Jika kita perhatikan di sekitar kita, pada umumnya ada 3 Posisi Pasangan Keramik yang dilakukan pada sebuah Rumah atau Gedung, yaitu :
1.  Keramik yang dipasang di atas Lantai,
2.  Keramik yang dipasang pada Dinding, dan
3.  Keramik yang dipasang pada Langit-langit, seperti dibawah Plat Lantai Beton atau dibawah Plat Tangga Beton, seperti Gambar 1 dibawah ini, (walaupun Hal ini sangat jarang dilakukan).

(Gambar 1. Pemasangan Keramik dibawah Plat Lantai Beton)

Berdasarkan Kekuatannya, Keramik yang dibuat oleh Pabrik terdiri atas 2 jenis, yaitu :

1.  Keramik yang Tahan terhadap Tekanan, biasanya digunakan untuk Keramik Lantai
Yaitu Keramik yang (dalam keadaan terpasang) diperkirakan Kuat menahan Beban Manusia yang berjalan diatasnya, dan tahan terhadap Tekanan beban Furniture yang nantinya akan diletakkan diatasnya, seperti Meja, Kursi, Lemari, Tempat Tidur, Sofa, Rak, dan sebagainya.

Ciri-ciri umumnya adalah :
a.  Biasanya memiliki bidang (ukuran) Bujur Sangkar, seperti: 60x60 cm, 50x50 cm, 40x40 cm, 33,3x33,3 cm, 30x30 cm, 25x25 cm, 20x20 cm, dan sebagainya.
b.  Keramik ini Lebih Tebal dari Keramik yang biasa dipakai untuk Dinding.
c.  Permukaan Keramik ini ada 2 macam. Ada yang Permukaannya Halus, cocok dipakai untuk Lantai didalam Rumah. Dan ada yang Permukaannya Kasar, cocok dipakai untuk Lantai Kamar Mandi dan Lantai diluar Rumah yang sewaktu-waktu terkena Air.

2.  Keramik yang tidak Tahan terhadap Tekanan, biasanya digunakan untuk Keramik Dinding
Yaitu Keramik yang (dalam keadaan terpasang) diperkirakan Tidak Kuat menahan Beban Manusia yang berjalan diatasnya, dan Tidak Kuat menahan Tekanan beban Furniture yang nantinya akan diletakkan diatasnya, seperti Meja, Kursi, Lemari, Tempat Tidur, Sofa, Rak, dan sebagainya.

Ciri-ciri umumnya adalah :
a.  Biasanya memiliki bidang (ukuran) Persegi Panjang, seperti: 25x75 cm, 30x60 cm, 20x60 cm, 25x50 cm, 20x40 cm, 20x25 cm, dan sebagainya.
b.  Keramik ini Lebih Tipis dari Keramik yang biasa dipakai untuk Lantai.
c.  Keramik ini pada umumnya memiliki Permukaan yang Halus dan Mudah dibersihkan.

(Gambar 2. Keramik Dinding dan Keramik Lantai)

Berdasarkan Ciri-ciri diatas, kita bisa membedakan mana yang merupakan Keramik Lantai dan mana yang merupakan Keramik Dinding. Jika anda masih kurang yakin tentang Hal ini (pada saat membeli Keramik), anda bisa menanyakannya langsung pada Pihak Penjual yang berkompeten dalam hal tersebut.

Jika ditinjau dari segi Kekuatannya, Keramik Lantai bisa saja dipasang pada Dinding, dengan tetap memperhatikan dan menyesuaikan Motif (Corak) Keramik tersebut. Tapi Keramik Dinding sebaiknya tidak dipasang pada Lantai, karena kekuatannya tidak memadai untuk menahan beban jika dipasang pada Lantai.

Demikian tulisan sederhana saya kali ini.. Semoga bermanfaat..


