Time Schedule (skedul) Proyek adalah Rencana Waktu yang telah ditetapkan dalam Pelaksanaan Pekerjaan Proyek, meliputi semua Item Pekerjaan yang ada.

Time Schedule ini menerangkan kapan Waktu Dimulai pekerjaan, Lama Waktu pekerjaan (durasi), dan Waktu Selesai pekerjaan. Baik untuk pekerjaan pembuatan Rumah, Gedung, Kantor, Jalan Raya, Jembatan, dan semua Konstruksi Bangunan Sipil lainnya.

Time Schedule biasanya dibuat dalam bentuk Bar Chart dan Network Planning. Saat ini bentuk Bar Chart sangat sering digunakan dalam Penyajian Data Time Schedule. Karena bentuk ini memudahkan kita dalam kegiatan selanjutnya, yaitu membuat Kurva S.

Guna dan Tujuan pembuatan Time Schedule dalam Pelaksanaan Proyek Konstruksi :

1.  Untuk mengetahui Kapan dimulainya suatu Item Pekerjaan, lama pekerjaan, dan rencana selesainya.

2.  Sebagai Pedoman untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (Man Power), sesuai dengan Waktunya.

3.  Sebagai Pedoman untuk mempersiapkan Material Pekerjaan, sesuai dengan Waktunya.

4.  Sebagai Pedoman untuk penyediaan Alat-alat Kerja, sesuai dengan Waktunya.

5.  Sebagai Sumber Data untuk memantau Kecepatan atau Keterlambatan Progress dari Item Pekerjaan, sehingga bisa dilakukan Koreksi di Lapangan untuk Mempercepat Pekerjaan tersebut.

6.  dll.. (mungkin anda bisa menambahkannya pada Kolom Komentar dibawah...)

Time Schedule bisa dibuat dalam bentuk Harian, Mingguan, dan Bulanan. Hal ini tergantung pada lamanya Waktu Rencana Total Pelaksanaan sebuah pekerjaan proyek.

Misalnya untuk Pekerjaan yang Durasi-nya 2 Minggu sampai 1 bulan, akan cocok jika dibuat Time Schedule Harian. Untuk Pekerjaan yang Durasi-nya 2 bulan sampai 1 tahun, bisa dibuat Time Schedule Mingguan. Dan untuk Pekerjaan yang Durasi-nya Lebih Lama, bisa dibuat Time Schedule Bulanan. Ini bisa dibuat bervariasi, tergantung dari Kebutuhan Kelengkapan Data yang kita inginkan.



Advertisement




Komentar :

Bentuk atap Perisai merupakan pengembangan dari bentuk atap Pelana. Atap Pelana memiliki 2 Bidang Miring, kemiringannya bisa dibuat ke Samping Kanan dan Samping Kiri rumah, atau bisa juga dibuat ke Depan dan ke Belakang rumah. (Lihat juga disini Cara Menghitung Luas Atap Rumah bentuk Pelana).

Sedangkan Atap Perisai memiliki ke 4 Bidang Miring tersebut, yaitu: Miring ke Samping Kanan, ke Samping Kiri, ke Depan, dan ke Belakang Rumah. Ada sebagian orang mengatakan bentuk ini adalah Bentuk Atap Rabung Lima (karena Jenis Atap ini memiliki 5 Baris Rabung / Nok yang terpasang diatasnya). Ada juga yang mengatakan Atap bentuk Limas. Seperti terlihat pada Gambar diatas.

Contoh Perhitungan :

Dari Gambar Rencana Atap dibawah ini, silahkan Hitung Luas Total Atapnya.
Direncanakan Sudut Kemiringan α = 35°, dan Sudut Kemiringan β = 30°(sengaja saya bedakan Sudut kemiringannya untuk sekedar Pembelajaran).
Gambar 1. Denah Atap Pelana sebuah Rumah

Perhitungan :

1.  Pada Gambar Atap diatas, dapat dilihat bahwa ada 2 Bidang Atap yang Bentuk dan Ukurannya Identik (sama), yaitu ada 2 buah Bidang Segitiga yang Identik, dan 2 buah Bidang Trapesium yang Identik.

Jadi untuk mengetahui Luas Total Atap tersebut, kita hanya memerlukan 2 kali Perhitungan saja, yaitu Menghitung Luas Atap bentuk Segitiga (lalu dikali 2 unit) dan Menghitung Luas Atap bentuk Trapesium (lalu dikali 2 unit).

