1.  Sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan Air atau diolesi Pelumas di sisi dalamnya (pelumas yang tidak meninggalkan bekas).

2.  Pengecoran Beton harus dibuat sedemikian rupa sehingga penempatan dan penanganannya mudah dilakukan tanpa adanya pemisahan butiran.

3.  Adukan beton dicor lapis demi lapis dengan ketebalan tertentu, berurutan mulai dari bawah. Agar lapisan yang baru dapat menyatu dengan lapisan dibawahnya. Adukan beton digetar dari lapisan bawah dengan Alat Penggetar (Vibrator) supaya padat. Lihat disini Caranya...

4.  Tidak diperkenankan melakukan Pengecoran bila persiapan Besi Tulangan, Bagian yang Ditanam, Cetakan (Bekisting), dan Perancah belum diperiksa dan disetujui Konsultan Teknik.

5.  Dalam pengecoran Beton Bertulang, harus dijaga jangan sampai terjadi Pemisahan Butiran. Apabila bentuk Tulangan dan Dasar Cetakan (bekisting) cukup rapat, terlebih dahulu diberi Batu Tahu beton setebal 3 cm.

6.  Jika pengecoran permukaan telah mencapai ketinggian lebih dari yang ditentukan oleh Konsultan Teknik, kelebihan ini harus segera dibuang. Semua pengecoran harus selesai dalam waktu 60 menit setelah keluar dari mesin pengaduk, kecuali jika ditentukan lain oleh Konsultan Teknik.

7.  Beton jangan dicor di dalam atau pada aliran kecuali telah disetujui sebelumnya oleh Konsultan Teknik. Air yang mengumpul selama pengecoran harus segera dibuang. Beton jangan dicor diatas beton lain yang baru saja dicor selama lebih dari 30 menit, kecuali jika dipersiapkan Konstruksi Sambungan yang akan ditentukan kemudian.

8.  Jika pelaksanaan Pengecoran dihentikan, Lokasi Sambungan harus ditempatkan pada posisi yang benar secara vertikal maupun horizontal, dengan permukaan dibuat Kasar atau bergerigi untuk menahan gesekan dan membentuk Ikatan Sambungan beton berikutnya.

9.  Pengecoran harus secara menerus hingga mencapai Posisi Sambungan Rencana yang ditentukan pada Gambar, atau menurut petunjuk Konsultan Teknik.

10.  Beton tidak boleh diangkut dengan Peluncur atau Kereta Sorong dan dijatuhkan dari ketinggian lebih tinggi dari 1,5 meter, kecuali jika diijinkan oleh Konsultan Teknik.


Advertisement




Komentar :


Beton yang Padat (tidak berongga) merupakan Tujuan dari sebuah Pekerjaan Pengecoran. Karena semakin Berongga Beton tersebut, maka semakin kecil Mutunya.

Untuk menghasilkan Beton yang padat, lakukan cara dibawah ini:

1.  Beton harus dipadatkan dengan Alat Penggetar Mekanis (Vibrator). Penggetaran bisa dari Dalam Adukan atau dari Luar Adukan (pada Acuan / bekisting), yang telah disetujui Owner (Pemilik). Jika diperlukan penggetaran harus disertai penusukan secara Manual dengan Alat yang cocok untuk menjamin kepadatan. Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan.

2.  Pemadatan harus dilakukan secara Teliti dan Hati-hati, untuk memastikan semua Sudut, dan di sekitar Besi Tulangan benar-benar terisi, tanpa menggeser Tulangan tersebut. Sehingga setiap rongga dan gelembung udara terisi.

3.  Lama penggetaran harus dibatasi, agar tidak terjadi Segregasi pada hasil pemadatan yang diperlukan. Lihat tentang Segregasi disini...

4.  Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000 putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg. Boleh saja diletakkan di atas acuan supaya dapat menghasilkan getaran yang merata.

5.  Posisi Vibrator untuk memadatkan beton di dalam acuan harus kira-kira Vertikal, hingga dapat melakukan penetrasi sampai kedalaman 10 cm dari Dasar Beton yang baru dicor. Sehingga menghasilkan kepadatan yang menyeluruh pada bagian tersebut.

6.  Apabila alat penggetar tersebut akan digunakan pada posisi yang lain maka, alat tersebut harus ditarik secara perlahan dan dimasukkan kembali pada posisi lain dengan jarak tidak lebih dari 45 cm. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik lebih dari 15 detik atau permukaan beton sudah mengkilap.

7.  Apabila kecepatan pengecoran 20 m3/jam, maka harus digunakan alat penggetar yang mempunyai dimensi lebih besar dari 7,5 cm.