Advertisement




Komentar :
Pada Rumah yang menggunakan Kusen Pintu dan Jendela yang terbuat dari Kayu, mungkin kita pernah melihat Plesteran di bagian tepi Kusen merenggang dari Kusen-nya, seperti membentuk sebuah retakan.

Jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian dalam Rumah, hal ini tidak begitu berdampak buruk. Namun jika retak ini terjadi pada Kusen Kayu dan Plesteran yang terletak dibagian Dinding Luar rumah (yang akan terkena Air Hujan), maka hal bisa memiliki dampak lain, seperti terlihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 1. Celah Retak - pada Dinding Luar Rumah )

Kondisi Celah (Retak) seperti Gambar 1, akan menyebabkan Air Hujan bisa masuk melalui Celah tersebut ke bagian dalam Dinding Rumah, seperti Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2. Air Hujan Masuk ke Dinding dalam Rumah

Pada Gambar 2 jelas terlihat, terjadi kerusakan pada Cat Dinding dalam rumah. Hal ini disebabkan karena Air Hujan masuk dari Dinding Luar Rumah, yaitu melalui Celah Retak tersebut, lalu merusak Cat Dinding bagian dalam rumah. Bahkan bisa saja Air ini mengalir masuk kedalam Rumah, jika jumlahnya banyak.

Tentu saja Kondisi Dinding dalam Rumah seperti Gambar 2 diatas sangat tidak kita inginkan terjadi pada dinding Rumah kita. 

Cara Memperbaiki-nya adalah sebagai berikut :

1.  Perbesar terlebih dahulu Celah (Retak) Plesteran disekeliling Kusen Kayu pada Gambar 1 diatas, dengan menggunakan Pahat Batu. Dengan ukuran Lebar dan Dalam kira-kira = 0,5cm sampai 1cm. Lalu bersihkan Sisa Debu pada lubang dengan menggunakan Kuas. Seperti Gambar 3 dibawah ini.

2.  Pasang Kertas Lem pada bagian tepi Kusen Kayu, untuk melindungi Cat Kusen tersebut pada saat Pemberian Sealant. Menjadi seperti Gambar 3 dibawah ini.

(Gambar 3. Celah Retak pada Dinding Luar rumah yang telah dilebarkan)

3.  Persiapkan Sealant yang akan digunakan untuk mengisi Celah Retak yang telah dipahat tersebut. Sealant ini harus memiliki karakteristik "dapat merekat erat pada Kayu sekaligus pada Plesteran, dan material Sealant tersebut harus bisa di-cat".
Bisa menggunakan Sikaflex-11C atau Sikaflex-Construction, seperti Gambar 4 dibawah ini. 

(Gambar 4. Contoh Sealant yang dapat Merekat pada Permukaan Kayu dan Plesteran)

4.  Aplikasi-kan Sealant tersebut dengan menggunakan bantuan Sealant-Gun pada semua Celah Retak yang telah dilebarkan tersebut, seperti Gambar 5 dibawah ini. 

(Gambar 5. Pemberian Sealant pada Celah Retak yang telah dilebarkan)

5.  Rapikan semua Sealant agar rata dengan permukaan Dinding, dengan menggunakan Kape (Sekrap). Seperti Gambar 6 dibawah ini.

(Gambar 6. Sealant telah dirapikan dengan Kape atau Sekrap)

6.  Setelah semua permukaan Sealant rapi, segera lepaskan semua Kertas Lem yang menempel pada Kusen Kayu tersebut, sebelum Sealant tersebut kering. Kertas Lem akan lebih mudah dilepas, jika Sealant masih dalam keadaan Basah atau Setengah Kering.

7.  Tunggu beberapa Jam hingga Sealant benar-benar kering. Lalu lakukan Pengecatan agar dinding tersebut kembali rapi seperti semula. Seperti Gambar 7 dan Gambar 8 dibawah ini.

(Gambar 7 dan Gambar 8)

8.  Selesai..

Demikian tulisan kali ini.. Semoga bermanfaat.. Apa yang menyebabkan terjadinya Retak pada Pertemuan Kusen Kayu dan Plesteran..? Bisa dilihat DISINI..