2.  Hitung Luas Atap bentuk Segitiga (Luas Segitiga = 1/2 x Alas x Tinggi)

a.  Lihat Gambar 3, Hitung terlebih dahulu Panjang Bidang Miring Atap (P1), berdasarkan sudut α
      P1 = 353cm : cos α 
           = 353cm : cos 35°
          
=
353cm : 0,819
           = 431,013 cm = 4,310 m (ini menjadi nilai Tinggi Segitga)

b.  Lihat Gambar 2, maka kita dapat Mengetahui nilai Alas Segitiga, yaitu = 856 cm = 8,56 m
     
c.  Luas Segitiga = 1/2 x 8,56m x 4,31m = 18,4468 m2

d.  Luas Segitiga 2 Unit = 18,4468 m2 x 2 unit = 36,8936 m2


3.  Hitung Luas Atap bentuk Trapesium, Luas Trapesium = [(a+b)/2] x Tinggi
    
a.  Lihat Gambar 2, Hitung terlebih dahulu Panjang Bidang Miring Atap (P2), berdasarkan sudut β
      P2 = 428cm : cos β 
           = 428cm : cos 30°
          
=
428cm : 0,866
           = 494,226 cm = 4,942 m (ini menjadi nilai Tinggi Trapesium)

b.  Lihat Gambar 3, maka kita dapat Mengetahui nilai a = 3,97m dan b = 11,03m

c.  Luas Trapesium = [(3,97m + 11,03m)/2] x 4,942m = 37,065 m2

d.  Luas Trapesium 2 Unit = 37,065 m2 x 2 unit = 74,13 m2

4.  Hitung Luas Total Atap Rumah = 36,8936 m2 + 74,13 m2 = 111,0236 m2  

5.  Selesai...
Semoga bermanfaat..

Catatan:
a.  Perhitungan diatas adalah Perhitungan Luas Atap Bersih (Net) berdasarkan Gambar Kerja yang ada.
b.  Jika anda ingin menggunakannya sebagai Pedoman untuk Pembelian Material Atap, terlebih dahulu anda harus menambahkan beberapa Persen, Lembar, atau Keping, sesuai dengan Material yang hendak anda gunakan. Penambahan Jumlah ini akan Cukup Signifikan, karena pada pemasangan Atap Penutupnya nanti akan dilakukan Pemotongan Lembaran/Kepingan Atap secara Diagonal yang akan Cukup Banyak menghasilkan barang Sisa yang tidak terpakai.

c.  Tips dan Cara Perhitungan dalam menambahkan Jumlah Lembaran/Kepingan Atap tersebut akan saya posting kemudian.


Advertisement




Komentar :


Tangga Putar banyak kita jumpai pada Bangunan Kantor dan Rumah Mewah. Tangga jenis ini memberikan kesan yang Eksklusif dan Menarik, sehingga banyak orang tertarik untuk membuatnya pada Rumah atau Bangunan Kantor, walaupun Anggaran Biaya Pembuatan dan Finishingnya akan relatif Lebih Mahal dibandingkan Tanggal Lurus atau Tangga berbentuk L.

Pada kesempatan ini saya akan memberi Tips dan Contoh Perhitungan dalam Menghitung Volume Beton pada sebuah Tangga Putar, seperti Gambar diatas.

Contoh Perhitungan :

Pada sebuah Rumah 2 Lantai, diketahui Tinggi Lantai 2 adalah = 4,5 m (dari Lantai 1).
Akan dibuat Tangga Putar berbentuk Setengah Lingkaran, seperti Gambar Dibawah (Gambar 1).
Jumlah Anak Tangga direncanakan sebanyak = 25 Anak Tangga.
Tebal Plat Lantai Beton Tangga = 12 cm.
Anak Tangga Terakhir (anak tangga ke 25) direncanakan Duduk diatas Balok Gantung (Gambar 2).
Berapakah Volume Beton Tangga Putar tersebut...?

(Gambar 1)
(Gambar 2. Potongan Memanjang As Tangga)
Perhitungan :

1.  Tinggi 1 buah Anak Tangga (Optrade) adalah = 4,5m : 25 anak tangga = 18 cm.

2.  Karena Anak Tangga ke 25 direncanakan Duduk diatas Balok Gantung (dicover oleh Balok Gantung), maka Perhitungan Volume Beton Tangga (Anak Tangga dan Plat Tangga) hanya mulai dari Anak Tangga 1 sampai ke 24 (hanya 24 Anak Tangga).