8.  Dalam segala hal, pemadatan beton harus sudah selesai sebelum terjadi waktu ikat awal (initial setting).


Advertisement




Komentar :


Setelah Pengecoran, untuk mendapatkan Mutu yang baik, Beton harus dilindungi dari 2 hal, yaitu:
          1.  Gangguan Mekanis.
          2.  Pengeringan Dini, akibat Temperatur (Suhu) yang terlalu panas.

1.  Menjaga Kerusakan Beton dari Gangguan Mekanis

a.  Acuan Kayu (Bekisting) tidak boleh dibongkar terlalu cepat. Pastikan terlebih dahulu Umur Beton cukup dan tidak rusak apabila Bekisting tersebut dibongkar.

b.  Bekisting (Acuan Kayu) diupayakan dalam kondisi basah sampai Acuan tersebut dibongkar. Ini untuk mencegah terbukanya sambungan-sambungan Kayu tersebut dan pengeringan beton.

c.  Pelaksanaan Pembongkaran Bekisting harus hati-hati.

2.  Perawatan untuk Mengatasi Pengeringan dini.

a.  Perawatan dengan Air 

Pekerjaan Perawatan harus segera dimulai setelah Beton mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah). Dengan cara menyelimutinya dengan Bahan Lembaran yang menyerap air yang harus dibuat Jenuh Air terlebih dahulu. Proses ini dilakukan dalam waktu paling sedikit 7 hari. Semua Bahan Perawatan atau Lembaran Bahan Penyerap Air harus menempel pada permukaan beton yang dirawat.

b.  Perawatan dengan Cara Lain

1.  Menggunakan Membran Cair
Perawatan membran dilakukan ketika seluruh permukaan beton segera sesudah air meningggalkan permukaan (kering), terlebih dahulu setelah beton dibuka cetakannya dan finishing dilakukan. Jika seandainya hujan turun maka harus dibuat pelindung sebelum lapisan membran cukup kering, atau seandainya lapisan membran rusak maka harus dilakukan pelapisan ulang lagi.

2.  Menggunakan Selimut Kedap Air
Metode ini dilakukan dengan menyelimuti permukaan beton dengan bahan lembaran kedap air yang bertujuan mencegah kehilangan kelembaban ari permukaan beton. Beton harus basah pada saat lembaran kedap air ini dipasang. Lembaran bahan ini aman untuk tidak terbang/pindah tertiup angin dan apabila ada kerusakan/sobek harus segera diperbaiki selama periode perawatan berlangsung.

3.  Form-In-Place
Perawatan yang dilakukan dengan tetap mempertahankan cetakan sebagai dinding penahan pada tempatnya selama waktu yang diperlukan beton dalam masa perawatan.

c.  Perawatan dengan Uap

Perawatan dengan uap harus dikerjakan secara menerus sampai waktu dimana beton telah mencapai 70 % dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.

Perawatan dengan uap untuk beton harus mengikuti ketentuan di bawah ini:
     1.  Tekanan uap pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi tekanan luar.
     2.  Temperatur pada ruang uap selama perawatan beton tidak boleh melebihi 38C selama 2 jam
          sesudah pengecoran selesai. Kemudian temperatur dinaikkan berangsur-angsur sehingga
          mencapai 65C dengan kenaikan temperatur maksimum 14C per-jam secara bertahap.
     3.  Perbedaan temperatur pada dua tempat di dalam ruangan uap tidak boleh melebihi 5,5C.
     4.  Penurunan temperatur selama pendinginan dilaksanakan secara bertahap dan tidak boleh lebih
          dari 11C per-jam.
     5.  Perbedaan temperatur beton pada saat dikeluarkan dari ruang penguapan tidak boleh lebih dari
          11C dibanding udara luar.
     6.  Selama perawatan dengan uap, ruangan harus selalu jenuh dengan uap air.
     7.  Semua bagian Beton yang mendapat perawatan dengan uap harus dibasahi selama 4 hari
          sesudah selesai perawatan uap tersebut.
 


Advertisement




Komentar :


Pondasi Setempat (atau biasa disebut juga Pondasi Foot Plat, Pondasi Telapak, atau Pondasi Tapak) pada umumnya dipakai untuk Rumah 1 Lantai, 2 Lantai, 3 Lantai, dan bahkan bisa juga 4 Lantai, jika Dimensi Tapak Pondasi diperbesar dan Tanah Dasarnya cukup keras.

Pada tulisan kali ini saya hanya membahas Cara Perhitungan Jumlah Besinya saja, dengan Asumsi Gambar Rencana dan Diameter Besinya telah ditentukan.