Advertisement




Komentar :
Ada 4 Data yang perlu diketahui untuk dapat melakukan Perhitungan jumlah Batu bata pada sebuah Rumah, yaitu:

1.  Harus diketahui Gambar Denah Lantai dan Denah Kusen Rumah tersebut, yang menyajikan data Ukuran semua ruangan dan Jumlah Kusen Pintu dan Jendela. Seperti terlihat pada Gambar 1 dibawah ini.

(Gambar 1)

2.  Harus diketahui Ukuran Kusen Pintu dan Jendela yang akan dipasang semua Dinding Rumah tersebut, seperti terlihat pada Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2)

3.  Harus diketahui Tinggi Batu NOL BANGUNAN, seperti terlihat pada Contoh Gambar 3 dibawah ini.
Pada Gambar 3 dibawah ini terlihat bahwa Tinggi Rencana Lantai Rumah dari Muka Jalan adalah = 65 cm, sedangkan Tinggi bagian Atas Permukaan Sloof dari Muka Jalan adalah = 20 cm, sehingga perlu dilakukan pemasangan Batu Nol Bangunan = 45 cm.

Pemasangan Batu Nol Bangunan tidak harus selalu ada pada Pembangunan sebuah Rumah. Hal ini tergantung pada Ketinggian Muka Tanah Rumah tersebut dari Muka Jalan, dan Jenis dan Ukuran Pondasi Menerus yang diterapkan pada pembangunan Rumah tersebut.

(Gambar 3: Tampak Samping,Tinggi Batu Nol = 45 cm)

4.  Harus diketahui Tinggi Bata (Tinggi Pasangan Bata Dinding Rumah), seperti terlihat pada Gambar 4 dibawah ini. Tinggi Bata = 380 cm.

(Gambar 4: Tampak Samping, Tinggi Dinding Bata = 380 cm)

Setelah ke-4 Data diatas kita ketahui, selanjutnya kita dapat Menghitung Kebutuhan Jumlah Batubata untuk dipasang sebagai Dinding pada Rumah tersebut.


Perhitungan Jumlah Batubata:

A.  Lakukan Perhitungan Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = A (meter-persegi) 

1.  Panjang semua Dinding yang akan dipasang Batubata = L (meter)
L  =  Lvertikal + LhorizontalL  =  (7,5 + 1,5 + 7,5 + 7) + (6 + 1,9 + 1,9 + 6)
L  =  23,5 + 15,8
L  =  39,3 meter.


2.  Luas Pasangan Batubata untuk Nol Bangunan = A1 (meter-persegi)
A1  =  L x Tinggi (Pasangan Batu Nol)
A1  =  39,3 x 0,45
A1  =  17,685 m2 


3.  Luas Dinding Bata, termasuk Kolom Praktis dan Area Kusen Pintu dan Jendela = A2 (meter-persegi)
A2  =  L x Tinggi (Pasangan Batu Dinding Rumah)
A2  =  39,3 x 3,8
A2  =  149,34 m2 


4.  Luas Area Pintu dan Jendela yang tidak dipasang Batubata = A3 (meter-persegi)
Luas Area Pintu tipe P1 = 1 x 2,6 x 1 unit = 2,6 m2
Luas Area Pintu tipe P2 = 0,9 x 2,6 x 3 unit = 7,02 m2
Luas Area Pintu tipe P3 = 0,7 x 2 x 1 unit = 1,4 m2
Luas Area Jendela tipe J1 = 1,15 x 1,3 x 3 unit = 4,485 m2
Luas Area Jendela tipe J2 = 1,15 x 1,1 x 1 unit = 1,265 m2  
A3  =  2,6 + 7,02 + 1,4 + 4,485 + 1,265
A3  =  16,77 m2

