapangan yang berasal dari PLN atau generating set.
  56. Portland Cement adalah semen abu-abu.
  57. Post-Tension adalah penarikan pada beton pratekan setelah beton mengeras.
  58. Pre-Tension adalah penarikan pada beton pratekan sebelum dilaksanakan pengecoran.
  59. Peri adalah perusahaan pembuat acuan dan perancah.
  60. Retarder adalah bahan tambah untuk memperlambat pengikatan beton.
  61. Rapid Klam adalah alat penjepit pada acuan untuk struktur kolom dan balok.
  62. Ready Mix Concrete adalah beton yang siap pakai.
  63. Speady adalah uji pada semen abu-abu untuk mengetahui kemampuan ikatan semen.
  64. Slump adalah alat uji konsistensi/kekentalan beton.
  65. Steel Proff adalah tiang baja yang berbentuk silinder dapat diatur ketinggiannya.
  66. Shear Connector adalah bahan / material penghubung antara 2 (dua) material yang berbeda karakteristiknya (komposit).
  67. Strands adalah kumpulan kawat-kawat berdiameter kecil dan tipis untuk membentuk kabel.
  68. Setting Time adalah pengaturan atau penentuan waktu ikat pada beton.
  69. Sand Blasting adalah alat / mesin pembersih permukaan pada beton sebelum dilaksanakan perbaikan beton atau penutupan kembali.
  70. Shop Drawing adalah gambar pelaksanaan / kerja.
  71. Site-Plan adalah rencana lokasi / areal pelaksanaan.
  72. Stressing adalah penarikan kabel atau tendon pratekan.
  73. Truck Mixer adalah truk yang mampu mengaduk beton.
  74. Timing adalah pemilihan waktu untuk merencanakan ikatan beton.
  75. Troley adalah alat / mesin pembawa adukan beton.
  76. Uplift adalah tekanan / gaya angkat.
  77. Workshop adalah lokasi untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan fabrikasi.
  78. Waterpas adalah alat / mesin untuk mengukur kedataran suatu pasangan konstruksi.
  79. Wires adalah kawat-kawat berdiameter kecil dan tipis untuk membentuk kabel.
  80. Workability adalah kemudahan di dalam melaksanakan suatu pekerjaan konstruksi.


Advertisement




Komentar :

Time Schedule (skedul) Proyek adalah Rencana Waktu yang telah ditetapkan dalam Pelaksanaan Pekerjaan Proyek, meliputi semua Item Pekerjaan yang ada.

Time Schedule ini menerangkan kapan Waktu Dimulai pekerjaan, Lama Waktu pekerjaan (durasi), dan Waktu Selesai pekerjaan. Baik untuk pekerjaan pembuatan Rumah, Gedung, Kantor, Jalan Raya, Jembatan, dan semua Konstruksi Bangunan Sipil lainnya.

Time Schedule biasanya dibuat dalam bentuk Bar Chart dan Network Planning. Saat ini bentuk Bar Chart sangat sering digunakan dalam Penyajian Data Time Schedule. Karena bentuk ini memudahkan kita dalam kegiatan selanjutnya, yaitu membuat Kurva S.

Guna dan Tujuan pembuatan Time Schedule dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi :

1.  Untuk mengetahui Kapan dimulainya suatu Item Pekerjaan, lama pekerjaan, dan rencana selesainya.

2.  Sebagai Pedoman untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (Man Power), sesuai dengan Waktunya.

3.  Sebagai Pedoman untuk mempersiapkan Material Pekerjaan, sesuai dengan Waktunya.

4.  Sebagai Pedoman untuk penyediaan Alat-alat Kerja, sesuai dengan Waktunya.

5.  Sebagai Sumber Data untuk memantau Kecepatan atau Keterlambatan Progress dari Item Pekerjaan, sehingga bisa dilakukan Koreksi di Lapangan untuk Mempercepat Pekerjaan tersebut.

6.  dll.. (mungkin anda bisa menambahkannya pada Kolom Komentar dibawah...)