Contoh Perhitungan:

Sebuah Rumah direncanakan memakai Pondasi Setempat sebanyak 15 unit. Detail Gambar Pondasi dapat dilihat pada Gambar Rencana (Bestek) dibawah ini.
Jumlah Besi untuk Pondasi Setempat ini dapat kita hitung dengan cara sebagai berikut:


Perhitungannya:

1.  Data Gambar: Ukuran Pondasi = 120, dan Besi Pondasi Setempat adalah Ø12-15, ini artinya:
          a.  Ukuran Tapak Pondasi: Panjang = 120 cm dan Lebar = 120 cm.
          b.  Besi yang dipakai adalah berdiameter 12 mm
          c.  Jarak pemasangan Besi = 15 cm.

2.  Berdasarkan Lebar Tapak Pondasi = 120cm dan Jarak besi = 15cm ini, bisa dibuat Rencana Pemasangan dan Pemotongan Besi seperti Gambar dibawah ini.



3.  Dari Gambar diatas didapat kesimpulan:
     a.  Dalam 1 Unit Pondasi Setempat diperlukan: 16 potong (ptg) besi Ø12.
     b.  Panjang 1 potong Besi adalah = 9cm + 105cm + 9cm = 123 cm = 1,23 m.

4.   Perhitungan Besi yang harus disediakan (dibeli):

      a.  Jumlah Pondasi Setempat = 15 unit, 1 unit Pondasi butuh 16 ptg besi panjang 1,23m.
           Jadi untuk 15 unit Pondasi dibutuhkan = (15 x 16) ptg = 240 ptg (besi panjang 1,23).
      
      b.  Jika dibeli Besi Ø12 panjang 12 meter (Ø12x12m), maka: 
           Dari 1 batang (btg) Besi, bisa dibuat = 9 ptg panjang 1,23m dan Sisa 1 ptg panjang 93cm.
           Untuk membuat 240 ptg, diperlukan (240 ptg : 9 ptg) = 26,67 btg 27 btg.
           (Dari 27 btg Besi tersebut, diperoleh = 243 ptg panjang 1,23m dan Sisa 27 ptg panjang 93cm).

      c.  Jika dibeli Besi Ø12 panjang 10 meter (Ø12x10m), maka: 
           Dari 1 batang (btg) Besi, bisa dibuat = 8 ptg panjang 1,23m dan Sisa 1 ptg panjang 16cm.
           Untuk membuat 240 ptg, diperlukan (240 ptg : 8 ptg) = 30 btg.
           (Dari 30 btg Besi tersebut, diperoleh = 240 ptg panjang 1,23m dan Sisa 30 ptg panjang 16cm).

5.  Selesai... Semoga tulisan ini bermanfaat...


Advertisement




Komentar :



Dalam merancang ini ada 4 Hal penting yang harus kita tentukan, yaitu:
          1.  Lebar Tangga
          2.  Optrade (Tinggi Anak Tangga)
          3.  Aantrade (Lebar Anak Tangga)
          4.  Bordes

1.  Cara Menentukan Lebar Tangga


Lebar Tangga ditentukan dengan Menyesuaikan Jumlah Orang (Pengguna Tangga tsb.) yang akan melintas Tangga tersebut nantinya secara bersamaan.
Misalnya:
          a.  Jika Pengguna Tangga dominan 1 orang, buat lebar tangga 80cm atau lebih.
          b.  Jika Pengguna Tangga 2 orang (2 orang berselisih), buat lebar tangga 120cm atau lebih.
          c.  Jika Pengguna Tangga 3 orang atau lebih (massal), buat lebar tangga 180cm atau lebih.

Catatan: Terkadang (dalam menentukan Lebar Tangga) kita juga harus memperhitungkan mobilitas Barang yang nantinya akan melalui Tangga tersebut (seperti Lemari, Tempat Tidur, Meja, dsb.)

2.   Cara Menentukan Optrade (Tinggi Anak Tangga)


Optrade (Tinggi Anak Tangga) ditentukan dengan melihat Faktor Kenyamanan Pengguna Tangga (manusia) dalam melangkah Naik atau Turun pada tangga tersebut.

Bisa saja Manusia tsb. masih Anak Kecil, Remaja, atau Dewasa, yang memiliki Tinggi Badan dan Jangkauan Panjang Kaki yang berbeda-beda. Jadi Tinggi Optrade yang nyaman adalah Relatif.

Jadi dalam menentukan Optrade ini diambil patokan nyamannya adalah antara 15cm s/d 19cm. Ukuran ini nyaman untuk Remaja atau Orang Dewasa yang tinggi Badannya 150cm atau lebih.
Saran saya (Penulis), Tinggi Optrade maksimal adalah 19cm, jangan lebih.