3.
  Lebar Pijakan Anak Tangga (Aantrade) pada Tangga Putar diatas ada 2 macam, yaitu Bidang Terlebar (46,62 cm), dan Bidang Terkecil (27 cm). Maka dalam Menghitung Volume Betonnya, kita dapat menggunakan Lebar As-nya, yaitu = (46,62 cm + 27 cm) : 2 = 36,81 cm, (seperti terlihat pada Gambar 2).

4.  Hitung Volume Beton Anak Tangga

     Volume 1 Anak Tangga = ((0,3681m x 0,18m) : 2) x 1,5m = 0,04969 m3 <--- (Satuan diubah dalam meter)

     Dari gambar diatas diketahui ada 24 anak tangga, maka:
     Volume 24 anak tangga = 24 x 0,04969 m3 = 1,19256 m3

5.  Volume Plat Beton Lantai Tangga

a.  Hitung Panjang 1 buah Sisi Diagonal 1 Anak Tangga, seperti Gambar dibawah ini, dengan Rumus Pythagoras, yaitu : c2 = a2 + b2
            c2 = 36,812 + 18,002
            c2 = 1354,9761 + 324

            c2 = 1678,9761

            c   = 40,98 cm = 0,4098 m

b.  Panjang 24 buah Sisi Diagonal 24 Anak Tangga (Panjang Total Plat Beton Lantai Tangga)
     Ltot =  0,4098m x 24 anak tangga = 9,8352 m.

c.  Volume Plat =  1,5m x 0,12m x 9,8352m = 1,770336 m3


7.  Volume Total (Anak Tangga dan Plat Lantai Tangga)


     Volume Total =  1,19256 m3 + 1,770336 = 2,962896 m3

8.  Selesai...



Advertisement




Komentar :


1.  Sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan Air atau diolesi Pelumas di sisi dalamnya (pelumas yang tidak meninggalkan bekas).

2.  Pengecoran Beton harus dibuat sedemikian rupa sehingga penempatan dan penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran.

3.  Adukan beton dicor lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu, berurutan mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan dibawahnya. Adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan Alat Penggetar (Vibrator) supaya padat. Lihat disini Caranya...

4.  Tidak diperkenankan melakukan Pengecoran bila persiapan Besi Tulangan, Bagian yang Ditanam, Cetakan (Bekisting), dan Perancah belum diperiksa dan disetujui Konsultan Teknik.

5.  Dalam pengecoran Beton Bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi Pemisahan Butiran. Apabila bentuk Tulangan dan Dasar Cetakan (bekisting) cukup rapat, terlebih dahulu diberi Batu Tahu beton setebal 3 cm.

6.  Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang ditentukan oleh Konsultan Teknik, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua pengecoran harus selesai dalam waktu 60 menit setelah keluar dari mesin pengaduk, kecuali jika ditentukan lain oleh Konsultan Teknik.

7.  Beton jangan dicor di dalam atau pada aliran kecuali telah disetujui sebelumnya oleh Konsultan Teknik. Air yang mengumpul selama pengecoran harus segera dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicor selama lebih dari 30 menit, kecuali jika dipersiapkan Konstruksi Sambungan yang akan ditentukan kemudian.

8.  Jika pelaksanaan Pengecoran dihentikan, Lokasi Sambungan harus ditempatkan pada posisi yang benar secara vertikal maupun horizontal, dengan permukaan dibuat Kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan dan membentuk Ikatan Sambungan beton berikutnya.

9.  Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai Posisi Sambungan Rencana yang ditentukan pada Gambar, atau menurut petunjuk Konsultan Teknik.

10.  Beton tidak boleh diangkut dengan Peluncur atau Kereta Sorong dan dijatuhkan dari ketinggian lebih tinggi dari 1,5 meter, kecuali jika diijinkan oleh Konsultan Teknik.


Advertisement




Komentar :


Beton yang Padat (tidak berongga) merupakan Tujuan dari sebuah Pekerjaan Pengecoran. Karena semakin Berongga Beton tersebut, maka semakin kecil Mutunya.