5.  Luas Area Kolom Praktis pada Perhitungan ini diasumsikan = 0, karena nilainya kecil.

6.  Luas Dinding yang akan dipasang Batubata = A (meter-persegi)
A  =  A1 + A2 - A3
A  =  17,685 + 149,34 - 16,77
A  =  150,255 m2

B.  Lakukan Perhitungan Jumlah Batubata = n (buah)

n  =  A x K 

Keterangan:
K adalah Koefisien, yaitu Jumlah Batubata yang dibutuhkan untuk memasang dinding seluas 1 meter-persegi.
Nilainya bisa bervariasi, tergantung dari ukuran Dimensi Batubata tersebut. Untuk mengetahui Nilai K ini, bisa dilihat pada tulisan saya sebelumnya DISINI, "Cara Menghitung Kebutuhan Jumlah Batubata Per-Meter Persegi".

Lanjutkan Perhitungan.., misalnya diketahui nilai K = 67 buah/m2
Maka, n  =  150,255 x 67 = 10.067 buah

Contoh Perhitungan selesai.. Untuk menghitung jumlah Semen dan Pasir yang dibutuhkan bisa dilihat DISINI.. Semoga tulisan ini berguna..


Advertisement




Komentar :
Menurut SNI 03-3976-1995, Agregat halus adalah Pasir Alam sebagai hasil desintegrasi secara alami dari batu, atau Pasir yang dihasilkan oleh Industri pemecah batu dan mempunyai Ukuran Butiran terbesar 5,0 mm.

Menurut standard SK SNI S-04-1998-F,1989, Agregat Halus untuk Bahan Bangunan (kecuali Agregat Khusus, misalnya Agregat Ringan dan sebagainya) sebaiknya dipilih yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1.  Butir-butirnya tajam dan keras dengan Indeks Kekerasan ≤ 2,2.
2.  Kekal, tidak pecah atau hancur oleh pengaruh Cuaca (terik Matahari dan Hujan). Jika diuji dengan larutan Garam Natrium Sulfat bagian yang hancur maksimum 12%, dan jika diuji dengan Garam Magnesium Sulfat bagian yang hancur maksimum 10%.
3.  Tidak mengandung Lumpur lebih dari 5%, jika kandungan Lumpur pasir melebihi 5% maka pasir harus dicuci.
4.  Tidak mengandung Zat Organik yang terlalu banyak, yang dibuktikan dengan Percobaan Warna dengan menggunakan larutan NaOH 3%. Warna cairan diatas endapan pasir tidak boleh lebih gelap dari warna standar pembanding.
5.  Distribusi ukuran butiran pasir mempunyai Modulus Kehalusan antara 1,5 sampai 3,8 dengan variasi butiran sesuai Standar Gradasi pasir.
6.  Untuk beton dengan tingkat keawetan tinggi, Agregat Halus tidak boleh reaktif terhadap Alkali.
7.  Agregat Halus dari laut/pantai, penggunaannya harus dengan petunjuk lembaga pemeriksaan bahan-bahan yang diakui.

Pada Persyaratan Nomor 3 diatas jelas disebutkan bahwa Pasir yang baik untuk Bahan Bangunan adalah Pasir yang memiliki Kadar Lumpur dibawah 5 %, dan jika kandungan Lumpur pasir melebihi 5% maka Pasir tersebut harus dicuci sebelum digunakan sebagai Bahan Bangunan.

Oleh sebab itu sebelum Material Pasir digunakan sebagai Bahan Bangunan, sebaiknya Pasir tersebut diuji terlebih dahulu untuk mengetahui persentase Kadar Lumpur yang terkandung didalamnya.

Cara Menguji Kadar Lumpur pada Pasir ada 2, yaitu :

1.  Pengujian berdasarkan Volume, caranya adalah:

a.  Sediakan Pasir sebanyak kira-kira 250 ml, lalu masukkan ke dalam Gelas Ukur kapasitas 500 ml.