3.  Cara Menentukan Aantrade (Lebar Anak Tangga)


Aantrade (Lebar Anak Tangga) adalah Bidang (lebar) Anak Tangga yang dipijak Tapak Kaki dalam melangkah Naik atau Turun. Jadi dalam menentukan Lebar Aantrade ini, kita harus menyesuaikannya dengan Panjang Tapak Kaki itu sendiri.

Lebar Aantrade yang nyaman disini saya rangkum seperti berikut:
          a.  Untuk Rumah Pribadi, buat lebar Aantrade minimal 27cm, idealnya antara 29cm s/d 33cm.
          b.  Untuk Gedung Umum, buat lebar Aantrade minimal 30cm, idealnya lebih dari 33cm.

4.  Cara Menentukan Bordes


Bordes adalah bagian dari Tangga yang berfungsi sebagai Area Jeda di tangga, berupa Pelat Datar diantara Anak Tangga sebagai tempat beristirahat sejenak. Panjangnya bisa 80cm, 100cm, 120cm, dsb. (disesuaikan dengan Kebutuhan Berdiri Sejenak, Seni Arsitektur, dan Space yang ada).

Bordes bisa dibuat pada bagian sudut tempat peralihan arah tangga yang berbelok (Tangga L), atau Tangga Lurus seperti Gambar diatas.

Posisi Bordes yang baik adalah "Meletakkan Posisi Bordes pada bagian Tengah dari Semua Jumlah Anak Tangga yang ada, misalnya:
          a.  Jika jumlah Anak Tangga adalah 20, maka Bordes bisa dibuat pada Anak Tangga ke 10.
          b.  Jika jumlah Anak Tangga adalah 24, maka Bordes bisa dibuat pada Anak Tangga ke 12.
Namun "Posisi Tengah" ini tidak mengikat, bisa saja dibuat lebih naik atau lebih turun dari pembagian Poin a. atau atau Poin b. tersebut.

Selesai.. Semoga tulisan ini bermanfaat..
 



Advertisement




Komentar :



Tahap dan Proses dalam membuat RAB Rumah atau Gedung adalah sebagai berikut:

1.  Baca Gambar, Pelajari, dan Pahami dulu dengan Cermat dan Teliti semua Gambar Rencana (Bestek) yang ada, termasuk Detail Gambarnya.

2.  Buka Aplikasi Ms-Excel, buat File Excel baru, misalnya: RAB Rumah 1 Unit.xlsx.
Pada Sheet1 buat tabel kolom No., Uraian Pekerjaan, Satuan, dst. Lalu buat Uraian Pekerjaan yang akan dilakukan dalam Pembangunan Rumah tersebut (dengan lengkap), berdasarkan Gambar Rencana (Bestek). Kemudian rename Sheet1 tsb. menjadi sheet RAB, agar penyajian File Excel-nya lebih Informatif.
Seperti Contoh Gambar dibawah ini:

Gambar 1. Sheet RAB - Uraian Pekerjaan

3.  Hitung Volume semua Item Uraian Pekerjaan tersebut. Bisa dengan 2 cara, yaitu:
a.  Dengan cara Manual, lalu masukkan Data Hasil Perhitungan pada kolom VOLUME [VOL].
b.  Dengan langsung Menghitung Volume pada file Excel tsb., pada masing-masing Range Pekerjaan, pada kolom VOLUME [VOL].
Seperti Contoh Gambar dibawah ini:

Gambar 2. Sheet RAB - Uraian Pekerjaan yang telah ada Volume

4.  Buat Daftar Harga Satuan Bahan dan Upah, caranya:
a.  Buka Sheet2, lalu Rename Sheet2 tsb. menjadi sheet Harga Bahan dan Upah.
b.  Pada sheet Harga Bahan dan Upah, buat tabel Harga Bahan dan Upah, dibuat sesuai dengan Analisa Bahan dan Upah yang akan dibuat nantinya.
Seperti Contoh Gambar dibawah ini:

Gambar 3. Sheet Harga Bahan dan Upah

5.  Buat Perhitungan Analisa Harga Satuan Bahan dan Upah, caranya:
a.  Buka Sheet3, lalu Rename Sheet3 tsb. menjadi sheet Analisa Bahan dan Upah.

b.  Pada sheet Analisa Bahan dan Upah ini, buat Analisa Satuan Bahan dan Upah sesuai dengan Uraian Pekerjaan yang ada.
Anda bisa copy-paste dari Analisa yang telah dibuat BSN pada situs ini http://sisni.bsn.go.id/, atau anda bisa buat Analisa versi anda sendiri. Pekerjaan Ls (lumpsum atau taksir) tidak perlu dibuat Analisanya.

c.  Input data Harga Satuan Bahan dan Harga Satuan Upah dari sheet Harga Bahan dan Upah (Gambar 3) pada sheet Analisa Bahan dan Upah (Gambar 4). Caranya di Link-kan ya..