Untuk menghasilkan Beton yang padat, lakukan cara dibawah ini:

1.  Beton harus dipadatkan dengan Alat Penggetar Mekanis (Vibrator). Penggetaran bisa dari Dalam Adukan atau dari Luar Adukan (pada Acuan / bekisting), yang telah disetujui Owner (Pemilik). Jika diperlukan penggetaran harus disertai penusukan secara Manual dengan Alat yang cocok untuk menjamin kepadatan. Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan.

2.  Pemadatan harus dilakukan secara Teliti dan Hati-hati, untuk memastikan semua Sudut, dan di sekitar Besi Tulangan benar-benar terisi, tanpa menggeser Tulangan tersebut. Sehingga setiap rongga dan gelembung udara terisi.

3.  Lama penggetaran harus dibatasi, agar tidak terjadi Segregasi pada hasil pemadatan yang diperlukan. Lihat tentang Segregasi disini...

4.  Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg. Boleh saja diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata.

5.  Posisi Vibrator untuk memadatkan beton di dalam acuan harus kira-kira Vertikal, hingga dapat melakukan penetrasi sampai kedalaman 10 cm dari Dasar Beton yang baru dicor. Sehingga menghasilkan kepadatan yang menyeluruh pada bagian tersebut.

6.  Apabila alat penggetar tersebut akan digunakan pada posisi yang lain maka, alat tersebut harus ditarik secara perlahan dan dimasukkan kembali pada posisi lain dengan jarak tidak lebih dari 45 cm. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 15 detik atau permukaan beton sudah mengkilap.

7.  Apabila kecepatan pengecoran 20 m3/jam, maka harus digunakan alat penggetar yang mempunyai dimensi lebih besar dari 7,5 cm.

8.  Dalam segala hal, pemadatan beton harus sudah selesai sebelum terjadi waktu ikat awal (initial setting).


Advertisement




Komentar :


Setelah Pengecoran, untuk mendapatkan Mutu yang baik, Beton harus dilindungi dari 2 hal, yaitu:
          1.  Gangguan Mekanis.
          2.  Pengeringan Dini, akibat Temperatur (Suhu) yang terlalu panas.

1.  Menjaga Kerusakan Beton dari Gangguan Mekanis

a.  Acuan Kayu (Bekisting) tidak boleh dibongkar terlalu cepat. Pastikan terlebih dahulu Umur Beton cukup dan tidak rusak apabila Bekisting tersebut dibongkar.

b.  Bekisting (Acuan Kayu) diupayakan dalam kondisi basah sampai Acuan tersebut dibongkar. Ini untuk mencegah terbukanya sambungan-sambungan Kayu tersebut dan pengeringan beton.

c.  Pelaksanaan Pembongkaran Bekisting harus hati-hati.

2.  Perawatan untuk Mengatasi Pengeringan dini.

a.  Perawatan dengan Air 

Pekerjaan Perawatan harus segera dimulai setelah Beton mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah). Dengan cara menyelimutinya dengan Bahan Lembaran yang menyerap air yang harus dibuat Jenuh Air terlebih dahulu. Proses ini dilakukan dalam waktu paling sedikit 7 hari. Semua Bahan Perawatan atau Lembaran Bahan Penyerap Air harus menempel pada permukaan beton yang dirawat.

b.  Perawatan dengan Cara Lain

1.  Menggunakan Membran Cair
Perawatan membran dilakukan ketika seluruh permukaan beton segera sesudah air meningggalkan permukaan (kering), terlebih dahulu setelah beton dibuka cetakannya dan finishing dilakukan. Jika seandainya hujan turun maka harus dibuat pelindung sebelum lapisan membran cukup kering, atau seandainya lapisan membran rusak maka harus dilakukan pelapisan ulang lagi.

2.  Menggunakan Selimut Kedap Air
Metode ini dilakukan dengan menyelimuti permukaan beton dengan bahan lembaran kedap air yang bertujuan mencegah kehilangan kelembaban ari permukaan beton. Beton harus basah pada saat lembaran kedap air ini dipasang. Lembaran bahan ini aman untuk tidak terbang/pindah tertiup angin dan apabila ada kerusakan/sobek harus segera diperbaiki selama periode perawatan berlangsung.

3.  Form-In-Place
Perawatan yang dilakukan dengan tetap mempertahankan cetakan sebagai dinding penahan pada tempatnya selama waktu yang diperlukan beton dalam masa perawatan.

c.  Perawatan dengan Uap

Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.

Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti ketentuan di bawah ini:
     1.  Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi tekanan luar.
     2.  Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi 38C selama 2 jam
          sesudah pengecoran selesai. Kemudian temperatur dinaikkan berangsur-angsur sehingga
          mencapai 65C dengan kenaikan temperatur maksimum 14C per-jam secara bertahap.
     3.  Perbedaan temperatur pada dua tempat di dalam ruangan uap tidak boleh melebihi 5,5C.
     4.  Penurunan temperatur selama pendinginan dilaksanakan secara bertahap dan tidak boleh lebih
          dari 11C per-jam.
     5.  Perbedaan temperatur beton pada saat dikeluarkan dari ruang penguapan tidak boleh lebih dari
          11C dibanding udara luar.
     6.  Selama perawatan dengan uap, ruangan harus selalu jenuh dengan uap air.
     7.  Semua bagian Beton yang mendapat perawatan dengan uap harus dibasahi selama 4 hari
          sesudah selesai perawatan uap tersebut.
 


Advertisement




Komentar :


Pondasi Setempat (atau biasa disebut juga Pondasi Foot Plat, Pondasi Telapak, atau Pondasi Tapak) pada umumnya dipakai untuk Rumah 1 Lantai, 2 Lantai, 3 Lantai, dan bahkan bisa juga 4 Lantai, jika Dimensi Tapak Pondasi diperbesar dan Tanah Dasarnya cukup keras.

Pada tulisan kali ini saya hanya membahas Cara Perhitungan Jumlah Besinya saja, dengan Asumsi Gambar Rencana dan Diameter Besinya telah ditentukan.

Contoh Perhitungan:

Sebuah Rumah direncanakan memakai Pondasi Setempat sebanyak 15 unit. Detail Gambar Pondasi dapat dilihat pada Gambar Rencana (Bestek) dibawah ini.
Jumlah Besi untuk Pondasi Setempat ini dapat kita hitung dengan cara sebagai berikut:


Perhitungannya:

1.  Data Gambar: Ukuran Pondasi = 120, dan Besi Pondasi Setempat adalah Ø12-15, ini artinya:
          a.  Ukuran Tapak Pondasi: Panjang = 120 cm dan Lebar = 120 cm.
          b.  Besi yang dipakai adalah berdiameter 12 mm
          c.  Jarak pemasangan Besi = 15 cm.

2.  Berdasarkan Lebar Tapak Pondasi = 120cm dan Jarak besi = 15cm ini, bisa dibuat Rencana Pemasangan dan Pemotongan Besi seperti Gambar dibawah ini.



3.  Dari Gambar diatas didapat kesimpulan:
     a.  Dalam 1 Unit Pondasi Setempat diperlukan: 16 potong (ptg) besi Ø12.
     b.  Panjang 1 potong Besi adalah = 9cm + 105cm + 9cm = 123 cm = 1,23 m.

4.   Perhitungan Besi yang harus disediakan (dibeli):

      a.  Jumlah Pondasi Setempat = 15 unit, 1 unit Pondasi butuh 16 ptg besi panjang 1,23m.
           Jadi untuk 15 unit Pondasi dibutuhkan = (15 x 16) ptg = 240 ptg (besi panjang 1,23).
      
      b.  Jika dibeli Besi Ø12 panjang 12 meter (Ø12x12m), maka: 
           Dari 1 batang (btg) Besi, bisa dibuat = 9 ptg panjang 1,23m dan Sisa 1 ptg panjang 93cm.
           Untuk membuat 240 ptg, diperlukan (240 ptg : 9 ptg) = 26,67 btg 27 btg.
           (Dari 27 btg Besi tersebut, bisa diperoleh = 240 ptg panjang 1,23m, dengan Sisa 26 ptg panjang 
           93cm dan 1 ptg panjang 4,62m).

      c.  Jika dibeli Besi Ø12 panjang 10 meter (Ø12x10m), maka: 
           Dari 1 batang (btg) Besi, bisa dibuat = 8 ptg panjang 1,23m dan Sisa 1 ptg panjang 16cm.
           Untuk membuat 240 ptg, diperlukan (240 ptg : 8 ptg) = 30 btg.
           (Dari 30 btg Besi tersebut, diperoleh = 240 ptg panjang 1,23m dan Sisa 30 ptg panjang 16cm).