(Gambar 1: Pasir dan Gelas Ukur kapasitas 500 ml)

b.  Masukkan Air Bersih ke dalam Gelas Ukur yang telah berisi Pasir tersebut, kira-kira sampai hampir penuh.
c.  Lakukan pengadukan, dengan cara menutup Mulut Gelas Ukur dengan rapat, lalu bolak-balik Gelas Ukur tersebut berulang-ulang. Lakukan pengadukan selama mungkin agar semua Lumpur benar-benar terpisah dari semua Butiran Pasir.
d.  Setelah selesai diaduk, letakkan Gelas Ukur tersebut di tempat yang aman, dan biarkan selama 24 jam.
e.  Lalu lakukan Pengukuran nilai A dan B dengan menggunakan Penggaris, seperti Gambar 2 dibawah ini.

(Gambar 2: Pengukuran nilai A dan B)

f.  Setelah nilai A dan B diketahui, maka Nilai Persentase Kadar Lumpur pada Pasir tersebut dapat dihitung dengan Rumus dibawah ini :
Kadar Lumpur (%)  =  (A - B) / A x 100
g.  Contoh:
Jika dari hasil Pengukuran diperoleh nilai A = 5,6 cm, dan nilai B = 5,4 cm, maka:
Kadar Lumpur (%) = (5,6 - 5,4) / 5,6 x 100
Kadar Lumpur (%) = 0,2 / 5,6 x 100
Kadar Lumpur (%) = 0,0357 x 100
Kadar Lumpur (%) = 3,57

h.
  Nilai Kadar Lumpur = 3,57 % ini lebih kecil dari standard SK SNI S-04-1998-F,1989 yaitu dibawah 5 %, artinya Pasir yang diuji tersebut "layak" untuk langsung digunakan sebagai Material Bangunan, tanpa harus dicuci terlebih dahulu.

2.  Pengujian berdasarkan Berat, caranya adalah:

a.  Sediakan Pasir dan timbang sebanyak kira-kira 1000 gram. Lalu masukkan Pasir tersebut ke dalam Oven Pengering, dan keringkan pada temperatur 100 'C (100 derajat Celcius) selama 24 jam. Tujuannya adalah menghilangkan Kadar Air yang berada pada Pasir tersebut.

(Gambar 3: Pasir dan Oven Pengering)

b.  Setelah 24 jam dan Pasir telah benar-benar kering (kadar air-nya = 0), timbang Pasir tersebut. Berat Pasir kering ini = A (gram). Pasir ini kondisinya masih mengandung Lumpur.

(Gambar 4: Timbangan Digital)

c.  Setelah nilai A diproleh, lalu cuci bersih Pasir tersebut, sampai semua Lumpurnya hilang.
d.  Setelah semua Lumpurnya hilang, masukkan kembali Pasir tersebut ke dalam Oven Pengering, dan keringkan pada temperatur 100 'C (100 derajat Celcius) selama 24 jam juga.
e.  Setelah 24 jam  dan Pasir telah benar-benar kering (kadar air-nya = 0), timbang Pasir tersebut. Berat Pasir kering ini = B (gram). Pasir ini kondisinya telah bersih dari Lumpur.
f.  Setelah nilai B diproleh, maka Nilai Persentase Kadar Lumpur pada Pasir tersebut dapat dihitung dengan Rumus dibawah ini :
Kadar Lumpur (%)  =  (A - B) / A x 100


Advertisement




Komentar :
Seperti yang telah saya tulis pada Artikel sebelumnya "Cara Disain Atap bentuk Limasan pada sebuah Rumah", Atap Limasan terkadang disebut juga Atap Limas, Atap Perisai, atau Atap Rabung Lima (5), karena pada Atap Jenis ini terdapat 5 baris Rabung diatasnya.

Sebelum melakukan Pembelian produk Genteng Metal, sebaiknya kita menghitung dulu berapa Kebutuhan nya. Sehingga kegiatan Pembelian Genteng Metal menjadi tidak berulang-ulang (jika jumlah Genteng yang dibeli "kurang"), dan tidak terjadi Pemborosan (jika jumlah Genteng yang dibeli "berlebih").  