d.  Catatan pribadi saya (Penulis): Tidak semua Koefisien yang ada pada Analisa yang banyak saya temukan selama ini sesuai dengan Real-Cost di lapangan. Jadi untuk mendapatkan Analisa yang Real-Cost (sesuai dengan di lapangan), terkadang saya harus melakukan Revisi pada Koefisien-koefisien tersebut. 
Contoh Analisa dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

Gambar 4. Sheet Analisa Bahan dan Upah

6.  Input Data dari sheet Harga Analisa Bahan dan Upah (Rp.) pada sheet RAB, (dari Gambar.4 ke Gambar.2). Caranya di Link-kan ya..
Hasilnya seperti Gambar dibawah ini:


Gambar 5. Sheet RAB yang telah ada Harga Analisa

7.  Lakukan Perhitungan untuk Mendapatkan JUMLAH HARGA [RP.], yaitu mengalikan data kolom VOLUME [VOL.] dengan data kolom HARGA SAT. [Rp.].
Hasilnya seperti Gambar dibawah ini:



Gambar 6. Sheet RAB yang telah ada Jumlah Harga

8.  Buat Rekapitulasi Total Rencana Anggaran Biaya (RAB), caranya:
a.  Buka Sheet4 (jika blom ada Sheet4, klik tombol Insert Worksheet supaya ada), lalu Rename Sheet4 tsb. menjadi sheet Rekapitulasi RAB.
b.  Pada sheet Rekapitulasi RAB, buat Judul Uraian Pekerjaan yang ada saja (yaitu poin A s/d I). Lalu input Data pada Gambar 6 ke dalam sheet Rekapitulasi RAB tsb. Caranya di Link-kan ya..
Hasilnya seperti Gambar dibawah ini:

Gambar 7. Sheet Rekapitulasi Total Anggaran Biaya (RAB)
9.  Selesai... Supaya lebih jelas, silahkan download file Excel-nya Disini... Semoga bermanfaat..


Advertisement




Komentar :

Analisa Harga Satuan Bahan dan Upah adalah Harga Satuan yang terdiri dari penjumlahan antara Harga Analisa Bahan (Material) dan Harga Analisa Upah.

Contoh Analisa dapat dilihat pada Gambar dibawah ini:


Cara Memahami Tabel Analisa diatas:

Sebagai contoh, lihat Kode Analisa B.11 (Analisa untuk Pekerjaan 1 m3 Urugan Pasir dengan Tenaga).

a.  Untuk melakukan Pekerjaan 1 m3 Urugan Pasir dengan Tenaga di Lapangan, diperlukan Pasir sebanyak 1,2 m3 yang mesti kita sediakan dari Toko Material.

b.  Untuk melakukan Pekerjaan 1 m3 Urugan Pasir dengan Tenaga di Lapangan, diperlukan Pekerja tak terlatih 0,5 Oh dan Mandor 0,05 Oh. (Catatan: Oh adalah singkatan dari Orang Hari, maksudnya adalah Satuan Upah Tenaga Kerja per-Hari).

Pada poin a dan b dapat kita lihat ada nilai 1,2 (untuk pasir), 0,5 Oh (untuk Pekerja tak terlatih), dan 0,05 Oh (untuk Mandor). Yang menjadi pertanyaan adalah darimana Nilai-nilai Koefisin tersebut didapat..?

Nilai-nilai Koefisien tersebut didapat dari Perhitungan, Pengalaman, Pengamatan Kerja di lapangan yang dilakukan oleh para Engineer, yang dicatat dengan teliti dan seakurat mungkin. Sehingga banyak kita temukan bermacam Versi dari Analisa Harga Satuan tersebut.

Sumber Analisa Harga Satuan:

Harga Analisa Satuan Bahan dan Upah ini, bisa didapat dengan 3 Cara, yaitu:
          a.  Menggunakan Analisa SNI berdasarkan Badan Standarisasi Nasional (BSN), yang bisa kita
               lihat di situs http://sisni.bsn.go.id/
          b.  Menggunakan Analisa Kita Sendiri berdasarkan Pengalaman di Lapangan, dengan cara
               melakukan Analisa dan Perhitungan sendiri.
          c.  Menggunakan Analisa dari Sumber Lain.

Demikian tulisan saya kali ini, yang saya anggap perlu sebelum dilanjutkan pada tulisan saya nanti, Cara Membuat RAB. Semoga bermanfaat..