Time Schedule bisa dibuat dalam bentuk Harian, Mingguan, dan Bulanan. Hal ini tergantung pada lamanya Waktu Rencana Total Pelaksanaan sebuah pekerjaan proyek.

Misalnya untuk Pekerjaan yang Durasi-nya 2 Minggu sampai 1 bulan, akan cocok jika dibuat Time Schedule Harian. Untuk Pekerjaan yang Durasi-nya 2 bulan sampai 1 tahun, bisa dibuat Time Schedule Mingguan. Dan untuk Pekerjaan yang Durasi-nya Lebih Lama, bisa dibuat Time Schedule Bulanan. Ini bisa dibuat bervariasi, tergantung dari Kebutuhan Kelengkapan Data yang kita inginkan.



Advertisement




Komentar :

Bentuk atap Perisai merupakan pengembangan dari bentuk atap Pelana. Atap Pelana memiliki 2 Bidang Miring, kemiringannya bisa dibuat ke Samping Kanan dan Samping Kiri rumah, atau bisa juga dibuat ke Depan dan ke Belakang rumah. (Lihat juga disini Cara Menghitung Luas Atap Rumah bentuk Pelana).

Sedangkan Atap Perisai memiliki ke 4 Bidang Miring tersebut, yaitu: Miring ke Samping Kanan, ke Samping Kiri, ke Depan, dan ke Belakang Rumah. Ada sebagian orang mengatakan bentuk ini adalah Bentuk Atap Rabung Lima (karena Jenis Atap ini memiliki 5 Baris Rabung / Nok yang terpasang diatasnya). Ada juga yang mengatakan Atap bentuk Limas. Seperti terlihat pada Gambar diatas.

Contoh Perhitungan :

Dari Gambar Rencana Atap dibawah ini, silahkan Hitung Luas Total Atapnya.
Direncanakan Sudut Kemiringan α = 35°, dan Sudut Kemiringan β = 30°(sengaja saya bedakan Sudut kemiringannya untuk sekedar Pembelajaran).
Gambar 1. Denah Atap Pelana sebuah Rumah

Perhitungan :

1.  Pada Gambar Atap diatas, dapat dilihat bahwa ada 2 Bidang Atap yang Bentuk dan Ukurannya Identik (sama), yaitu ada 2 buah Bidang Segitiga yang Identik, dan 2 buah Bidang Trapesium yang Identik.

Jadi untuk mengetahui Luas Total Atap tersebut, kita hanya memerlukan 2 kali Perhitungan saja, yaitu Menghitung Luas Atap bentuk Segitiga (lalu dikali 2 unit) dan Menghitung Luas Atap bentuk Trapesium (lalu dikali 2 unit).

2.  Hitung Luas Atap bentuk Segitiga (Luas Segitiga = 1/2 x Alas x Tinggi)

a.  Lihat Gambar 3, Hitung terlebih dahulu Panjang Bidang Miring Atap (P1), berdasarkan sudut α
      P1 = 353cm : cos α 
           = 353cm : cos 35°
          
=
353cm : 0,819
           = 431,013 cm = 4,310 m (ini menjadi nilai Tinggi Segitga)

b.  Lihat Gambar 2, maka kita dapat Mengetahui nilai Alas Segitiga, yaitu = 856 cm = 8,56 m
     
c.  Luas Segitiga = 1/2 x 8,56m x 4,31m = 18,4468 m2

d.  Luas Segitiga 2 Unit = 18,4468 m2 x 2 unit = 36,8936 m2


3.  Hitung Luas Atap bentuk Trapesium, Luas Trapesium = [(a+b)/2] x Tinggi
    
a.  Lihat Gambar 2, Hitung terlebih dahulu Panjang Bidang Miring Atap (P2), berdasarkan sudut β
      P2 = 428cm : cos β 
           = 428cm : cos 30°
          