5.  Selesai... Semoga tulisan ini bermanfaat...


Advertisement




Komentar :



Dalam merancang ini ada 4 Hal penting yang harus kita tentukan, yaitu:
          1.  Lebar Tangga
          2.  Optrade (Tinggi Anak Tangga)
          3.  Aantrade (Lebar Anak Tangga)
          4.  Bordes

1.  Cara Menentukan Lebar Tangga


Lebar Tangga ditentukan dengan Menyesuaikan Jumlah Orang (Pengguna Tangga tsb.) yang akan melintas Tangga tersebut nantinya secara bersamaan.
Misalnya:
          a.  Jika Pengguna Tangga dominan 1 orang, buat lebar tangga 80cm atau lebih.
          b.  Jika Pengguna Tangga 2 orang (2 orang berselisih), buat lebar tangga 120cm atau lebih.
          c.  Jika Pengguna Tangga 3 orang atau lebih (massal), buat lebar tangga 180cm atau lebih.

Catatan: Terkadang (dalam menentukan Lebar Tangga) kita juga harus memperhitungkan mobilitas Barang yang nantinya akan melalui Tangga tersebut (seperti Lemari, Tempat Tidur, Meja, dsb.)

2.   Cara Menentukan Optrade (Tinggi Anak Tangga)


Optrade (Tinggi Anak Tangga) ditentukan dengan melihat Faktor Kenyamanan Pengguna Tangga (manusia) dalam melangkah Naik atau Turun pada tangga tersebut.

Bisa saja Manusia tsb. masih Anak Kecil, Remaja, atau Dewasa, yang memiliki Tinggi Badan dan Jangkauan Panjang Kaki yang berbeda-beda. Jadi Tinggi Optrade yang nyaman adalah Relatif.

Jadi dalam menentukan Optrade ini diambil patokan nyamannya adalah antara 15cm s/d 19cm. Ukuran ini nyaman untuk Remaja atau Orang Dewasa yang tinggi Badannya 150cm atau lebih.
Saran saya (Penulis), Tinggi Optrade maksimal adalah 19cm, jangan lebih.

3.  Cara Menentukan Aantrade (Lebar Anak Tangga)


Aantrade (Lebar Anak Tangga) adalah Bidang (lebar) Anak Tangga yang dipijak Tapak Kaki dalam melangkah Naik atau Turun. Jadi dalam menentukan Lebar Aantrade ini, kita harus menyesuaikannya dengan Panjang Tapak Kaki itu sendiri.

Lebar Aantrade yang nyaman disini saya rangkum seperti berikut:
          a.  Untuk Rumah Pribadi, buat lebar Aantrade minimal 27cm, idealnya antara 29cm s/d 33cm.
          b.  Untuk Gedung Umum, buat lebar Aantrade minimal 30cm, idealnya lebih dari 33cm.

4.  Cara Menentukan Bordes


Bordes adalah bagian dari Tangga yang berfungsi sebagai Area Jeda di tangga, berupa Pelat Datar diantara Anak Tangga sebagai tempat beristirahat sejenak. Panjangnya bisa 80cm, 100cm, 120cm, dsb. (disesuaikan dengan Kebutuhan Berdiri Sejenak, Seni Arsitektur, dan Space yang ada).

Bordes bisa dibuat pada bagian sudut tempat peralihan arah tangga yang berbelok (Tangga L), atau Tangga Lurus seperti Gambar diatas.

Posisi Bordes yang baik adalah "Meletakkan Posisi Bordes pada bagian Tengah dari Semua Jumlah Anak Tangga yang ada, misalnya:
          a.  Jika jumlah Anak Tangga adalah 20, maka Bordes bisa dibuat pada Anak Tangga ke 10.
          b.  Jika jumlah Anak Tangga adalah 24, maka Bordes bisa dibuat pada Anak Tangga ke 12.
Namun "Posisi Tengah" ini tidak mengikat, bisa saja dibuat lebih naik atau lebih turun dari pembagian Poin a. atau atau Poin b. tersebut.

Selesai.. Semoga tulisan ini bermanfaat..
 



Advertisement




Komentar :



Tahap dan Proses dalam membuat RAB Rumah atau Gedung adalah sebagai berikut:

1.  Baca Gambar, Pelajari, dan Pahami dulu dengan Cermat dan Teliti semua Gambar Rencana (Bestek) yang ada, termasuk Detail Gambarnya.