Advertisement




Komentar :

Untuk dapat Membuat RAB Rumah atau Gedung, ada beberapa Syarat dan Data yang harus kita kuasai dan kita ketahui, yaitu sebagai berikut:

1.  Menguasai Program Aplikasi Microsoft Excel dengan baik, atau sejenis.

2.  Dapat memahami dan mengusai Gambar Rencana (Bestek) Rumah atau Gedung.

3.  Dapat menghitung semua Volume Pekerjaan yang terdapat pada Gambar Rencana (Bestek).

4.  Mengetahui semua Harga Material dan Barang yang terdapat pada Gambar Rencana (Bestek).

5.  Mengetahui dengan akurat semua Harga Satuan Upah Pekerjaan yang terdapat pada Gambar Rencana (Bestek).

6.  Dapat membuat Analisa Harga Satuan Bahan dan Analisa Harga Satuan Upah yang ada pada setiap Item Pekerjaan Rumah atau Gedung tersebut, secara lengkap dan akurat. 
Bisa menggunakan Analisa Harga Satuan yang berdasarkan Standard Nasional Indonesia (Analisa SNI), atau menggunakan Analisa kita sendiri (berdasarkan Pengalaman di lapangan).

7.  Dapat membuat Rekapitulasi dari Semua Harga Pekerjaan yang ada dengan akurat dan teliti.

8.  Dapat melakukan semua Pekerjaan diatas (no. 2 s/d 7) dengan menggunakan Aplikasi Microsoft Excel (sejenis) dengan lengkap, terperinci, dan akurat.

Demikian tulisan saya kali ini, pada kesempatan selanjutnya saya akan coba paparkan Cara dan Contoh dalam membuat RAB ini. Semoga bermanfaat...


Advertisement




Komentar :

Adapun Jenis Kabel Listrik yang sering Dipakai disini adalah sebagai berikut:
 1.  Kabel NYA

  • Biasanya digunakan untuk Instalasi Kabel Listrik didalam Rumah. 
  • Kabel ukuran 1,5 mm2 biasa dipakai untuk Instalasi Lampu dan Kabel Ukuran 2,5 mm2 biasa dipakai untuk Instalasi Stop Kontak.
  • Berinti tunggal dan berlapis bahan Isolasi PVC. 
  • Warna isolasi ada warna Merah, Kuning, Biru dan Hitam. 
  • Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat, tidak tahan air dan mudah digigit tikus.
  • Agar aman memakai kabel tipe ini, kabel harus dipasang dalam pipa/conduit jenis PVC ukuran 5/8" atau 3/4", atau saluran tertutup. Sehingga tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus, dan apabila ada isolasi yang terkelupas tidak tersentuh langsung oleh orang.

2.  Kabel NYM

  • Kabel ini biasa juga digunakan untuk Instalasi Listrik Rumah atau Gedung. 
  • Kabel NYM berinti lebih dari 1, bisa 2, 3, atau 4. 
  • Memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abu-abu). 
  • Kabel NYM memiliki lapisan isolasi dua lapis, sehingga tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA (harganya lebih mahal dari NYA). 
  • Kabel ini dapat dipergunakan dilingkungan yang kering dan basah, namun tidak boleh ditanam.

3.  Kabel NYY

  • Memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna hitam), ada yang berinti 2, 3 atau 4. 
  • Kabel NYY dieprgunakan untuk instalasi tertanam (kabel tanah), dan memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (harganya lebih mahal dari NYM). 
  • Kabel NYY memiliki isolasi yang terbuat dari bahan yang tidak disukai tikus.

4.  Kabel NYAF

  • Kabel NYAF merupakan jenis kabel fleksibel dengan penghantar tembaga serabut berisolasi PVC. 
  • Digunakan untuk instalasi panel-panel yang memerlukan fleksibelitas yang tinggi.


5.  Kabel NYFGbY

  • Kabel NYFGbY ini digunakan untuk instalasi bawah tanah, di dalam ruangan di dalam saluran-saluran dan pada tempat-tempat yang terbuka dimana perlindungan terhadap gangguan mekanis dibutuhkan, atau untuk tekanan rentangan yang tinggi selama dipasang dan dioperasikan.

6.  Kabel BC
  • Kabel ini dipilin/stranded, disatukan. Ukuran / tegangan mak = 6 – 500 mm2 / 500 V.
  • Pemakaian kabel jenis ini di saluran diatas tanah dan Penghantar Pentanahan (Penangkal Petir).

7.  Kabel ACSR

  • Kabel ACSR merupakan kawat penghantar yang terdiri dari aluminium berinti kawat baja.
  • Kabel ini digunakan untuk saluran-saluran transmisi tegangan tinggi, dimana jarak antara Menara/Tiang berjauhan, mencapai ratusan meter, maka dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi, untuk itu digunakan kawat penghantar ACSR.