Contoh Perhitungan :

Dari Gambar Rencana Atap dan Gambar Lembaran Genteng Metal dibawah ini, kita akan menentukan berapa Lembar Genteng Metal yang harus disediakan untuk dipasang seperti Gambar Rencana Atap tersebut.

A.  Gambar Rencana Atap

(Gambar 1: Denah Lantai dan Denah Atap)

(Gambar 2: Detail Ukuran Denah Atap dan Gambar Perspektif Atap)

(Gambar 3: Sudut Kemiringan Atap Tampak Depan dan Atap Tampak Samping)

B.  Gambar Lembaran Genteng Metal (yang akan digunakan)

(Gambar 4: Genteng Metal, satuan Lembar atau Keping)

Gambar Ulang dan Perhitungan :

1.  Berdasarkan Gambar 2 (Denah Atap) dan Gambar 3 (Sudut Kemiringan Atap) diatas, Gambar Ulang bidang A, B, C, dan D jika dibuat dalam posisi Horizontal (datar). Gambarnya menjadi seperti dibawah ini.


2.  Jika Gambar diatas disederhanankan lagi, hasilnya menjadi seperti Gambar dibawah ini. Didapat bentuk bidang A dan bentuk bidang C, beserta ukurannya. Bidang A = bidang B, dan bidang C = bidang D.


3.  Aplikasi-kan Lembaran Genteng Metal yang akan digunakan pada bidang A, dengan cara membuat Gambar Rencana Susunan lembaran Genteng Metal se-efisien mungkin. Seperti Gambar dibawah ini.

Catatan: Bagian yang diarsir warna Hijau adalah bagian yang tidak terpakai (dibuang atau disimpan).

(Gambar Rencana Susunan Lembaran Genteng Metal pada bidang A dan B)

4.  Hitung Jumlah Lembaran Genteng Metal yang terpasang pada bidang A diatas, didapat bidang A butuh Genteng = 34,5 lembar. Karena bidang A = B, maka bidang B = 34,5 lembar juga.

5.  Aplikasi-kan Lembaran Genteng Metal yang akan digunakan pada bidang C, dengan cara membuat Gambar Rencana Susunan lembaran Genteng Metal se-efisien mungkin. Seperti Gambar dibawah ini.

Catatan: Bagian yang diarsir warna Hijau adalah bagian yang tidak terpakai (dibuang atau disimpan).

(Gambar Rencana Susunan Lembaran Genteng Metal pada bidang C dan D)

6.  Hitung Jumlah Lembaran Genteng Metal yang terpasang pada bidang C diatas, didapat bidang C butuh Genteng = 53 lembar. Karena bidang C = D, maka bidang D = 53 lembar juga.

7.  Jumlahkan (rekap) semua Kebutuhan Genteng Metal untuk bidang A, B, C, dan D.
a.  Bidang A = 34,5 lembar,
b.  Bidang B = 34,5 lembar,
c.  Bidang C = 53 lembar,
d.  Bidang D = 53 lembar.
Jumlahnya = 175 lembar.

8.  Jadi, Genteng Metal yang diperlukan untuk Pemasangan Atap dari Gambar Denah Lantai rumah diatas adalah = 175 lembar, (jika menggunakan Genteng Metal seperti Gambar 4 diatas).



Advertisement




Komentar :
Produk Aluminium Composit Panel (ACP) yang dijual oleh Vendor biasanya berupa Lembaran, seperti tampak pada Gambar dibawah ini. ACP ini terdiri dari beberapa lapisan Bahan (material) yang berbeda-beda yang kemudian disatukan menjadi sebuah Lembaran. 

ACP memiliki variasi Warna dan Ukuran yang berbeda-beda. Ukuran Lembaran ACP standard adalah, Panjang = 244 cm, dan Lebar = 122 cm. Untuk ketersedian Ukuran lainnya dan Warna, silahkan ditanyakan langsung pada Vendor-nya masing-masing.