=
428cm : 0,866
           = 494,226 cm = 4,942 m (ini menjadi nilai Tinggi Trapesium)

b.  Lihat Gambar 3, maka kita dapat Mengetahui nilai a = 3,97m dan b = 11,03m

c.  Luas Trapesium = [(3,97m + 11,03m)/2] x 4,942m = 37,065 m2

d.  Luas Trapesium 2 Unit = 37,065 m2 x 2 unit = 74,13 m2

4.  Hitung Luas Total Atap Rumah = 36,8936 m2 + 74,13 m2 = 111,0236 m2  

5.  Selesai...
Semoga bermanfaat..

Catatan:
a.  Perhitungan diatas adalah Perhitungan Luas Atap Bersih (Net) berdasarkan Gambar Kerja yang ada.
b.  Jika anda ingin menggunakannya sebagai Pedoman untuk Pembelian Material Atap, terlebih dahulu anda harus menambahkan beberapa Persen, Lembar, atau Keping, sesuai dengan Material yang hendak anda gunakan. Penambahan Jumlah ini akan Cukup Signifikan, karena pada pemasangan Atap Penutupnya nanti akan dilakukan Pemotongan Lembaran/Kepingan Atap secara Diagonal yang akan Cukup Banyak menghasilkan barang Sisa yang tidak terpakai.

c.  Tips dan Cara Perhitungan dalam menambahkan Jumlah Lembaran/Kepingan Atap tersebut akan saya posting kemudian.


Advertisement




Komentar :


Tangga Putar banyak kita jumpai pada Bangunan Kantor dan Rumah Mewah. Tangga jenis ini memberikan kesan yang Eksklusif dan Menarik, sehingga banyak orang tertarik untuk membuatnya pada Rumah atau Bangunan Kantor, walaupun Anggaran Biaya Pembuatan dan Finishingnya akan relatif Lebih Mahal dibandingkan Tanggal Lurus atau Tangga berbentuk L.

Pada kesempatan ini saya akan memberi Tips dan Contoh Perhitungan dalam Menghitung Volume Beton pada sebuah Tangga Putar, seperti Gambar diatas.

Contoh Perhitungan :

Pada sebuah Rumah 2 Lantai, diketahui Tinggi Lantai 2 adalah = 4,5 m (dari Lantai 1).
Akan dibuat Tangga Putar berbentuk Setengah Lingkaran, seperti Gambar Dibawah (Gambar 1).
Jumlah Anak Tangga direncanakan sebanyak = 25 Anak Tangga.
Tebal Plat Lantai Beton Tangga = 12 cm.
Anak Tangga Terakhir (anak tangga ke 25) direncanakan Duduk diatas Balok Gantung (Gambar 2).
Berapakah Volume Beton Tangga Putar tersebut...?

(Gambar 1)
(Gambar 2. Potongan Memanjang As Tangga)
Perhitungan :

1.  Tinggi 1 buah Anak Tangga (Optrade) adalah = 4,5m : 25 anak tangga = 18 cm.

2.  Karena Anak Tangga ke 25 direncanakan Duduk diatas Balok Gantung (dicover oleh Balok Gantung), maka Perhitungan Volume Beton Tangga (Anak Tangga dan Plat Tangga) hanya mulai dari Anak Tangga 1 sampai ke 24 (hanya 24 Anak Tangga).

3.
  Lebar Pijakan Anak Tangga (Aantrade) pada Tangga Putar diatas ada 2 macam, yaitu Bidang Terlebar (46,62 cm), dan Bidang Terkecil (27 cm). Maka dalam Menghitung Volume Betonnya, kita dapat menggunakan Lebar As-nya, yaitu = (46,62 cm + 27 cm) : 2 = 36,81 cm, (seperti terlihat pada Gambar 2).