Advertisement




Komentar :


Untuk dapat menghitung Kebutuhan  Jumlah Canal Baja Ringan, terlebih dahulu harus diketahui Gambar Rencana Rangka Atap tersebut. Gambar Rencana ini biasanya terdapat pada Gambar Bestek Rumah atau Gedung tersebut.

Contoh Perhitungan Kebutuhan Canal Baja Ringan:

Berdasarkan Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini, kita dapat Menghitung Jumlah Canal Baja Ringan yang diperlukan.
(Gambar 1. Denah Kuda-kuda Rangka Atap)
 
(Gambar 2. Detail Kuda-kuda Rangka Atap)

Perhitungan:

1.  Ukur terlebih dahulu Panjang masing-masing Canal pada Gambar Detail Kuda-kuda Rangka Atap. Seperti terlihat pada Gambar 3 dibawah ini.
(Gambar 3. Panjang Canal pada Kuda-kuda Rangka Atap telah diukur)

2.  Berdasarkan Gambar 3 diatas, lakukan Penjumlahan Panjang Canal (dalam cm) untuk 1 set Kuda-kuda Rangka Atap.

A.  Cara Perhitungan 1, Jumlah Canal untuk 1 Set Kuda-kuda Rangka Atap

1.  Caranya adalah: dengan Langsung Melakukan Perhitungan (penjumlahan) terhadap Panjang Canal sesuai dengan Ukuran pada Gambar.
2.  Kemudian menambahkan panjang Canal (penambahan Panjang Taksir), seperti dibawah ini:

Lcanal = 16 + (297x2) + (117x2) + (69x2) + (18x2) + (30x2) + 367 = 1445 cm = 14,45 m = 15 m

Disini saya melakukan Pembulatan Keatas (penambahan Panjang Taksir), yaitu 14,45 m menjadi 15 m (selisih lebih 55 cm per 1 set Kuda-kuda)

Catatan: 30x2 adalah Panjang Canal untuk Bracket, tentang Bracket dapat dilihat disini Teknis Kerja Pemasangan Baja Ringan Atap Rumah.

Jadi, Lcanal untuk 6 set Kuda-kuda Rangka Atap (Gambar 1) = 15m x 6 set = 90 m = 15 batang. 
Ini karena 1 batang Canal Baja Ringan pada umumnya memiliki Panjang = 6 m.

Anda dapat menambahkan 1 batang pada saat Pembelian Canal, menjadi 16 batang.
Ini untuk Antisipasi Kekurangan Canal, yang bisa diakibatkan oleh Perbedaan kondisi di Lapangan, kesalahan Pengukuran, kesalahan Pemotongan, dsb.

Catatan: Silahkan dikoreksi jika anda menggunakan Canal Baja Ringan yang memiliki Panjang berbeda.

Selesai..

B.  Cara Perhitungan 2, Jumlah Canal untuk 1 Set Kuda-kuda Rangka Atap

1.  Lakukan Pembulatan terhadap Hasil Pengukuran Panjang Canal Kuda-kuda tersebut (lebihkan 1cm s/d 4 cm pada setiap Potongan Canal). 
          a.  Panjang 297cm, dibulatkan menjadi 300cm = 2 ptg (potong).
          b.  Panjang 117cm, dibulatkan menjadi 120cm = 2 ptg.
          c.  Panjang 69cm, dibulatkan menjadi 70cm = 2 ptg.
          d.  Panjang 18cm, dibulatkan menjadi 20cm = 2 ptg.
          e.  Panjang 16cm, dibulatkan menjadi 20cm = 1 ptg.
          f.  Panjang 367cm, dibulatkan menjadi 370cm = 1 ptg.
          g.  Panjang (untuk Bracket) 30cm = 2 potong.

2.  Lakukan Rencana Kombinasi Sistem Pemotongan Canal, dengan mengacu bahwa 1 batang Canal memiliki panjang 6 meter (600 cm). Seperti dibawah ini:
          a.  Panjang 300cm = 2 ptg, adalah sama dengan 600cm = 1 (Btg) Batang Canal.
          b.  Panjang (370cm=1 ptg) + (70cm=2 ptg) + (20cm=2 ptg) + (20cm=2 ptg) = 590cm = 1 Btg.
          c.  Panjang (120cm=2 ptg) + (30cm=2 ptg) = 300cm = 0,5 Btg.
Total Panjang Canal = 2,5 Btg = 15 m.

3.  Untuk 6 Set Kuda-kuda, dibutuhkan Canal = 2,5 Btg x 6 set = 15 Btg Canal.

4.  Anda dapat menambahkan 1 batang pada saat Pembelian Canal, menjadi 16 batang.
Ini untuk Antisipasi Kekurangan Canal, yang bisa diakibatkan oleh Perbedaan kondisi di Lapangan, kesalahan Pengukuran, kesalahan Pemotongan, dsb.