ACP harus dipasang pada Konstruksi Rangka Dudukan yang benar-benar kuat dan kokoh, yang dapat menahan berat sendiri Rangka Dudukan tersebut, berat ACP setelah terpasang, dan tahan terhadap kondisi Angin, Suhu, Cuaca dan sebagainya, dalam Jangka Waktu yang lama.

Sebelum Lembaran ACP diatas dipasang pada Konstruksi Rangka Dudukan-nya, Lembaran ACP tersebut harus dibentuk (difabrikasi) terlebih dahulu seperti gambar dibawah ini.


Peralatan dan Material yang diperlukan untuk Fabrikasi ACP :

1.  Lembaran Alumanium Composit Panel (ACP) yang akan difabrikasi.
2.  Meja Kerja
yang Rata dan Permukaan-nya dan tidak kasar, sehingga Lembaran ACP tidak tergores atau rusak pada saat diletakkan pada Meja tersebut (pada saat proses fabrikasi).
3.  Spidol.
4.  Alat Ukur (Meteran).
5.  Penggaris.
6.  Mesin Potong dan Mata Pisau Potong untuk Alumanium Composit Panel. Seperti Gambar dibawah ini.


7.  Mesin Router dan Mata Pisau Router untuk Alumanium Composit Panel, ukuran mata pisau adalah 90 derjat. Seperti Gambar dibawah ini.



8.  Gunting Plat Alumanium, untuk memotong bagian-bagian yang kecil pada Lembaran ACP.



9.  Mesin Bor dan Mata Bor Logam. Ukuran Diameter Mata Bor disesuaikan dengan Ukuran Diameter Kepala Paku Rivert yang akan digunakan. Seperti Gambar dibawah ini.


10.  Tang Rivert dan Paku Rivert. Sepeerti Gambar dibawah ini.


11.  Siku Alumanium, seperti Gambar dibawah ini. Nantinya akan dibuat menjadi Bracket.





Advertisement




Komentar :
Dynabolt adalah Baut Angker (Anchor) yang dapat menyatukan 2 Komponen yang berbeda pada suatu Bangunan (secara langsung atau tidak langsung).

Penyatuan ini mengandalkan Kekuatan Ikatan Mekanis Baut tersebut terhadap suatu Produk (seperti Bracket, Besi, dll) pada Media Pemasangannya (seperti Dinding Bata yang telah diplester atau Beton).

Contoh aplikasi pemasangan Dynabolt di Lapangan :

1.  Pemasangan Tangga Besi dan Reiling Tangga Besi.


2.  Pemasangan Rangka Kanopi yang terbuat dari Besi.


3.  Pemasangan Clamb atau Bracket, untuk Gantungan suatu Produk.


4.  dan lain-lain.

Peralatan yang dibutuhkan untuk Memasang Dynabolt pada Beton atau Dinding Bata:

1.  Pensil.
2.  Palu (Martil) dan Paku.
3.  Mesin Bor, sebaiknya menggunakan Mesin Bor yang ada fasilitas Hammer-nya.
4.  Mata Bor Beton yang Ukuran-nya disesuaikan dengan Diameter Dynabolt yang hendak dipasang.
5.  Alat Pembersih Lubang dari Media yang telah di-bor.
6.  Kunci Ring Pas, atau Kunci Pas, atau Kunci Inggris.

Tahapan Pemasangan Dynabolt bisa dilihat dibawah ini :

1.  Tandai (Marking) posisi Beton atau Dinding Bata yang hendak dilubangi dan dipasang Dynabolt dengan Pensil. Lalu lubangi secukupnya dengan menggunakan Paku dan Martil, agar proses pengeboran menjadi lebih mudah dan mata bor tidak bergeser (tetap akurat pada saat Pengeboran).