2.  Buka Aplikasi Ms-Excel, buat File Excel baru, misalnya: RAB Rumah 1 Unit.xlsx.
Pada Sheet1 buat tabel kolom No., Uraian Pekerjaan, Satuan, dst. Lalu buat Uraian Pekerjaan yang akan dilakukan dalam Pembangunan Rumah tersebut (dengan lengkap), berdasarkan Gambar Rencana (Bestek). Kemudian rename Sheet1 tsb. menjadi sheet RAB, agar penyajian File Excel-nya lebih Informatif.
Seperti Contoh Gambar dibawah ini:

Gambar 1. Sheet RAB - Uraian Pekerjaan

3.  Hitung Volume semua Item Uraian Pekerjaan tersebut. Bisa dengan 2 cara, yaitu:
a.  Dengan cara Manual, lalu masukkan Data Hasil Perhitungan pada kolom VOLUME [VOL].
b.  Dengan langsung Menghitung Volume pada file Excel tsb., pada masing-masing Range Pekerjaan, pada kolom VOLUME [VOL].
Seperti Contoh Gambar dibawah ini:

Gambar 2. Sheet RAB - Uraian Pekerjaan yang telah ada Volume

4.  Buat Daftar Harga Satuan Bahan dan Upah, caranya:
a.  Buka Sheet2, lalu Rename Sheet2 tsb. menjadi sheet Harga Bahan dan Upah.
b.  Pada sheet Harga Bahan dan Upah, buat tabel Harga Bahan dan Upah, dibuat sesuai dengan Analisa Bahan dan Upah yang akan dibuat nantinya.
Seperti Contoh Gambar dibawah ini:

Gambar 3. Sheet Harga Bahan dan Upah

5.  Buat Perhitungan Analisa Harga Satuan Bahan dan Upah, caranya:
a.  Buka Sheet3, lalu Rename Sheet3 tsb. menjadi sheet Analisa Bahan dan Upah.

b.  Pada sheet Analisa Bahan dan Upah ini, buat Analisa Satuan Bahan dan Upah sesuai dengan Uraian Pekerjaan yang ada.
Anda bisa copy-paste dari Analisa yang telah dibuat BSN pada situs ini http://sisni.bsn.go.id/, atau anda bisa buat Analisa versi anda sendiri. Pekerjaan Ls (lumpsum atau taksir) tidak perlu dibuat Analisanya.

c.  Input data Harga Satuan Bahan dan Harga Satuan Upah dari sheet Harga Bahan dan Upah (Gambar 3) pada sheet Analisa Bahan dan Upah (Gambar 4). Caranya di Link-kan ya..

d.  Catatan pribadi saya (Penulis): Tidak semua Koefisien yang ada pada Analisa yang banyak saya temukan selama ini sesuai dengan Real-Cost di lapangan. Jadi untuk mendapatkan Analisa yang Real-Cost (sesuai dengan di lapangan), terkadang saya harus melakukan Revisi pada Koefisien-koefisien tersebut. 
Contoh Analisa dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

Gambar 4. Sheet Analisa Bahan dan Upah

6.  Input Data dari sheet Harga Analisa Bahan dan Upah (Rp.) pada sheet RAB, (dari Gambar.4 ke Gambar.2). Caranya di Link-kan ya..
Hasilnya seperti Gambar dibawah ini:


Gambar 5. Sheet RAB yang telah ada Harga Analisa

7.  Lakukan Perhitungan untuk Mendapatkan JUMLAH HARGA [RP.], yaitu mengalikan data kolom VOLUME [VOL.] dengan data kolom HARGA SAT. [Rp.].
Hasilnya seperti Gambar dibawah ini:



Gambar 6. Sheet RAB yang telah ada Jumlah Harga

8.  Buat Rekapitulasi Total Rencana Anggaran Biaya (RAB), caranya:
a.  Buka Sheet4 (jika blom ada Sheet4, klik tombol Insert Worksheet supaya ada), lalu Rename Sheet4 tsb. menjadi sheet Rekapitulasi RAB.
b.  Pada sheet Rekapitulasi RAB, buat Judul Uraian Pekerjaan yang ada saja (yaitu poin A s/d I). Lalu input Data pada Gambar 6 ke dalam sheet Rekapitulasi RAB tsb. Caranya di Link-kan ya..
Hasilnya seperti Gambar dibawah ini:

Gambar 7. Sheet Rekapitulasi Total Anggaran Biaya (RAB)
9.  Selesai... Supaya lebih jelas, silahkan download file Excel-nya Disini... Semoga bermanfaat..


Advertisement




Komentar :