4.  Hitung Volume Beton Anak Tangga

     Volume 1 Anak Tangga = ((0,3681m x 0,18m) : 2) x 1,5m = 0,04969 m3 <--- (Satuan diubah dalam meter)

     Dari gambar diatas diketahui ada 24 anak tangga, maka:
     Volume 24 anak tangga = 24 x 0,04969 m3 = 1,19256 m3

5.  Volume Plat Beton Lantai Tangga

a.  Hitung Panjang 1 buah Sisi Diagonal 1 Anak Tangga, seperti Gambar dibawah ini, dengan Rumus Pythagoras, yaitu : c2 = a2 + b2
            c2 = 36,812 + 18,002
            c2 = 1354,9761 + 324

            c2 = 1678,9761

            c   = 40,98 cm = 0,4098 m

b.  Panjang 24 buah Sisi Diagonal 24 Anak Tangga (Panjang Total Plat Beton Lantai Tangga)
     Ltot =  0,4098m x 24 anak tangga = 9,8352 m.

c.  Volume Plat =  1,5m x 0,12m x 9,8352m = 1,770336 m3


7.  Volume Total (Anak Tangga dan Plat Lantai Tangga)


     Volume Total =  1,19256 m3 + 1,770336 = 2,962896 m3

8.  Selesai...



Advertisement




Komentar :


1.  Sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan Air atau diolesi Pelumas di sisi dalamnya (pelumas yang tidak meninggalkan bekas).

2.  Pengecoran Beton harus dibuat sedemikian rupa sehingga penempatan dan penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran.

3.  Adukan beton dicor lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu, berurutan mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan dibawahnya. Adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan Alat Penggetar (Vibrator) supaya padat. Lihat disini Caranya...

4.  Tidak diperkenankan melakukan Pengecoran bila persiapan Besi Tulangan, Bagian yang Ditanam, Cetakan (Bekisting), dan Perancah belum diperiksa dan disetujui Konsultan Teknik.

5.  Dalam pengecoran Beton Bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi Pemisahan Butiran. Apabila bentuk Tulangan dan Dasar Cetakan (bekisting) cukup rapat, terlebih dahulu diberi Batu Tahu beton setebal 3 cm.

6.  Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang ditentukan oleh Konsultan Teknik, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua pengecoran harus selesai dalam waktu 60 menit setelah keluar dari mesin pengaduk, kecuali jika ditentukan lain oleh Konsultan Teknik.

7.  Beton jangan dicor di dalam atau pada aliran kecuali telah disetujui sebelumnya oleh Konsultan Teknik. Air yang mengumpul selama pengecoran harus segera dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicor selama lebih dari 30 menit, kecuali jika dipersiapkan Konstruksi Sambungan yang akan ditentukan kemudian.

8.  Jika pelaksanaan Pengecoran dihentikan, Lokasi Sambungan harus ditempatkan pada posisi yang benar secara vertikal maupun horizontal, dengan permukaan dibuat Kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan dan membentuk Ikatan Sambungan beton berikutnya.

9.  Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai Posisi Sambungan Rencana yang ditentukan pada Gambar, atau menurut petunjuk Konsultan Teknik.

10.  Beton tidak boleh diangkut dengan Peluncur atau Kereta Sorong dan dijatuhkan dari ketinggian lebih tinggi dari 1,5 meter, kecuali jika diijinkan oleh Konsultan Teknik.


Advertisement




Komentar :


Beton yang Padat (tidak berongga) merupakan Tujuan dari sebuah Pekerjaan Pengecoran. Karena semakin Berongga Beton tersebut, maka semakin kecil Mutunya.

Untuk menghasilkan Beton yang padat, lakukan cara dibawah ini:

1.  Beton harus dipadatkan dengan Alat Penggetar Mekanis (Vibrator). Penggetaran bisa dari Dalam Adukan atau dari Luar Adukan (pada Acuan / bekisting), yang telah disetujui Owner (Pemilik). Jika diperlukan penggetaran harus disertai penusukan secara Manual dengan Alat yang cocok untuk menjamin kepadatan. Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan.

2.  Pemadatan harus dilakukan secara Teliti dan Hati-hati, untuk memastikan semua Sudut, dan di sekitar Besi Tulangan benar-benar terisi, tanpa menggeser Tulangan tersebut. Sehingga setiap rongga dan gelembung udara terisi.

3.  Lama penggetaran harus dibatasi, agar tidak terjadi Segregasi pada hasil pemadatan yang diperlukan. Lihat tentang Segregasi disini...