2.  Pilih Mata Bor Beton sesuai dengan Diameter Dynabolt yang akan digunakan, seperti Gambar dibawah ini. Lalu pasang Mata Bor Beton tersebut pada Mesin Bor.


3.  Pasang Alat Pengukur Kedalaman pengeboran (yang biasanya telah disediakan dalam Paket Pembelian Mesin Bor), pada Mesin Bor tersebut. Atur posisi Alat Pengukur tersebut, agar Dalam Pengeboran nantinya sesuai dengan Panjang Dynabolt yang hendak dipasang. Sebaiknya lebihkan kedalamannya Pengeboran kira-kira 0,5 cm sampai 1 cm.


4.  Jika Alat Pengukur Kedalaman pengeboran tidak tersedia (mungkin hilang atau rusak). Anda dapat memberi Tanda pada Mata Bor tersebut, sesuai dengan Panjang Dynabolt yang akan digunakan. Agar Kedalaman pengeboran bisa terukur pada saat Proses Pengeboran nanti. Tanda ini bisa menggunakan Isolasi atau Spidol.

5.  Lakukan Pengeboran pada Beton atau Dinding Bata, dengan cara menempelkan Mata Bor Beton pada Dinding yang telah dipaku sebelumnya. Lakukan dan gentle, tidak terburu-buru, serta tetap menjaga Posisi Mesin Bor agar senantiasa Tegak Lurus terhadap Beton atau Dinding Bata tersebut.


6.  Setelah Pengeboran selesai, bersihkan Debu yang tertinggal pada bagian dalam Lubang. Bisa menggunakan alat Pembersih seperti Gambar dibawah, bisa juga juga menggunakan Mesin Penyedot Debu (Vacuum Cleaner).


7.  Masukkan Dynabolt pada Lubang tersebut. Bisa menggunakan Palu (Martil). Pada saat memasukkan ini, sebaiknya Mur Dynabolt biarkan tetap dalam keadaan terpasang, agar Drat yang ada pada Dynabolt tidak rusak pada saat pemukulan oleh Palu. Lakukan dengan gentle, supaya tidak merusak Lubang yang ada dan Dynabolt itu sendiri.

8.  Setelah Dynabolt masuk kedalam Lubang, buka Mur yang ada pada pangkal Dynabolt, lalu masukkan Bracket atau Produk lain yang hendak "dikunci", lalu pasang kembali Mur tersebut. Seperti terlihat pada Gambar dibawah ini.


9.  Setelah Mur terpasang, lakukan "penguncian". Dengan cara memutar Mur tersebut (searah Jarum Jam), menggunakan Kunci Ring Pas (kunci Pas, atau Kunci Inggris), seperti Gambar (a) dibawah ini.

Mur yang berputar tersebut mengakibatkan Baut Dynabolt menjadi tertarik keluar, seperti Gambar (b) dibawah ini.

Baut yang tertarik keluar tersebut mengakibatkan Selongsong Silinder menjadi mengembang, sehingga menimbulkan "ikatan" antara Dynabolt tersebut dengan Beton atau Dinding Bata, seperti Gambar (c) dibawah ini. Semakin banyak Mur Dynabolt diputar, semakin banyak pula Baut Dynabolt yang tertarik keluar, sehingga Selongsong Silinder Dynabolt menjadi semakin mengembang, yang membuat ikatan jadi semakin kuat.


10.  Mur yang diputar (cukup kuat) ini, sekaligus menimbulkan 2 ikatan yang kuat, yaitu :
a.  Dynabolt mengikat kuat pada Beton atau Dinding Bata, karena Selongsong Silinder yang mengembang.
b.  Bracket mengikat kuat pada Beton atau Dinding Bata, karena Mur tersebut menekan dan menahan Bracket tersebut pada Beton atau Dinding Bata.

11.  Sehingga tujuan penggunaan Dynabolt bisa tercapai, yaitu menyatukan 2 Komponen yang berbeda. Seperti contoh Gambar dibawah ini.





Advertisement




Komentar :