5.  Perhitungan Selesai.. Silahkan dipilih Cara mana (Cara Perhitungan 1 atau Cara Perhitungan 2) yang hendak dilakukan. Semoga bermanfaat.. 


Advertisement




Komentar :

Pekerjaan Persiapan sebelum Membuat Bekisting Kolom:

1.  Tentukan terlebih dahulu Ukuran Dimensi Penampang Kolom yang akan dibuat.
Misalnya: 25x35 cm2, 20x30 cm2, 12x40 cm2, 12x35 cm2, dan sebagainya.

2.  Tentukan Rencana Ketinggian Kolom yang akan dibuat.
Misalnya: 4 m, 4,5 m, atau 5 m, dan sebagainya.
Catatan: Kedua Ketentuan Hal diatas biasanya dapat dilihat pada Gambar Bestek Bangunan.

3.  Misalnya: Untuk membuat Bekisting 1 unit Kolom ukuran Penampang 25x35 cm2, tinggi 4,5 m (450 cm), menggunakan Tripleks tebal 9 mm, dapat dilihat dibawah ini:


Tahapan Membuat Bekisting Kolom:

1.  Potong Tripleks dengan Ukuran 25x450 cm2 terlebih dahulu, sebanyak 2 lembar (untuk 2 Sisi). Karena pada umumnya Panjang Tripleks adalah 8 kaki (244 cm), maka kita dapat menyambung 2 lembar Triplek (ukuran 25x244 cm2 dan ukuran 25x206 cm2) menjadi satu, agar didapat panjang 450cm.

2.  Lakukan Penyambungan 2 Tripleks tsb. dengan menggunakan Kayu ukuran 1"x2" panjang 4,5 m (gunakan Paku 1,5"). Penyambungan ini sekaligus berfungsi Membuat Lembaran Tripleks tersebut menjadi Lembaran yang lebih Kuat dan lebih Kaku.

3.  Potong Tripleks dengan Ukuran 41,8x450 cm2 sebanyak 2 lembar (untuk 2 Sisi). Sambung kedua Tripleks tsb. (sama seperti Tahap 1 dan Tahap 2). Tapi disini kita menggunakan 3 batang Kayu 1"x2"x4,5m karena Tripleks tsb. memiliki bidang yang lebih Lebar yaitu 41,8 cm, agar Kuat dan Kaku.

4.  Rakit keempat Lembar Tripleks yang telah diberi Pengaku Kayu 1"x2"x4,5m tsb., hasilnya menjadi seperti dibawah ini.

5.  Selanjutnya buat Stang Pengaku (bisa dari Besi atau Kayu) untuk mengunci ke-Empat Sisi Bekisting Kolom tsb.
Lalu buat Skor Bekisting (bisa dari Besi atau Kayu) untuk menyokong Bekisting tsb., supaya dapat berdiri tegak dengan kokoh. Seperti Gambar dibawah ini.




Advertisement



Komentar :

Beberapa Tips untuk mengatasi masalah Bocor dan Rembesan Air pada Keramik Dinding dan Keramik Lantai Kamar mandi :

1.  Bongkar keramik Dinding atau Lantai kamar mandi anda secara hati-hati. Bersihkan bekas bongkaran keramik dengan air. Plester Kembali agar rata (jika diperlukan), dan tunggu sampai kering.

2.  Lapisi bagian Dinding atau Lantai yang sudah dibersihkan tersebut dengan zat aditif type Waterproofing kemudian sapukan pada bidang dinding atau lantai secara merata. Buat lapisan menjadi 2 atau 3 lapis untuk memastikan pori-pori Dinding atau Lantai kamar mandi tertutup dengan sempurna. 

3.  Biarkan lapisan Waterproofing mengering selama 24 jam, untuk memastikan lapisan waterproofing mengering dengan sempurna sehingga tidak ada lagi bagian dinding dan lantai yang bocor atau merembes.

4.  Buat campuran Mortar untuk pemasangan keramik, lalu pasang kembali keramik Dinding atau Lantai kamar mandi. Sebaiknya Mortar yang digunakan adalah Mortar Additive yang mengandung Waterproofing (merk dan tipenya cukup banyak, dapat anda tanya pada toko Material)

5.  Biarkan nat diantara bagian-bagian keramik tetap terbuka, jangan ditutup dulu selama beberapa hari, agar uap dari campuran air dan mortar menguap dan hilang terlebih dahulu.

6.  Lalu anda bisa menutup celah-celah nat dengan campuran Pasta Semen atau campuran Semen Putih yang ditambahkan Zat Aditif Waterproofing.

Advertisement




Komentar :