4.  Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg. Boleh saja diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata.

5.  Posisi Vibrator untuk memadatkan beton di dalam acuan harus kira-kira Vertikal, hingga dapat melakukan penetrasi sampai kedalaman 10 cm dari Dasar Beton yang baru dicor. Sehingga menghasilkan kepadatan yang menyeluruh pada bagian tersebut.

6.  Apabila alat penggetar tersebut akan digunakan pada posisi yang lain maka, alat tersebut harus ditarik secara perlahan dan dimasukkan kembali pada posisi lain dengan jarak tidak lebih dari 45 cm. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 15 detik atau permukaan beton sudah mengkilap.

7.  Apabila kecepatan pengecoran 20 m3/jam, maka harus digunakan alat penggetar yang mempunyai dimensi lebih besar dari 7,5 cm.

8.  Dalam segala hal, pemadatan beton harus sudah selesai sebelum terjadi waktu ikat awal (initial setting).


Advertisement




Komentar :


Setelah Pengecoran, untuk mendapatkan Mutu yang baik, Beton harus dilindungi dari 2 hal, yaitu:
          1.  Gangguan Mekanis.
          2.  Pengeringan Dini, akibat Temperatur (Suhu) yang terlalu panas.

1.  Menjaga Kerusakan Beton dari Gangguan Mekanis

a.  Acuan Kayu (Bekisting) tidak boleh dibongkar terlalu cepat. Pastikan terlebih dahulu Umur Beton cukup dan tidak rusak apabila Bekisting tersebut dibongkar.

b.  Bekisting (Acuan Kayu) diupayakan dalam kondisi basah sampai Acuan tersebut dibongkar. Ini untuk mencegah terbukanya sambungan-sambungan Kayu tersebut dan pengeringan beton.

c.  Pelaksanaan Pembongkaran Bekisting harus hati-hati.

2.  Perawatan untuk Mengatasi Pengeringan dini.

a.  Perawatan dengan Air 

Pekerjaan Perawatan harus segera dimulai setelah Beton mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah). Dengan cara menyelimutinya dengan Bahan Lembaran yang menyerap air yang harus dibuat Jenuh Air terlebih dahulu. Proses ini dilakukan dalam waktu paling sedikit 7 hari. Semua Bahan Perawatan atau Lembaran Bahan Penyerap Air harus menempel pada permukaan beton yang dirawat.

b.  Perawatan dengan Cara Lain

1.  Menggunakan Membran Cair
Perawatan membran dilakukan ketika seluruh permukaan beton segera sesudah air meningggalkan permukaan (kering), terlebih dahulu setelah beton dibuka cetakannya dan finishing dilakukan. Jika seandainya hujan turun maka harus dibuat pelindung sebelum lapisan membran cukup kering, atau seandainya lapisan membran rusak maka harus dilakukan pelapisan ulang lagi.

2.  Menggunakan Selimut Kedap Air
Metode ini dilakukan dengan menyelimuti permukaan beton dengan bahan lembaran kedap air yang bertujuan mencegah kehilangan kelembaban ari permukaan beton. Beton harus basah pada saat lembaran kedap air ini dipasang. Lembaran bahan ini aman untuk tidak terbang/pindah tertiup angin dan apabila ada kerusakan/sobek harus segera diperbaiki selama periode perawatan berlangsung.

3.  Form-In-Place
Perawatan yang dilakukan dengan tetap mempertahankan cetakan sebagai dinding penahan pada tempatnya selama waktu yang diperlukan beton dalam masa perawatan.

c.  Perawatan dengan Uap

Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.

Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti ketentuan di bawah ini:
     1.  Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi tekanan luar.
     2.  Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi 38C selama 2 jam
          sesudah pengecoran selesai. Kemudian temperatur dinaikkan berangsur-angsur sehingga
          mencapai 65C dengan kenaikan temperatur maksimum 14C per-jam secara bertahap.
     3.  Perbedaan temperatur pada dua tempat di dalam ruangan uap tidak boleh melebihi 5,5C.
     4.  Penurunan temperatur selama pendinginan dilaksanakan secara bertahap dan tidak boleh lebih
          dari 11C per-jam.
     5.  Perbedaan temperatur beton pada saat dikeluarkan dari ruang penguapan tidak boleh lebih dari
          11C dibanding udara luar.
     6.  Selama perawatan dengan uap, ruangan harus selalu jenuh dengan uap air.
     7.  Semua bagian Beton yang mendapat perawatan dengan uap harus dibasahi selama 4 hari
          sesudah selesai perawatan uap tersebut.
 


Advertisement




Komentar :


Pondasi Setempat (atau biasa disebut juga Pondasi Foot Plat, Pondasi Telapak, atau Pondasi Tapak) pada umumnya dipakai untuk Rumah 1 Lantai, 2 Lantai, 3 Lantai, dan bahkan bisa juga 4 Lantai, jika Dimensi Tapak Pondasi diperbesar dan Tanah Dasarnya cukup keras.

Pada tulisan kali ini saya hanya membahas Cara Perhitungan Jumlah Besinya saja, dengan Asumsi Gambar Rencana dan Diameter Besinya telah ditentukan.

Contoh Perhitungan:

Sebuah Rumah direncanakan memakai Pondasi Setempat sebanyak 15 unit. Detail Gambar Pondasi dapat dilihat pada Gambar Rencana (Bestek) dibawah ini.
Jumlah Besi untuk Pondasi Setempat ini dapat kita hitung dengan cara sebagai berikut:


Perhitungannya:

1.  Data Gambar: Ukuran Pondasi = 120, dan Besi Pondasi Setempat adalah Ø12-15, ini artinya:
          a.  Ukuran Tapak Pondasi: Panjang = 120 cm dan Lebar = 120 cm.
          b.  Besi yang dipakai adalah berdiameter 12 mm
          c.  Jarak pemasangan Besi = 15 cm.

2.  Berdasarkan Lebar Tapak Pondasi = 120cm dan Jarak besi = 15cm ini, bisa dibuat Rencana Pemasangan dan Pemotongan Besi seperti Gambar dibawah ini.



3.  Dari Gambar diatas didapat kesimpulan:
     a.  Dalam 1 Unit Pondasi Setempat diperlukan: 16 potong (ptg) besi Ø12.
     b.  Panjang 1 potong Besi adalah = 9cm + 105cm + 9cm = 123 cm = 1,23 m.

4.   Perhitungan Besi yang harus disediakan (dibeli):

      a.  Jumlah Pondasi Setempat = 15 unit, 1 unit Pondasi butuh 16 ptg besi panjang 1,23m.
           Jadi untuk 15 unit Pondasi dibutuhkan = (15 x 16) ptg = 240 ptg (besi panjang 1,23).
      
      b.  Jika dibeli Besi Ø12 panjang 12 meter (Ø12x12m), maka: 
           Dari 1 batang (btg) Besi, bisa dibuat = 9 ptg panjang 1,23m dan Sisa 1 ptg panjang 93cm.
           Untuk membuat 240 ptg, diperlukan (240 ptg : 9 ptg) = 26,67 btg 27 btg.
           (Dari 27 btg Besi tersebut, bisa diperoleh = 240 ptg panjang 1,23m, dengan Sisa 26 ptg panjang 
           93cm dan 1 ptg panjang 4,62m).

      c.  Jika dibeli Besi Ø12 panjang 10 meter (Ø12x10m), maka: 
           Dari 1 batang (btg) Besi, bisa dibuat = 8 ptg panjang 1,23m dan Sisa 1 ptg panjang 16cm.
           Untuk membuat 240 ptg, diperlukan (240 ptg : 8 ptg) = 30 btg.
           (Dari 30 btg Besi tersebut, diperoleh = 240 ptg panjang 1,23m dan Sisa 30 ptg panjang 16cm).

5.  Selesai... Semoga tulisan ini bermanfaat...


Advertisement




Komentar :